Friends Over Flowers: Episode 1 Nani Pahini

by - 4:35:00 PM

Credit: Pinterest

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Ahlan wa sahlan 

Hadeeeh gaya gini pakai bahasa Arab segala 
Tak apalah ya supaya kita jadi semakin familiar dengan bahasa Al Qur'an Al Karim, iya ga' tuh?

Baiklah... sebelum memulai episode pertama kita, penulis ingin menjelaskan lagi secara singkat tentang post Friends Over Flower. Seperti yang pernah penulis kabarkan dalam prolog, post ini adalah tulisan yang memuat cerita tentang sahabat-sahabat shalihah. Mereka adalah insan-insan yang telah berperan menjadi kuas penoreh banyak warni dalam sanubari.

Selanjutnya, setiap post nantinya akan terbagi dalam episode-episode. Setiap episode In Sya Allah akan berisi seorang tokoh utama yang berbeda-beda. Nah, setiap tokoh ini kemunculannya akan penulis urutkan secara historis. Maksudnya, penulis akan menayangkan tokoh pertama hingga yang terakhir sesuai dengan urutan waktu.

Urutan waktu? Iyaaa... urutan waktu siapakah tokoh yang pertama kali menorehkan lukisan-lukisan indah dalam sanubari. Maka, inilah dia episode pertama kita dengan tokoh utama Nani Pahini yang menjadi kuas indah bermula di masa SMP penulis.



Nani Pahini
Aku tidak ingat bagaimana dan mulai kapan kami jadi 'cukup' akrab. Entah sejak kapan Nani rela membagi waktunya untuk berdiri bersamaku tepat di depan gang masuk rumahnya. Kami berdiri di sana berdua tepat untuk menunggu transportasi umum paling kece pada masa itu, angkot! 

Angkot menjadi moda transportasi umum yang paling aku gandrungi, ups lebih tepatnya tidak ada pilihan lain, untuk berkendara pulang pergi ke tempat les. Ketika SMP, nenekku begitu menekankan pentingnya bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris. Oleh karenanya, aku sang cucu dituntut untuk mendalami bahasa asing walau harus berkelana hingga ke negeri 'kecamatan' seberang. Hehehe...

Les di kecamatan yang berbeda membuatku bertemu dengan beragam anak dari sekolah-sekolah lain tak terkecuali Nani Pahini. Nani Pahini dulu kala adalah siswi SMP dengan postur tubuh yang tinggi (sekarang juga masih tinggi  ), tegap, dan pemalu (padahal aslinya huah Subhanallah - perut aku sakit terkocok kelakarmu).

Nani siswi SMP yang gemar mengepang rambut panjanya menjadi dua itu sedikit bicaranya. Bahkan ketika kami tiba-tiba berjalan berdua dari tempat les hingga tepat di depan gang masuk rumahnya, ia tidak banyak bercerita. Ini pun berlangsung walau ia telah menemaniku berhari-hari hingga hari-hari terakhir kami les bersama.

Ah, Nani... saat itu aku hanya menganggapnya sebagai potongan kecil episode kehidupan yang harus ku lalui. Aku bilang mungkin ia seperti cameo yang cukup numpang lewat sebentar dari layar televisiku. Aku tak pernah berharap atau bermimpi untuk bertemu atau bahkan berteman akrab dengan seorang Nani, biasa saja.

Sehingga, suatu ketika takdir Allah mempertemukan kami kembali sebagai teman satu sekolahan. Lebih dari itu, Nani dan diriku ditakdirkan berada dalam satu kelas yang sama, kelas X.4 (Sepuluh Empat).

Saat itu tak ada yang berbeda dari Nani, ia tetap tinggi, tegap, dan pemalu. Singkat cerita, aku dibuatnya terkejut ketika selesai MOS (Masa Orientasi Siswa) ia berubah 180 derajat. Kini ia berhijab seperti kakak-kakak Rohis (Rohani Islam). Aku terkaget-kaget melihat hijabnya sepinggang dan roknya yang panjang menutupi hingga pergelangan kakinya. Sejujurnya, aku kagum melihat dia berani berhijab. Saat itu aku pikir, "Bukankah kita masih muda? Kenapa tergesa-gesa?"

Aku lalui hari-hari di kelas X bersamanya, pasang surut pertemanan kami lalui hingga suatu hari ia benar-benar menjaga jarak. Ia lebih memilih duduk di sebelah Selatan kelas dari pada bersama kami (Aku dan dua teman lainnya).

