Ukhibuki Fillah Moo

by - 2:46:00 PM


Aku tidak ingat hari apa tepatnya anak itu menyapaku dengan senyum sumringah. Aku yang bahagia akan sapaannya tanpa sadar hampir saja menabrak sebuah mobil yang parkir tepat di depan muka. Ia melambaikan tangan lalu segera saja mengingatkan aku supaya tentu saja tidak tertabrak mobil yang parkir itu.

"Awas kak hati-hati!", serunya mengingatkanku agar memperhatikan arah depan.

Lalu aku pun tidak pernah mencatat kapan kiranya kami mulai dekat dan bolehlah kalian katakan seperti teman yang sudah lama dekat. Hmm... atau jangan-jangan aku yang sok dekat atau dia yang piawai mendekati orang lain, entahlah. Pada intinya suatu saat ia duduk tepat di samping kiriku di dalam sebuah bis dengan bangku yang super empuk dan fasilitas super kece.

Anak itu duduk dengan manis tapi berkali-kali seolah ia bertautan dengan sebuah kamar berukuran kecil di ujung lorong bis dekat bangku paling belakang. Iyah, kamar itu toilet, hehehe... Anak satu itu rajin sekali meneguk air mineral yang kemudian tentu saja membuatnya ingin bertemankan toilet selalu.

Kesan pertama berperjalanan dengan gadis itu membuatku bahagia. Itu saja? Hmmm... itulah yang paling merajai setiap perasaan yang membuncah hari itu. Kenapa aku bahagia? Pertama, tentu saja karena aku setidaknya punya seorang kawan yang sedia menemani dalam perjalanan selama delapan jam lamanya itu. Kedua, aku bahagia karena dia angkatan muda yang membuatku merasakan semangat generasi muda yang menggelora. Ketiga, anak itu dermawan sekali, entah senyumnya, makanannya, canda tawanya, eh... iya... ya gitu... Lalu yang keempat, apa ya yang keempat? Keempat, aku bahagia sekali karena teman duduk di samping kiriku ini menikmati sekali waktunya bercengkarama dengan Al Qur'an. Masya Allah...

Sesampainya di kota tujuan kami berpisah untuk sementara. Kami menetap di dua tempat yang berbeda namun tidak terlalu jauh. Singkat cerita kami kembali membuat janji jumpa di sebuah perhelatan yang mempromosikan beraragam macam buku. Tapi, sebelum itu kami sempat meluncur jauh ke arah sebuah kampus yang terkenal dengan Bis Kuning mereka.


***

Hmmm... setelah semua perjumpaan itu aku rasa Rabb Yang Maha Memiliki hati-hati kami mempertautkan persaudaraan kami dengan erat. Akhirnya kami sering melempar salam via surel, lalu bertukar gambar, dan lagi lagi mencipta janji untuk berjumpa suatu hari nanti.

Anak itu atau lebih sering aku panggil dia Dek atau Dedek bagaikan hadiah lain dari Ar Rahman. Apakah kalian tahu? Ketika kita berpindah ke suatu tempat atau kota yang baru di mana di sana kalian belum mengenal seorang pun, maka memiliki seorang kawan baru yang baik hati akan membuat hari-hari kalian di kota asing itu menjadi lebih akrab.

Adik yang satu itu telah Allah jadikan kelopak lain dalam sanubari ini yang merekah dan mewangi. Di antara berbagai kelopak, dia menjadi kelopak termuda yang penuh gairah ketaatan. Dia menjadi kelopak yang tak sungkan menempa diri menjadi pribadi berarti. Dia menjadi kelopak yang bahkan menaungi kelopak lain yang mulai berkerut dan kering.



Semoga Allah yang tiada Rabb melainkan Dia menjadikan kamu senantiasa istiqamah ya adik shalihah... aamiin ...

Ukhibuki Fillah Moo fil Jannah Abadan Abada...   


You May Also Like

0 comments