Kembali pada Ampunan Rabb-mu

by - 7:53:00 AM

Credit: WallpapersWide
"Duhai hati yang lalai..."

Kalimat yang telah penulis ketik sebelum ini begitu dalam sekali terasa. Betapa tidak, penulis ini hanya seorang hamba yang banyak sekali melalaikan dzikir kepada Allah. Padahal hati yang lalai itu jauh dari kenikmatan iman dan sibghagh Allah. 


Karunia mana lagi yang lebih nikmat bagi seorang muslim, kecuali iman? Bukankah ketika iman terkoyak dari kalbu hidupmu jadi tak tentu arah? Kau gamang siapa Rabb-mu? Kau bimbang bagaimana meniti jalan kehidupanmu? Lantas, hampir-hampir saja kau goyah bagaimana mengokohkan pijakanmu?


Sementara, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa kita tidak akan mampu mencicipi lezatnya surga di langit nanti jika dan hanya jika kita belum tau rasa nikmat surga dunia. Apa surga dunia itu? Ialah iman. 


Namun demikian, iman itu naik dan turun. Ketika semangat menggebu, segala amal kebaikan rasanya bagai permen kapas yang begitu manis dan tak perlulah dikunyah dengan tenaga dalam. Tetapi, ketika titik puncak itu telah habis dan terlewati, iman rasanya seperti kereta roller coaster yang menukik menuju rel yang lebih rendah. Ada kereta yang begitu cepat menukik, ada pula yang sedikit demi sedikit.


"Duhai hati yang lalai..."


Padahal risalah kenabian telah jelas menjabarkan, iman itu akan naik ketika kita senantiasa banyak mengingat Allah dan beramal shalih. Sementara, iman akan turun apabila kita lakukan yang sebaliknya.


Maka tak pelak kita dilanda petaka yang paling menyesakkan dada. Sebagian kita tak jarang kemudian terjerembab dalam dosa. Bisa jadi dosa yang kecil atau bahkan dosa yang besar. Mungkin ada dari kita yang bersegera untuk menyadarkan diri agar lekas insaf. Namun, sebagian yang lain begitu asyik-masyuk dalam dosanya. Terus saja ia perdalam kenikmatannya berbuat dosa. Hingga sesaat kemudian jika bukan karena rahmat Allah mungkin ia akan terus menerus melakukan dosanya. Dan ketika kita tersadar... betapa telah meruginya diri ini mengkhianati janji kita pada Allah, janji untuk senantiasa beribadah pada-Nya. 


Rasa penyesalan tentu saja seketika menyeruak dalam dada. Kita menghakimi diri sendiri. Kenapa, kenapa, dan kenapa kita mau mengikuti was-was setan terlebih lagi syahwat kita? Bukankah janji Allah itu lebih legit?


Lantas, tak jarang dari kita yang mungkin merasa berputus asa karena berdosa. "Apakah seorang sepertiku dengan dosa seluas samudera sepenuh isi bumi ini masih pantas menharap ampunan Allah?" Berbagai solilokui menghantui. "Mungkinkah orang sepertiku yang begini dan begitu..." serta kemungkinan ke-putus-asa-an yang lain.



Credit: WallpapersWide

Tetapi ingatlah kawan, Allah itu Maha Pengampun dan Penyayang. Setidaknya mari kita ingat firman Allah yang satu ini:

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."  (Q.S. Az Zumar [39]: 53) 


Ibnu Katsir mengatakan, ”Ayat yang mulia ini berisi seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat baik kekafiran dan lainnya untuk segera bertaubat kepada Allah. Ayat ini mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang ingin bertaubat dari dosa-dosa tersebut, walaupun dosa tersebut amat banyak, bagai buih di lautan." 


Lalu, bagaimana dengan hadis yang satu ini?


Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi no. 3540. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Bahkan, bukankah Allah lebih menyayangi kita dari ibu kandung kita sendiri? Maka, siapakah yang lebih menyayangi dan ringan ampunannya selain Dia, Rabb Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang? Oleh karena itu tak perlulah putus arang sebab ampunan Allah begitu lapang.


Sungguh bertaubat itu meringankan beban dan mengahapus titik noda hitam di hati. Sedangkan, dosa hanya membuat hati dan hari-hari menajdi kelabu.


Credit: WallpapersWide
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.

Marilah duhai hati yang lalai kembalilah pada Rabb-mu yang Maha Pegasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun...



Referensi:
Tuasikal, Muhammad Abduh. (2015). Maksiat Menggelapkan Hati. Diakses pada 4 Agustus, 2016, dari https://rumaysho.com/1257-maksiat-menggelapkan-hati.html.

Tuasikal, Muhammad Abduh. (2010). Melebur Dosa dengan Taubat. Diakses pada 4 Agustus, 2016, dari https://rumaysho.com/1083-melebur-dosa-dengan-taubat-yang-tulus.html

You May Also Like

0 comments