Bagaimana Menjadi Istiqamah?

by - 2:14:00 PM


Penulis pernah mendengar sebuah nasehat menarik dari sorang syaikh yang kala itu memberikan kajian akbar di Masjid Istiqlal, Jakarta. Sang syaikh yang penulis maksud ini adalah Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr. Sayikh menasehatkan bahwa karamah terbesar dari seorang Wali Allah tidak lain kecuali Istiqamah. Setelah penulis mendengar nasehat ini segera saja mengangguk dan memberikan kesepakatan penuh akan nasehat tersebut.

Bagaimana tidak? Bukankah kita sebagai seorang hamba sangat butuh untuk terus istiqamah? Tidakkah kalian merasa demikian? Istiqamah ini yang mengantarkan kita untuk benar-benar menggapai amal shalih hingga diujung maut menjemput. Jika saja Allah tidak menghendaki istiqamah mengendap dalam sanubari, maka setiap amalan yang kita lakukan hanya akan berjalan sekadarnya saja, sebentar saja, dan singkat lan pendek.

Penulis merasa tidak mudah dalam menggapai kemampuan ini. Allah saja yang mampu dan berkuasa menyemai benih-benih istiqamah dalam setiap sanubari. Sehingga, semoga Allah menjadikan penulis dan pembaca tersayang sekalian termasuk hamba-hamba yang istiqamah, aamiin.

Istiqamah menurut penulis tidak hanya berlaku dalam hal amal-amal demi persiapan pulang ke kampung akhirat. Istiqamah untuk melakukan hal-hal baik yang sifatnya mubah dalam hal urusan dunia pun kudu dan wajib dijalani dengan istiqamah. Dengan demikian, setiap target, tujuan, rencana, atau apapun yang semacam itu dapat diraih dengan baik.

Tetapi pertanyaannya adalah bagaimana menjadi istiqamah? Penulis sebagai seorang penuntut ilmu sebenarnya masih harus banyak belajar. Namun, penulis berharap pendapat dan sedikit selipan hikmah dari seorang kawan berikut ini akan bermanfaat. 

Seorang kawan di balik telepon nirkabel sedang menjelaskan tips-tips dalam terjun ke dunia bisnis pada suatu hari. Penulis mendengarnya dengan seksama dan hati-hati karena ini termasuk pelajaran berharga dari seorang manusia yang menurut penulis telah lebih banyak makan asam garam dunia bsinis. Dari setiap kalimat yang ia curahkan dari balaik telepon itu, penulis simpulkan bahwa bagaimana kita bisa terus-berkelanjutan dalam bisnis itu bergantung pada niat

Setelah penulis hadir pada kesimpulan itu rasanya kembali tersadar dan mendesak diri untuk perlu menggali kembali pelajaran dasar dalam hidup ini. Ingatlah bagaimana hadits pertama dalam Hadits Arba'in An Nawawi yang diriwayatkan oleh Umar. Dari hadits tersebut tidakkah kita belajar bahwa kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan. Orang yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka mereka tidak akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik kecuali Allah dan Rasul-Nya. Sementara orang yang berhijrah karena sekadar ingin menikahi wanita, maka itulah yang ia dapat dan tidak lebih.

Setelah penulis mendegar kawan tadi menyelesaikan kalimatnya, penulis bergumam dalam hati, "Bukankah ini seharusnya bisa penulis gunakan sebagai prinsip dalam menajalankan istiqamah?"

Mengapa demikian?

Dari beliau ini penulis dengar bahwa bisnis yang terus menerus berkembang itu bergantung pada motivasi (niat) pemilik bisnisnya. Ketika sang pemilik bisnis memiliki motivasi yang luhur dan tidak terkecoh dengan keinginan-keinginan semu yang memperdaya, maka bisnis yang ia jalankan in sya Allah akan berjalan dengan terus-berkelanjutan. Ini bukan berarti setelah itu bisnis senantiasa ada di titik aman atau dengan kata lain tidak pernah merugi. Tapi, dengan niat atau motivasi yang luhur bisnis yang sejatinya penuh dengan tantangan dan resiko tidak akan pernah memukul mundur pemilik bisnis untuk bersegera hengkang dari usaha yang sedang digelutinya. Dengan niat yang luhur menyebabkan sang pemilik bisnis bersabar dalam setiap kesulitan yang menantang dan bersyukur dengan kemajuan yang datang.

Jadi, dari hikmah yang dipaparkannya penulis menarik sebuah poin yang berpengaruh besar dalam hidup ini, yaitu niat. Begitupula dalam meraih kemampuan agung semacam istiqamah. Demi mampu meraih keterampilan istiqamah maka dalam setiap beramal dibutuhkan niat yang lurus dan luhur. 

Bayangkan saja ilustrasi-ilustrasi yang mungkin sering sekali kita dengar dari para Ustadz: bagaimana mungkin kita bisa berharap keberlanjutan suatu amalan, misalnya Shalat Tahajjud, jika yang diharap sang hamba hanya pujian manusia. Ketika manusia yang diharapnya memuji malah mencaci, apakah tidak mungkin dia akan kapok melaksanakan Shalat Tahajjud? Ini berlaku bagi setiap amal dan setiap kegiatan.

Andaikan saja kita meniatkan segala sesuatunya bukan karena pujian manusia atau kembali dari mereka. Maka hati ini akan tentram dan tak pernah lelah menanti sesuatu yang semu. Dengan begitu, mari kita kembali menata ulang niat-niat kita dan semoga Allah memudahkan kita dalam meraih istiqamah sehingga kita benar-benar dijemput maut-Nya dengan mengucap La Ilaha Illallah!

You May Also Like

0 comments