Tetapi di kemudian hari Allah kembali mendekatkan Nani dan aku. Di sinilah kisah lain itu mulai bermula, ia kemudian gemar mengajakku berkunjung ke satu kelas kakak kelas berjilbab lebar. Aku yang kala itu tak pernah punya memori berkawan dengan perempuan-perempuan berjilbab lebar sempat gugup tak karuan, "Memang mereka mau berteman dengan yang tidak berjilbab?", pikirku. Namun, betapa terkejutnya aku bahwa apa yang aku pikirkan berbanding terbalik. Kakak berjilbab lebar itu aneh. "Kenapa kakak ini seru sekali, bahkan ia punya banyak ilmu." Aku seorang Esy Andriyani selalu terpukau dengan orang-orang yang banyak ilmunya.

Hari demi hari aku menemani Nani nge-gaul di kelas kakak berjilbab lebar itu hingga akhirnya satu, dua, tiga, dan terus bertambah kakak-kakak berjilbab lebar lainnya yang aku kenal. Aku sungguh semakin terpesona dan tertambat dengan mereka. Aku merasa ada magnet yang begitu kuat membuatku terjerat dan terpikat. Aku kemudian terus berpikir, "Ada apa dengan mereka? Kenapa? Siapa? Apakah?"

Lalu, singkat cerita entah bagaimana dan dari mana muncullah suatu niat dalam hati. Aku sempat mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi yang harus dihadapi. Bahkan bayang-bayang cibiran dari banyak orang mebenak selalu. Tetapi ajaibnya hati ini rasanya tak tergoyahkan lagi. Ia telah begitu tergoda untuk segera memulai lembaran baru dalam episode kehidupan. Hingga akhirnya akupun berhijab di  semester keduaku di kelas X!

Hari pertamaku berhijab penuh dengan kegugupan sekaligus kegempitaan sekaligus kegemparan dalam sanubari. Tetapi niat sudah bulat dan tak ada kata mundur lagi, berangkat Bismillah... 

"Ini Esy tah, eh ini beneran Esy tah...?", sapa seorang kakak kelas di balik pintu gerbang sekolah. Selanjutnya, beberapa cibiran mulai menyeruak. Namun sayangnya, rahmat Allah itu lebih luas. Aku disambut dengan menggempita oleh kakak-kakak berjilbab lebar dan tim Rohis SMA. Mereka melihatku dengan sunggingan senyum di bibir bak di tarik 5 cm ke kanan dan 5 cm ke kiri. Lebih dari itu, tak sedikit dari kakak-kakak berjilbab lebar yang memeluk dengan hangat bagai keluarga yang baru saja kembali menemukan sanak saudaranya yang hilang diterpa bencana.

Masya Allah...
Alhamdulillahi ladzi bini'matihi thathimush shalihat...

"Maka nikmat Rabb mu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. Ar Rahman [55])

Kalian tahu? Setelah itu Allah terus menghujaniku dengan gempita yang bertubi-tubi. Hatiku semakin buncah bergaul dengan mereka.

Semakin hari semakin legit ku rasa kasih sayang yang mereka biaskan. Aku heran, "Kenapa tak kunjung ku temui rasa sepah sebagaimana tebu yang habis manis sepah dibuang?"

Nani Pahini sang aktor utama dalam hjrah pertamaku itu bagai salah satu hadiah teristimewa dari Allah.

 Dear Nan..
Jazakillah khair, Nan...
Kamu telah mau menjadi wasilah dari Allah agar membuatku mencintai Allah 

Oh kawan, andaikan seluruh dunia dan insan tahu bahwa tak ada yang lebih indah dan paripurna bagi sanubari selain menambatkan cinta hanya pada Ilahi. Ya Rabb betapa Maha Pemurahnya Engkau yang telah mengirimkan seorang Nani sebagai perantara agar aku mencintai-Mu.

Credit: Pinterest

Sementara itu, Nani...
Nani, kamu lebih dari sekadar sahabat unutkku. Kamu tahu? Ada banyak orang yang bilang kalau kita itu seperti saudara kembar. Lalu apakah kamu juga tahu? Aku di sini di dalam hati ini begitu bahagia mendengarnya karena aku diserupakan dengan kamu yang semoga Allah senantiasa menjagamu dalam kebaikan, aamiin...

Semoga Allah mempertemukan kita kembali di Firdaus-Nya ya, Pipit Kecil Penggembala Rindu, aamiin



Ukhibukifillah, Nan...   

You May Also Like

0 comments