Ingin Berubah? Tapi Mulai Dari Mana?

by - 7:51:00 AM

Credit: The Faith.Com
Seorang adik tingkat menebar cerita mengejutkan. Kami tertegun dan terkaget karena ia bercerita tentang sesuatu yang sungguh tidak enak didengar. Seorang perempuan yang tengah dijangkiti penyakit. Penyakitnya tidak biasa karena Allah akan sedia menurunkan adzab bagi mereka yang melampaui batas dan terlenakan dengan penyakit satu ini. 

Belum tuntas cerita sang adik tingkat, Allah telah memanggil kami untuk menegakkan shalat Ashar. Kami kemudian bersegera untuk menunaikan shalat ke masjid sebuah sekolah. Usai shalat kami mulai merenung dan memutar otak karena sang adik tigkat meminta pertolongan. Ia terlihat begitu prihatin dan berkemauan untuk membantu kawannya agar segera lepas dari belenggu penyakit mengerikan itu. 

Mengerikan? Iyah, bukankah sudah penulis sebut bahwa Allah akan sedia mengadzab mereka yang terlena dengan penyakit itu? Karena penyakit itu tak bukan adalah penyakit yang mendatangkan adzab bagi kaum Nabi Luth alaihisallam. 

Hmmm... beberapa detik kami semua hening dan terdiam. Semua terlihat sedang mencari solusi termudah dan terpraktis sekaligus termanjur. Ada yang menyuarakan untuk membuat dia lebih dekat dulu dengan kawan-kawan yang shalih. Ada lagi yang menyarankan agar kawannya itu mendekatkan diri dengan Al Qur'an. Lantas, penulis sendiri lebih memilih shalat sebagai jalan keluarnya.

Kenapa shalat? Jawabannya singkat saja, karena saat itu penulis hanya terpikir bahwa bukankah shalat adalah tiang dari agama kita? Bukankah Allah yang menjanjikan bahwa shalat akan mencegah perbuatan keji dan munkar? Bahkan, Allah sendiri yang berfirman bahwa mereka orang-orang yang menjaga shalat adalah orang-orang yang beruntung. Selain itu, Allah yang tiada Illah melainkan Dia begitu mencintai ibadah yang satu ini. Sebagai informasi untuk kalian, syaithan pun begitu giat menganggu kita dalam shalat karena mereka paham faedah besar di balik tegaknya shalat. Dan mereka benci jika kita meraih manfaat besar dari shalat.

"Tapi, ini kan masalahnya untuk merubah orang lain yang sedang terlena dan berada di luar fitrahnya!"

Penulis akan tetap menjawab dengan pilihan yang sama, shalat! Penulis yakin shalat bisa merubahnya menjadi lebih baik. Karena penulis yakin tidak ada Dzat yang lebih menepati janji, kecuali Allah Rabbul 'Alamin.

Walaupun demikian memang kawan yang satu itu harus didampingi teman-teman yang shalih. Nah, teman-teman yang shalih bisa menjadi wasilah untuk mengingatkannya: pertama, untuk menjaga shalatnya terlebih dahulu.

"Lalu, bagaimana shalat bisa efektif merubah seseorang supaya menjadi lebih baik?"

Di dalam Q.S. Al Baqarah ayat 3, Allah berfirman "...dan orang yang mendirikan shalat...". Syaikh As Sa'di (dalam Sulaimansyah, 2014) menafsirkan, “(pada ayat ini) Allah tidaklah berfirman, ‘kerjakanlah shalat’. Karena seseorang tidaklah cukup sekedar mengerjakan shalat dengan melakukan gerakan-gerakan shalat. Tetapi, mendirikan shalat (bukan sekedar mengerjakan) yaitu mendirikannya secara lahir dengan menyempurnakan rukun shalat, wajib shalat, dan syarat shalat, serta mendirikannya secara batin, dengan menghidupkan ruh shalat, yaitu menghadirkan hati ketika shalat dan merenungi setiap bacaan dan gerakan dalam shalat. Inilah shalat yang Allah katakan, “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar” (Taisir Karimir Rahman, hal. 27 dalam Sulaimansyah, 2014)

Kita sebagai teman dari kawan yang telah kita jelaskan tadi berkewajiban untuk menasehatinya. Kita bisa menasehatinya agar kembali mengingat Allah lebih banyak lagi, salah satunya dengan shalat. Kita bisa meyakinkan dia bahwa penyakit semacam itu bisa disembuhkan.

Kita bisa menyemangatinya untuk meminta pertolongan kepada Allah melalui jalan utama, yaitu shalat. Karena Allah telah jelas berfirman dalam Al Qur'an Al Karim agar setiap hambanya meminta pertolongan dengan sabar dan shalat, misalnya pada Q.S. Al Baqarah: 45 dan 153. Selanjutnya, tentu saja kita harus menyemangati dia untuk senantiasa memperbaiki shalatnya seperti yang telah ditafsirkan Syaikh As Sa'di. Dan tidak lupa kawan kita yang satu itu harus terus mendapat pendampingan terutama dari keluarganya dan tentu saja orang-orang shalih

Semoga setiap kita bisa terus berubah menjadi lebih baik dan senantiasa menajga shalat kita demi mencukupkan bekal ke kampung akhirat, aamiin...


Referensi:
Dr. Umar bin Abdullah bin Muhammad al-Muqbil. (2015). Mutiara Nasehat Uamr Al-Faruq radhiyallahu 'anhuiyallhu 'anhu (Muhammad Iqbal A. Gazali, Penerjemah). Diakses pada 27 Februari, 2017, dari https://islamhouse.com/id/articles/806120/.

Sa'id Abu Ukkasyah. (2015). Hakekat Shalat. Diakses pada 16 Maret, 2017, dari http://muslim.or.id/25200-hakekat-shalat.html

Sulaimansyah, Yananto. (2014). Jagalah Shalat, Buatlah Nabi Tersenyum. Diakses pada 16 Maret, 2017, dari https://buletin.muslim.or.id/featured/jagalah-shalat-buatlah-nabi-tersenyum.

You May Also Like

0 comments