Pengalaman MDP 5 NET. TV

by - 6:02:00 AM


Pengalaman psikotes buat kalian mungkin bukan sesuatu yang mewah atau istimewa. Tapi itu bukan masalah karena aku akan tetap membagi ceritanya di sini. Baiklah, eheem... mari kita relaks-kan sedikit posisi duduk dan cukup santai saja menikmati sajian kali ini, yeay!

Kisah ini berawal dari satu surel berupa undangan dari NET. TV untuk dapat ikut serta dalam psikotes. Sebenarnya aku tidak pernah "mengantisipasi" kedatangan undangan tersebut. Kalau kalian tanya bagaimana persaanaku kala membaca undangan hingga tuntas, maka aku jawab dengan lantang bahwa aku bahagia. 

Anehnya, aku selalu bisa mengendalikan perasaan bahagia yang satu ini. Ibarat karet aku tahu betul kapan harus aku ulur kapan harus aku tarik ke psoisi semula. Pada intinya, aku terlalu mudah mengendalikan rasa bahagia dari peristiwa yang satu ini. #tidakSepertiBiasanya #huhuhu

Alright so how was that experience? Here we go...!

Senin, 20 Maret 2017 // 14.00
Aku mulai menata diri dan bersiap berangkat untuk segera membeli tiket keberangkatan Lampung-Bogor. Setelah itu tentu saja tak lupa menjalankan mandat Ibu Sri (alias ibu saya yang terhormat, hehehe) untuk izin numpang ke kosan sepupu yang qadarullah sedang kuliah di Bogor. Singkat cerita, dengan penuh drama aku putuskan berangkat Senin malam tepatnya pukul 21.00.

Angin malam dan pemandangan menakjubkan Pelabuhan Merak dari kejauhan.

Selasa, 21 Maret 2017 // 05.00
Aku yang kemarin tidak menemukan tiket bis dari Lampung langsung ke Bogor membuat kami harus berhenti terlebih dahulu di Gambir. Dari Gambir kami mencari commuter line menuju Bogor. Hei, kawan kalian tahu? Sebelum berangkat ke stasiun terdekat menuju Bogor, kami sempat dibujuk rayu untuk menumpang taksi menuju stasiun Juanda dengan biaya 50.000. Oh waw...! Okay, skip this. 

Selasa, 21 Maret 2017 // 08.30
Setelah kurang lebih dua jam kami berkendara dengan kereta cepat, akhirnya kami berhasil menjejakan kaki di Bogor, uh masyaa Allah! Nah, sesampainya kami di Bogor kami harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ojek online sekitar Bogor tengah bentrok dengan ojek konvensional. Kami harus berburu dalam kurun waktu lebih dari 30 menit, pemirsa! Well, yeay alhamdulillah, Allah kirimkan driver paling tepat menurut Allah pada waktu yang paling tepat menurut Allah juga.

Selasa, 21 Maret 2017 // 10.00
Seorang driver baik hati berhasil membawa kami ke sekitaran Jalan Salak (dekat Macaroni Panggang). Tapi, kami perlu beputar-putar dan berputar-putar karena penginapan yang kami tuju tak kunjung tampak. Oia, kami putuskan untuk menginap di penginapan berbayar karena kos sepupu cukup jauh dari lokasi tes. Alhamdulillah penginapan yang tak kunjung nampak membuat kami harus menyerah dan beristirahat terlebih dahulu. Tak jauh, masih sekitaran Jalan Salak No. 1.

Singkat cerita, secara menegjutkan sebuah guest house yang berdiri tepat beberapa meter di depan mata kami rupanya penginapan yang selama ini kami cari. Hmm... habis nama di salah satu app perjalanan dengan papan nama yang terpampang di depan gedung jauh berbeda. Baiklah...

Nah, perjuangan mini ini tak berhenti di situ, kawan. Setiap penginapan rata-rata menerima tamu check-in pukul 13.00 atau 14.00. Kami yang datang tak terlalu pagi dan tak terlalu siang terpaksa tertahan dari kenikmatan merebahkan tubuh dan bersih-bersih. Alhamdulillah aa' resepsionisnya baik hati. Kami diperbolehkan menitipkan barang sementara kami menjelajah Bogor Utara hingga ke Sentul (tanpa mandi, hiii... hehe).

