Di Balik Akhlak Para Ulama

by - 4:16:00 PM

Credit: Unsplash
Dalam kitab beliau, setelah menuliskan lafadz basmalah, Ibnu Jama'ah bershalawat dan menyampaikan salamnya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini adalah metode para ulama dalam menuliskan buku-buku mereka. Di antara mereka ada Imam As Sakhawi, Ibnu Abi 'Ashim, dan ulama-ulama lainnya. Selepas bershalawat, Ibnu Jama'ah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

 Shalawat 
Kenapa mereka bershalawat? Karena mereka ingin buku ini bukan hanya dikenal, melainkan benar-benar memberikan rahmat bagi mereka.

"Barangsiapa di antara umatku bershalawat kepadaku 1 kali, maka Allah akan bershalawat pada dirinya 10 kali shalawat, lalu Allah akan angkat kedudukannya 10 derajat, lalu Allah berikan 10 kebaikan, dan Allah hapuskan darinya 10 kesalahan." (H.R. An Nasa'i)

Shalawat ini tentunya harus dilakukan dari lubuk hati yang ikhlas. Sehingga, kita benar-benar mendapatkan apa yang telah Allah janjikan.

Lantas, apakah makna shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ini?

Para ulama memberikan beberapa pendapat mengenai makna shalawat. Pendapat pertama mengatakan bahwa shalawat berarti rahmat. Ini merupakan pendapat dari Abdullah bin Abbas, Ad Dhahak, dan sebagian ulama yang lain.

Pendapat kedua menyatakan bahwa shalawat bermakna maghfirah. Pendapat ini disampaikan pula oleh Ad Dhahak dan Muqathil. Ibnu Qayyim menuturkan bahwa pendapat pertama hampir sama dengan pendapat kedua.

Sementara pendapat yang ketiga menyatakan bahwa shalawat adalah  pujian Allah dihadapan malaikat-Nya sebagai bentuk penganggungan, tingginya kedudukan, dan kehormatan Nabi shallallahu 'alahi wa sallam Pendapat ini disampaikan oleh Abul 'Aliyah, Ar Rabi' bin Anas, Al Khalil bin Ahmad, dan disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari serta dikuatkan pula oleh Ibnul Qayyim dan Imam Bakr Al Kusyairi.

 Salam 
Adapun salam artinya kita mendo'akan keselamatan untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam kubur dan di hari kiamat nanti. Beliau sejatinya tidak butuh pada shalawat kita, tapi kita sangat butuh untuk mendo'akan beliau, di antaranya sebagai bentuk adab kita terhadap beliau. 

Karena beliau telah mengajarkan kita banyak hal. Beliau yang mengajarkan kita tentang tauhid, beliau yang mengajarkan kita tentang sunnah, beliau yang mengajarkan kita tentang taqdir, beliau yang mengajarkan kita tentang kunci rizki, dan lain sebagainya.

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (Q.S. Al Ahzab: 56)

 Makna Shalawat Untuk Diri Kita 
Sebagian ulama mengatakan bahwa makna shalwat untuk diri kita adalah rahmat, hal ini sebagaimana yang dibawakan oleh Ibnu Hajar. Bahkan, sebagian ulama menyatakan bahwa kita disebutkan juga di hadapan para malaikat. Dengan demikian, bukan hal yang mengherankan apabila Ibnu Jama'ah dan ulama yang lain begitu bersemangat untuk bershalawat.

Bayangkanlah, nuansa muqadimahnya saja sudah "bernuansa iman, ketawakalan, taqarub, bukan nuansa kebanggaan diri penulis."

 Memuji Allah Subhana wa Ta'ala 
Setelah penulis selesai bershalawat, beliau memuji Allah, "Alhamdulillahil Bari Rahim Al Was'il 'Alim (Segala Puji bagi Allah Yang Maha Baik, Maha Penyayang, Maha Luas, Maha Berilmu, dan Maha Banyak Karunia-Nya)". Imam Abu Hanifah mengatakan tentang kuncinya dalam mendapatkan ilmu yang sangat luas, yaitu  "Memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya."  Setiap beliau memahami suatu perkara, ayat, hadits, atau memahami fiqh,  maka beliau mengucapkan  "Alhamdulillah."  Allah memerintahkan kita untuk berbahagia selepas memperoleh ilmu, sebagaimana firman-Nya:

Katakanlah (Muhammad), "Dengan  karunia Allah  dan  rahmat-Nya , hendaklah dengan itu mereka  bergembira.  Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. (Q.S. Yunus: 58)

Dalam tafsir, karunia yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah iman, dan rahmat dalam ayat tersebut adalah Al Qur'an. Maka, kita harus berbahagia ketika kita mendapatkan iman dan ayat-ayat Al Qur'an. Kita juga sepatutnya bersyukur kepada Allah akan hal tersebut. Dan memuji Allah akan ilmu yang telah diberikan pada kita adalah kunci lain dalam keberkahan ilmu.

 Adab Penuntut Ilmu 
Di antara hal yang harus diprioritaskan oleh orang yang memiliki akal sehat, khususnya di waktu muda adalah  adab yang mulia.  Penulis kemudian mengatakan bahwa orang yang paling berhak memiliki akhlak mulia ialah ahli ilmu. Sementara itu, Imam Hamd bin Sallamah berpendapat bahwa berakhlak mulia itu wajib bagi penuntut ilmu hadits.

Para ahli ilmu seharusnya memiliki adab yang paling sempurna, hati yang paling tawadhu', tidak mudah marah, tidak gampang galau. Karena ilmu itu bukan sekadar retorika.

Imam Abu 'Ashim menuturkan, "Barangsiapa yang mempelajari hadits-hadits nabi ini, maka dia telah mempelajari hal paling tinggi dalam urusan dunia, maka dia wajib menjadi manusia terbaik di lingkungannya." Di sisi lain, Al Hasan Al Basri mengisahkan bahwa dulu para penuntut ilmu itu tidak butuh waktu yang lama untuk memperlihatkan perubahan akhlak mereka.

Mengapa mereka mampu berubah menjadi manusia yang lebih baik bahkan tanpa hitungan tahun? Karena mereka berilmu tentang akhlak dan adab-adab Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Karena mereka juga berilmu tentang perjalanan hidup para imam dari ahlil bait dan sahabat-sahabat Rasulullah.


 Referensi : 
Kajian Kitab "Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim Fii Adabil 'Alim wal Muta'alim" (Adab Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu) oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. 25 November 2017. Blok M Square, Jakarta. Diakses dari Youtube Channel Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.

You May Also Like

0 comments