Bagaimana Mereka Belajar?

by - 7:39:00 AM

Credit: Unsplash
Kini kita dapati banyak masyarakat semakin giat untuk menuntut ilmu. Fenomena ini sering kita sama artikan dengan istilah hijrah. Namun, hijrah itu tidak mudah.


Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? (Q.S. Al ‘Ankabut: 2)

Ujian yang Allah berikan tidak lain demi membuktikan siapa di antara kita yang “benar” dalam hijrahnya dan siapa yang “KW”. Dengan demikian, kita butuh sesuatu yang membuat kita dapat tetap bertahan dan bersabar dalam hijrah. Apakah itu? Jawabnya adalah ilmu.

Lalu ilmu apa yang harus kita prioritaskan? Imam Ibnu Mubarak mengatakan, “Para sahabat dan para tabiin, mereka mempelajari adab terlebih dahulu sebelum mereka mempelajari ilmu (yang pelik dan besar)."  Mereka belajar adab kepada Allah, adab kepada nabi, dan adab kepada sesama manusia.

 Mereka Senantiasa Dahaga akan Ilmu 
Para ulama adalah orang-orang yang senantisa dahaga terhadap ilmu. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



“Ada dua kelompok yang selalu tamak dan tidak pernah merasa kenyang, penuntut ilmu dan penuntut dunia.” (HR. Hakim)

Abul ‘Aaliyah mengatakan:
“Kami dahulu mendengar riwayat-riwayat yang disampaikan oleh sahabat-sahabat Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam sedangkan pada saat itu kami berada di Iraq. Kami tidak pernah puas sampai kami atur perjalanan pergi ke Madinah untuk mendengar langsung dari lisan mereka.”

 Mereka Rela Bersusah Payah Demi Ilmu 
Para ulama terdahulu sering sekali melakukan safar dari satu negara ke negara lainnya demi sebuah hadits. Sementara kita hari ini mungkin hanya selintas kota atau kabupaten. 


"Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya ujian ….” (H.R. Tirmidzi)

Ada seorang ulama yang menjual genteng rumahnya demi dapat menuntut ilmu. Bahkan, ada pula ulama yang rela menjual rumahnya demi mencukupi kebutuhannya menuntut ilmu.

Allah saat ini sedang memberikan kita keterbukaan ilmu yang sangat luas. Hari ini kita begitu mudah dalam mendapatkan ribuan hadits. Kita cukup mengunduhnya lewat internet. Bahkan, tak jarang kita medapatkan jaringan internet secara cuma-cuma.

Namun, pertanyaanya, kenapa mereka selalu mengungguli kita?  Kenapa kualitas iman dan taqwa mereka melebihi kita?  Bukankah secara logika kita yang telah mengoleksi ribuan hadits? Maka, tidakkah seharusnya kita lebih unggul dibandingkan mereka (yang harus jalan berbulan bulan baru mendapatkan satu hadits)?

Jawabannya ada dalam pendapat Syaikh Asy Syinqithi berikut:


 Keberkahan ilmu  yang membedakan, satu hadits yang berkah lebih baik daripada ribuan hadits tapi tidak berkah. Hal yang harus diincar oleh para penuntut ilmu, bukan hanya mencari ilmu, tapi mencari keberkahan ilmu, mencari ilmu yang bermanfa’at.”

Salah satu cara mendapat keberkahan ilmu adalah upaya yang sungguh-sungguh dalam mempelajarinya. Karena semakin kita sullit mendapatkan sesuatu maka hal itu akan semakin bernilai. Para ulama juga tidak kalah bersungguh-sungguh dalam mengamalkan ilmu yang telah mereka peroleh. Sehingga, tak pelak bertambah-tambahlah keberkahan ilmu mereka.

Jabir radhiallahu’anhu harus bersusah payah untuk bertemu Abdillah bin Unais. Beliau harus menempuh perjalanan selama sebulan hanya demi satu buah hadits:



“Allah akan bangkitkan manusia dalam kondisi telanjang bulat … “ (H.R. Bukhari)

Ada pula Ja’far yang bercerita kepada kita bagaimana beliau dan teman-temannya belajar di majelisnya ‘Ali bin Madini: 
“Kami sampai di majelis Ali bin Madini pada waktu Ashar. Sementara majelis tersebut akan diadakan esok pagi. Lalu kami duduk sepanjang malam di tempat itu karena kami khawatir tidak mendapatkan tempat terbaik untuk mendengarkan perkataan Ali bin Madini .”

Dalam perkara dunia, kita kenal seseorang yang didapuk Majalah Forbes sebagai orang kaya termuda dunia. Orang tersebut harus rela untuk gagal sebanyak 36 kali sebelum mencapai apa yang ia raih hari ini. Ini adalah perkara dunia. Lantas, bagiamana dengan perkara akhirat? Tidakkah sepantasnya kita melakukan upaya yang lebih sungguh-sungguh?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


”Ketahuilah bahwa apa yang Allah tawarkan sangat  mahal , dan yang Allah tawarkan untuk kalian adalah  surga ”. (H.R. Tirmidzi)

Kalau memang surga Allah itu murah, maka Rasulullah tidak perlu bersusah payah untuk hijrah dari Mekah ke Madinah. Kalau memang surga itu murah, maka Bilal tidak perlu merasakan kerasnya disiksa, begitu pula dengan Sumayya dan sahabat lainnya.