Rabu, 22 Maret 2017 // 06.00
Udara pagi Bogor yang sejuk menyambut kami dan mengantarkan kami dengan perasaan bahagia menuju lokasi tes. Kami sampai tepat sebelum pukul 06.30 berdenting. Teteh membantu aku menurunkan dan menenteng koper mini yang mulai buncit.

Sesampainya kami di depan gerbang masuk, kami dihalau petugas berwajib. Jadi, mereka yang tidak ber-ID tidak diizinkan turut serta memasuki area SICC (Sentul International Convention Centre). Hiyaah... alamat teteh harus menunggu seorang diri di luar. Aku khawatir.

Apa boleh buat, aku masuk seorang diri dan mendapati di dalam telah banyak peserta lain beredaran bahkan ada yang berkerumun di satu titik. Aku hendaknya ingin ikut bergabung dengan kerumunan itu. Tapi, eh... mainstream sekali, tidak jadi. Tiba-tiba ada suara menderu dari balik (apa itu namanya) toak.

Kami diperintah untuk menuju gate bertuliskan sesuatu seperti "Selamat Datang Peserta MDP V NET. TV" bla bla bla. Alhamdulillah, aku berdiri tepat di urutan ketiga, shaff tengah. Sementara crew NET. ada yang sibuk mengoperasikan kamera, ada yang sibuk meliput, ada yang sibuk memandangi kami semua, dan lain-lain.

Aku tidak pernah menyangka keberangkatanku yang cukup pagi sekali itu belum bisa membayar apa yang harus aku hadapi di dalam area tempur. Karena masih ada penantian dan antre-antre lainnya yang cukup melelahkan. Rupanya setelah begitu cukup lama kami berdiri "dipajang" di depan gate, kami dipersilahkan untuk mengantre di depan beberapa gate hall. Di belakang gate hall tersebutlah nantinya kami akan melakukan tes.

Para peserta harus kembali mengantre untuk memasuki ruang tes. Kalau kita hitung-hitung, mulai pukul 06.30 sampai dengan 08.30, aku baru bisa menikmati apa yang namanya duduk dengan sebenar-benarnya duduk, fiuuh!

Guess what friends? Setelah kami duduk manis, tes tidak langsung di mulai. Ada sesi, lalu sesi lagi, lalu sesi lagi untuk kata mereka merelekskan diri sebelum tes sesungguhnya dimulai. Baiklaaah...

Usai sesi-sesi rileksasi sekitar pukul 09.30 kami mulai memasuki uji psikotes. Oia sebelumnya ketika kami masuk ruangan tes atau lebih tepatnya hall utama, kami disodori kertas ujian. Kertas ujian kami hanya dua, yaitu Pauli dan DISC. Dengan kata lain, dalam uji kali ini kami hanya perlu mengerjakan dua jenis soal.

Sekitar pukul 11.30 telah banyak dari peserta yang menuntaskan jawaban. Kami kembali masuk ke sesi-sesi rileksasi. Kami terus tertahan di dalam. Rupanya beberapa menit kemudian mereka menghadirkan orang-orang yang berada di balik program yang sedang berlangsung ini. Selain itu, ada sesi yang paling aku suka, yaitu saat Direktur Utama NET. TV rela hadir dan berdiri di depan kami.

Direktur Utama NET. TV tentu tidak sekadar berdiri ya, kawan. Beliau menyampaikan berbagai informasi tentang NET. TV yang baru berusia 3 tahun tapi telah merajai dunia pertelevisian. Bahkan, NET. TV telah mampu mengalahkan kepopuleran tv-tv lain yang telah lama berdiri.

Ada satu frasa yang begitu melekat erat di telinga dari Sang Dirut, "...nyembah rating." Nampaknya, Dirut NET. TV pernah mengalami pengalaman tak mengesankan dengan entitas yang satu itu. Well, personally aku juga sebal dengan apa yang mereka sebut rating itu. Karena banyak televisi nasional yang justru hanya membodohi masyarakat alih-alih mencerdaskan. Karena satu penyebab, demi rating sebagai indikator pemasukan iklan. Padahal, misi televisi pada dasarnya harus mampu menjadi media edukasi. Tapi, hmmm... kalian tahu bagaimana yang sebenarnya telah terjadi.

Aku kira nih setelah Dirut NET. TV menuntaskan pidatonya, kami akan dipersilahkan ISHOMA. Namun, pada kenyataannya tidak. Kami masih harus duduk manis tanpa keributan di dalam ruangan itu. Aku mulai gelisah. Jarum di jam tangan ini terus bergerak hingga jarum panjangnya hampir tertuju pada angka 2. Oke, ini sudah lebih dari pukul 13.00. Bergegas!!!

