Ilmu dan Adab

by - 8:00:00 PM

Credit: Unsplash
Di antara tujuan menuntut ilmu ialah agar kita dapat bersabar dan tetap bertahan terhadap badai fitnah dunia. Selain ilmu aqidah, ibadah-ibadah wajib, dan yang semisal, ada satu ilmu yang juga patut kita pelajari, yakni ilmu tentang adab.

Berkaitan tentang adab, sebuah buku berjudul"Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim fii Adabil 'Alim wal Muta'alim" (Adab Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu) sangat layak untuk kita kaji dan amalkan. Buku ini merupakan karya fenomenal dari seorang Imam bernama Ibnul Jama'ah.

 Profil Singkat Penulis 
Penulis adalah ulama besar yang bernama lengkap Muhammad bin Ibrahim bin Sa'dillah bin Jama'ah. Kalangan penuntut ilmu mengenalnya dengan nama Ibnu Jama'ah. Beliau lahir pada tahun 639 H kemudian wafat pada tahun 733 H. Beliau adalah salah satu ulama dari Madzhab Syafi'i.

Ibnu Jam'ah dinobatkan sebagai Syaikhul Islam pada masanya. Beliau layak mendapatkan gelar tersebut karena kecakapaanya dalam menguasai berbagai bidang ilmu keislaman. Ibnu Jam'ah mendapatkan gelar ini dari sang guru, seorang penulis masyhur, Ibnu Katsir.

Ibnu Jama'ah memliki banyak sekali murid, di antara murid beliau adalah Imam Adz Dzahabi (penulis Kitab Siyar A'lamin Nubala). Imam Adz Dzahabi berkomentar tentang gurunya, "Guruku adalah seorang sosok yang memiliki peran di berbagai bidang ilmu keislaman dan ia adalah orang yang rajin beribadah."

Ibnu Jama'ah menjadi qadhi (hakim syar'i) di tiga wilayah besar: Baitul Maqdis, Damaskus, dan Mesir. Menurut pendapat Al Imam Subki, "Beliau adalah pakar hadits sekaligus pakar fiqih dan akalnya cerdas luar biasa." Imam An Nawawi selalu menggemari fatwa-fatwa Ibnu Jama'ah.

 Faedah Mengetahui Profil Penulis? 
Di zaman fitnah seperti sekarang, sangat penting bagi kita untuk memastikan dari siapa kita mengambil ilmu.

 Rekemondasi dari Para Ulama 
Di antara para ulama yang merekomendasikan buku ini ialah Syaikh 'Ubaidullah Ar Rahmani Al Mubarakfury dan Syaikh Bakr Abu Zaid. Selain itu, buku ini pernah menjadi bahan kajian dalam majelis Syaikh Utsaimin hingga tuntas.

 Permulaan Kitab: Bismillahirrahmanirrahim 
"Dan dengan (pertolongan-Nya) aku diberi taufik untuk menulis dan menyelesaikan kitab ini."
Penulis memuali kitabnya dengan lafadz basmalah. Permulaan semisal ini banyak dilakukan oleh para ulama kita. Ini adalah kultur para ulama. Kebiasaan ini sungguh memiliki faedah agung, seperti:

1). Meneladani Al Qur'an
Para ulama memulai kitab mereka dengan Bismillah sama halnya dengan Al Qur'an yang Allah buka dengan Bismillah. Bismillah juga merupakan kebiasaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam membuka surat. Sungguh, mereka adalah orang-orang yang begitu kuat dalam ketaatan kepada Allah dan mencontoh Rasulullah.

Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. (Q.S. Ali Imran: 31)

2). Ber-isti'anah dan Tawakal kepada Allah
Bismillah mengandung permintaan tolong dan harapan keberkahan kepada Allah. Para ulama yang terbiasa membuka kitabnya dengan Bismillah mengajarkan kepada kita bagaimana mereka selalu bergantung pada pertolongan Allah. Ini menjadi prinsip para ulama kita. Mereka tak kuasa mengandalkan kecerdasan akal mereka karena mereka lebih percaya pada pertolongan Allah.

Al Imam Bukhari shalat Istikharah beribu-ribu kali sebelum mencantumkan sebuah hadits. Tindakan ini mencerminkan bahwa beliau lebih mengandalkan pertolongan Allah dari pada akal. Imam Abu Hanifah ketika tidak mampu menjawab suatu pertanyaan, maka beliau lebih suka untuk menyalahkan dirinya yang penuh dosa lalu kemudian shalat.

Dan mohonlah (pertolongan kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Q.S. Al Baqarah: 45)

Dalam menuntut ilmu, tak jarang kita dapati khilaf di antara para ulama, maka Imam Ahmad bin Abdul Halim memberikan nasehat agar kita berdo'a terlebih dahulu kepada Allah.

Demikian, inilah yang membedakan kita dengan para ahli ilmu. Mereka begitu berbeda dengan orang-orang yang sekadar datang ke kajian. Mereka adalah orang-orang yang selalu membutuhkan pertolongan Allah.

Ibnu Jama'ah menulis buku ini sekitar abad ke-7 lalu, namun kita masih bisa mendulang manfaatnya hingga abad ini. Berapakah banyak pahala yang telah beliau dapatkan? Itulah keberkahan beliau yang senantiasa bertawakal kepada Allah.

Dan Dia memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (Q.S. At Talaq: 3)


 Referensi : 
Kajian Kitab "Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim fii Adabil 'Alim wal Muta'alim" (Adab Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu) oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. 18 November 2017. Blok M Square, Jakarta. Diakses dari Youtube Channel Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.

You May Also Like

0 comments