Dan pintu gerbang menuju surga Allah itu adalah belajar, belajar, belajar. Wajib bagi kita untuk belajar (berilmu) sebelum beramal.

Kisah lain yang pantas kita teladani dalam upaya bersungguh-sungguh dalam menunut ilmu adalah kisah Al Imam Qutrub, julukan bagi seorang imam yang bernama asli Abu Ali Muhammad. Beliau adalah murid Sibawayh. Kenapa beliau dijuluki sebagai Imam Qutrub? Dalam tinjauan bahasa, ‘qutrub’ adalah istiah bagi hewan yang senantiasa giat di malam hari. Julukan ’qutrub’ disematkan pada dirinya oleh sang guru karena kebiasaannya.

Al Imam Qutrub gemar sekali menunggu di depan rumah sang guru di saat hari masih gelap (sebelum adzan Subuh). Hal ini beliau lakukan demi meraih ilmu dan dapat bertanya lebih leluasa pada sang guru sebab majelis sang guru tak pernah sepi dari penuntut ilmu.

Kisah lain yang dapat kita tiru ialah kisah Al Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad bin Hanbal selalu saja ingin bersegera untuk dapat menghadiri majelis ilmu. Hal ini tak jarang membuat Ibunda Imam Ahmad menahan (menarik) baju anaknya ketika hendak keluar rumah untuk menuntut ilmu sebab sang imam keluar di saat hari masih gelap.

 Mereka Menuntut Ilmu dengan Hati yang Tawadhu’ 
Imam Asy Syafi’i menuturkan, “Tidak ada satupun orang yang menuntut ilmu agama ini dengan kekayaan, kekuasaan, dan harga dirinya yang tinggi, lalu sukses dengannya. Namun seseorang yang mempelajari ilmu dengan merendahkan hati dan kehidupan yang sempit lalu ia berkhidmat kepada ahli ilmulah yang akan berhasil.”

Berkaitan dengan penuturan Imam Asy Syafi’i tersebut, maka kita sudah sepantasnya bersikap tawadhu’ ketika datang ke suatu majelis ilmu. Hal ini bukan hanya sebatas dihadapan ustadz, tapi juga di hadapan ilmu.

Imam Mujahid dalam Shahih Bukhari mengatakan, “Tidak akan sukses belajar ilmu agama, orang yang malu, minder dan orang yang sombong.”

 Mereka Menuntut Ilmu Secara Bertahap 
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang orang yang belajar dan mengajar dalam Q.S. Ali Imran, ayat 79:



“…Namun jadilah seorang  rabbani  ketika kalian belajar Al Qur’an dan mengajarkan Al Qur’an…” 

Abdullah bin Abbas menjelaskan makna Rabbaani, yakni orang-orang yang mendidik manusia mulai dari hal-hal mendasar secara bertahap sebelum perkara-perkara yang besar dan sulit. Kita juga membutuhkan kelembutan dalam belajar dan mengajar. Kelembuatan yang dimaksud di sini tak lain adalah keharusan bagi kita untuk belajar dengan cara bertahap.



“Sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperkeruhnya” (H.R. Muslim)

Al Imam Ibnu Syihab menyatakan hal yang serupa, Barangsiapa yang mengambil ilmu sekaligus (langsung mengambil yang besar), maka akan hilang semuanya dalam waktu yang singkat juga, karena ilmu hanya bisa dipelajari dengan berjalannya siang dan malam.”

Belajar secara perlahan-lahan atau bertahap ini memungkinkan kita untuk dapat meneguhkan pondasi (ilmu yang mendasar). Sementara kita tidak memperkokoh ilmu-ilmu yang mendasar, maka justru kita akan gagal. Sebagian ulama mengatakan, “Barang siapa yang tidak mempunyai pondasi, maka dia tidak akan pernah sampai ke tujuan.”

Cara ini serupa dengan metode Allah Ta’ala dalam menurunkan Al Qur’an. Allah menurunkannya dengan cara perlahan-lahan sehingga orang-orang kafir menjadikannya bahan olokan bagi Rasulullah. Padahal, tidaklah Allah lakukan demikian kecuali membuat Al Qur’an itu kokoh di dalam hati Rasulullah.



Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar). (Q.S. Al Furqon: 32)


 Mereka Belajar Adab Sebelum Ilmu 
Ilmu yang wajib kita prioritaskan selain aqidah, iman, ibadah-ibadah yang wajib, adalah adab. Ini sebagaimana yang dikatakan oleh Al Imam Ibnul Mubarok:

 “Dulu ulama kita belajar adab dahulu sebelum belajar ilmu.” 

Adab akan membuat ilmu kita berjalan paralel. Ilmu yang akan membuat kita tidak hanya menjadi orang yang pintar, namun menjadi orang yang bertaqwa. Ilmu yang meneduhkan kondisi dan membuat permasalahan terurai dengan sendirinya.


 Referensi : 
Kajian Kitab "Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim Fii Adabil’Alim Wal Muta’alim" (Adab Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu) oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. 11 November 2017. Blok M Square, Jakarta. Diakses dari Youtube Channel Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.

You May Also Like

0 comments