Aku izin dengan salah satu crew NET. TV. Seorang perempuan dengan tinggi yang hampir sama denganku dihiasai rambut yang panjang. "Kak, izin shalat sebentar saja yah...". Kakak itu hanya menjawab bahwa acara sebentar lagi akan usai dan masih akan ada kesempatan untuk shalat kok. Aku tidak percaya. Beberapa menit setelah aku kembali duduk mereka belum juga menutup acarara untuk peserta Batch 1.

Aku bertekad! Boleh tidak boleh aku harus keluar, tapi tetap aku harus izin dengan sopan terlebih dahulu. Kali ini aku mendapati seorang crew perempuan lagi. Kakak yang ini berambut pendek dengan tinggi yang lebih rendah dariku, ups, hehe... Kakak yang itu alhamdulillah memberikan izin setelah mendengar aku memohon.

Alhamdulillah... 

Aku kira usai shalat acara di dalam hall juga ikut rampung, tapi ternyata masih berlangsung dengan semarak. Kali ini giliran Kementerian BeKRAF yang mengisi panggung. Bahkan panitia menyediakan waktu tanya-jawab. Singkat cerita, semua acara psikotes untuk Batch 1 selesai sekitar pukul 14.30


Kesimpulan:

  • MDP V NET. TV berlangsung dalam 3 tahapan tes. Tahap 1 Psikotes, Tahap 2, dan terakhir Interview.
  • Berhubung aku baru merasakan seleksi tahap 1, maka aku baru bisa membagi apa yang terjadi di seleksi tahap 1. Seleksi tahap 1 atau psikotes terdiri dari 2 tes: Pauli dan DISC.

Tips Sebelum Tes:

  • Perbanyak latihan Pauli sebelum tes yang sebenarnya berlangsung. Tes Pauli akan menguji ketahanan kalian dalam menghadapi tekanan. Kalian harus menjumlahkan angka-angka yang terlihat sepele tapi dikejar waktu.
  • Kerjakakan Pauli dengan konsisten dan usahakan sebanyak yang kalian bisa, tapi tetap tenang mengerjakannya yah...
  • Sementara untuk DISC bisa kalian jawab sesuai dengan diri kalian apa adanya. Kalian tidak perlu mengada-ada, justru kepura-puraan itu hanya akan membuang waktu dalam pengerjaan.

Saran untuk NET. TV
Semoga kedepannya NET. TV bisa lebih memprioritaskan Rabb kalian yah. Mari kita perhatikan waktu-waktu shalat kita. Karena shalat adalah salah satu ibadah yang paling Allah cintai. Sehingga kemudian kejayaan dunia yang kalian nikmati hari ini bisa dipertanggungjawabkan dengan lebih mudah di hadapan Allah nantinya.

Kesan
Aku bisa bilang overall NET. TV keceee dan semoga suatu saat nanti bisa diskusi langsung dengan Dirut NET. TV, Bapak Tama. Karena ada sesuatu hal yang hanya Bapak yang bisa menjawabnya.


Pengalaman ini disponsori oleh:

  1. Allah Rabbul 'Alamin yang telah menciptakan aku tentunya dan yang telah banyak memberikan Maha Pengampunan dan Rahim-Nya.
  2. Mamimo dan Papipo yang telah membiayai perjalanan nganar ini (huehehe...).
  3. Teteh Mita "Chef Selling" yang membersamai di tengah perjalanan baik dalam keadaan bahagia maupun murka (hoho...).
  4. Mba Farisa Ridha Mutiara shalihah yang telah mendermakan kasur paling empuknya, beserta seperangkat kipas angin yang sedia mengipasi segala kegerahan Jakarta, juga kamar mandi yang ga' cukup cuma satu (jazakillah khair mba'nya ukbibukifillah).
  5. Semua penciptaan Allah yang telah menjadi wasilah terjadinya takdir yang satu ini (huhu...)

Note: maaf ndak ada foto-foto saat tes karena aku tidak cukup sanguinis melakukan semua tindakan itu, huehehe... yang pasti kemarin ruameee puool, sementara aku terlalu fokus dengan apa yang akan dihadapi.



oo0 Sekian 0oo

You May Also Like

0 comments