Hatiku Rasanya Semrawut

by - 2:02:00 PM


Fajar mulai menyingsing, aku harus memulai rutinitas seperti emak-emak rumah tangga (baca: mencuci baju). Untaian selang mulai ku urai sedikit demi sedikit. Lantas, segera setelah itu aku tautkan ke mulut kran yang sudah siap mengucurkan air. Seusai menautkan keduanya, tentu tak lupa harus mempersiapkan ujung selang yang satunya lagi agar lancar jaya mentransfer air dari hulunya.

Kegiatan cuci mencuci pun rampung dan seperti biasa tugas rumah tangga yang lain selalu menanti dengan tak sabar untuk segera dituntaskan. Maka, aku berlanjut ke tugas masak-memasak. Aku mulai dengan menanak nasi terlebih dahulu. Aku menanak nasi setelah mencuci pakian karena listrik di kontrakan ini tak sudi mengemban beban yang melebihi limit yang sudah ditentukan dari empunya.

Selagi nasi masih dalam proses penanakan, kini saatnya beralih tugas untuk mempersiapkan sayur mayur yang ingin dimasak. Ayam, tempe, kacang panjang, dan segala rupa bumbu dapur siap! Singkat cerita dua kegiatan wajib emak-emak rumah tangga di kala ayam mulai berkokok sudah usai.

Tiba-tiba... hati ini rasanya tak karuan...

Entah, rasanya ingin sekali marah-marah,tapi buat apa? Memang setiap orang mengandung banyak masalah, tapi masa iya mau marah-marah? Sepagi ini? Hahaha...

Yasudahlah, aku biarkan hati ini dalam dunia rasanya sendiri sementara fisik ini harus terus bergerak membereskan apa yang bisa dibereskan. Eh, tapi... mau berberes pun rasanya bagai mendaki ke puncak Mount Everest.

Aghrrr! Sebal, sebal, sebal... bawaanya macam orang PMS yang fluktuasi emosinya tak sempat ditebak! Lelah degan hati sendiri, akhirnya aku duduk di atas kasur menyendiri dan mulai merenung juga ber-self talking ria ( di dalam hati). Setelah puas, aku putuskan untuk mandi dan meminta pertolongan pada Allah.

Kenapa ini kenapa...?

Usut punya usut, setelah ditelusuri dan disusuri lebih dalam ke dalam hati dan mereview histori dua hari ini #wedeee akhirnya ditemukan sumber masalahnya!

Eng ing eng, hoiya aku belum baca Al Qur'an, man!

Hah! Betapa aku begitu disibukkan dengan dunia, dunia dan dunia sehingga membuatku lalai akan Al Qur'an. Bersyukurnya, Allah beri hidayah dengan segera! Tepatnya lagi, Allah bukakan QS. Ar Ra'du padaku yang di dalamnya terdapat ayat yang menyatakan bahwa hanya dengan mengingat Allah, maka hati itu menjadi tentram.



Sungguh, sebagaimana nasehat Ibn. Qayyim Al Jauziyah bahwa hati manusia tidak akan pernah bisa mencampur adukan antara keimanan dan kemaksiatan seperti halnya percampuran air dan minyak yang tidak akan pernah terjadi. Ketika hati kita tidak pernah lalai dari Al Qur'an dan tidak menyisakan sedikit celah untuk bermaksiat,misalnya mendengarkan musik atau bernyanyi, percayalah janji Allah itu selalu benar! Dengan begitu, hati kita akan tentram dengan sebenar-benarnya tentram.

Alhamdulillahi ladzi bini'matihi thathimush shalihat...

You May Also Like

0 comments