Valentine? Nay!

by - 8:10:00 AM


Aku heran dengan rak-rak yang berjajar di depan tangga eskalator ini. Aku bertanya-tanya sejak kapan rak penjualan kotak kado itu berpindah tepat di depan tangga ini? Eits, tunggu dulu sepertinya perpindahan rak-rak ini ada maksudnya. Hei, bukankah ini bulan Februari dan wait wait tanggal berapa ini?

Oh yeah... tentu saja, kebanyakan muda-mudi mungkin juga opa oma di Indonesia dan tentu saja seluruh dunia sedang menanti datangnya Valentine's Day. Baiklah, aku berlepas diri dengan Valentine's day, hari yang mereka sebut-sebut sebagai hari kasih sayang.

Tema hari kasih sayang bisa dipastikan menjadi topik utama media massa menjelang datangnya tanggal 14 Februari. Sebuah portal berita nasional tak lekang pula dengan tema hari kasih sayang ini. Secara mengejutkan, salah satu poratal berita itu justru punya sudut pandang yang berbanding terbalik dengan kebanyakan media di luar sana.

Aku tadinya hanya ingin mencari berita terkini mengenai kondisi politik nasional atau sekadar membaca trend teknologi yang sedang berkembang. Di bagian halaman bawah dari portal berita tersebut justru mengajakku untuk kembali peduli dengan apa yang sedang terjadi. Yah, Valentine's day!

Aku pada gilirannya memutuskan untuk membaca satu judul berita atau artikel yang mengomentari hari ini. Tapi belumlah aku mulai membaca dengan serius, ponsel di dekat tangan kiriku ini terus bergetar dan berdering. Aku yang terlalu sibuk membalas chat seorang kawan tak sadar bahwa artikelku tadi sudah berlompatan ke judul yang lain.

Satu portal berita nasional itu memang punya ciri khas unik yang sering kali membuatku agak kesal. Portal itu seringkali membuatku salah fokus karena artikel yang sedang kubaca tiba-tiba sudah melayang ke artikel lain yang serupa bahkan tanpa aku klik atau aku perintah melalui suara. Tapi kali ini berbeda, aku justru begitu bersyukur portal ini masih melakukan hal yang sama hingga di tahun 2017 ini, hohoho...

Aku sendiri tidak tahu sudah berapa kali portal itu berlompatan menuju artikel lain yang serupa. Aku baca sebuah judul baru yang masih berkaitan dengan Valentine's day. Aku ketikan "Alt" dan "tanda panah ke kiri" pada papan ketik dan aku pun belum sampai juga ke artikel pertamaku. Aku harus bersyukur karena artikel yang lainnya lagi ini masih juga berkaitan dengan hari kasih sayang. Aku terus saja melakukan hal yang sama hingga akhirnya ku temukan kembali artikel pertama yang ingin aku baca.

Hei, dari semua artikel itu rasanya aku mendapatkan sudut pandang yang baru tentang sikap terhadap hari kasih sayang. Ada satu artikel yang aku baca selain artikel-artikel berlompatan itu. Artikelnya masih seputar Valentine namun dibahas dengan sudut pandang yang lebih agamis. Sang penulis menanggapi makin maraknya perayaan hari Valentine kemudian sedikit mengkritik pemerintah karena tidak peduli untuk melarang perayaan yang tidak bermanfaat itu.

Artikel agamis yang sedikit dibumbui kritik pada pemerintah itu terbit sekitar tahun 2016. Well, guess what fellas? Artikel berlompatan yang semuanya terbit di tahun ini menyajikan fakta membanggakan.

Aku yang ketika itu kembali memperhatikan layar laptop dan mendapati sebuah judul baru mulai sumringah. Aku tidak menyangka telah ada pemerintah di daerah yang melarang keras perayaan hari tak berguna itu. Aku baca artikel itu hingga titik terakhir lalu kembali melanjutkan perjalanan ke artikel pertama. Semakin aku mundur aku semakin sumringah karena bukan hanya satu atau dua pemerintah daerah yang melarang keras.

Kita sebut saja Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dinas Pendidikan Kota Malang, Pemerintah Kota Sukabumi, hingga Polres Ambon telah melarang terjadinya perayaan hari yang banyak menjerumuskan muda-mudi ke jurang seks bebas. Selain itu, majelis ulama di negeri tercinta Indonesia ini tentu tidak akan ketinggalan berkontribusi melakukan pelarangan.

Aku semakin bersyukur sebab setidaknya masih ada pemeritah-pemerintah yang peduli dan mendefiniskan instruksi presiden dengan begitu shalih. Semoga mereka menjadi pemerintah-pemerintah yang terhormat, mulia, dan diridhai Allah. Padahal kawan, instruksi Bapak Presiden aku nilai begitu general yang pada intinya Bapak Presiden menginginkan anak-anak didik harus dibangun integritas, karakter, dan budayanya.

Pelimpahan dan pembagian wewenang di Indonesia yang berjalan dengan sistem desentralisasi tentu mengharuskan peran daerah lebih aktif dalam menerjemahkan instruksi Presiden. Kita lihat beberapa pemerintah daerah sebagaimana yang telah disebutkan betapa mereka mendefinisikan instruksi Bapak Presiden dengan begitu mendalam.

Pemerintah yang ikut campur tangan untuk melarang perayaan Valentine's day tentu saja memberikan efek konformitas yang tinggi. Selain itu, pemerintah yang melarang ini tidaklah bermaskud membunuh hak warganya untuk saling mencintai dan mengasihi. Bukankah kita diajarkan bahwa kasih sayang itu mestinya berlangsung setiap hari dan tak pernah ada manfaatnya merayakan pada hari tertentu.

Hal ini terlebih lagi jika kita berstatus sebagai seorang muslim. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah jelas melarang kita untuk mengekor pada kaum-kaum yang kita tidak punya pengetahuan tentang mereka atau jika tidak maka kita akan termasuk ke dalam golongan mereka.

So... fellas come on wake up and leave the Valentine's day! Kalian mau gitu dikumpulkan Allah di akhirat kelak dengan orang-orang yang dimurkai Allah? Karena Allah tidak pernah mensyari'atkan perayaan semacam hari Valnetine ini. Maka dari itu kawan hayuk kita tingalkan perkara yang tidak bermanfaat ini dan kembali ke perkara-perkara yang lebih Allah cintai.

Semoga menginspirasi!

You May Also Like

0 comments