Testimoni Imam Syafi'i Saat Mempelajari Adab

by - 8:39:00 AM

Credit: Unsplash
Imam Ibnu Jama'ah membawakan testimoni dari Imam Asy Syafi'i tentang mempelajari adab. Imam Asy Syafi'i terkenal dengan akhlaknya yang mulia. Imam yang bukan hanya piawai dalam ilmunya, tetapi juga amalnya. Sebagai gambaran akhlak beliau, mari kita dengar perkataan Imam Asy Syafi'i ketika berdebat.

Imam Asy Syafi'i berkata, "Tidaklah aku berdebat dengan seseorang lalu aku ingin dia terjatuh dari kesalahan."

Kita dapat belajar dari perkataan beliau tersebut. Beliau tidak menginginkan kalah atau salahnya seseorang ketika berdebat dengan beliau . Namun, beliau lebih peduli pada kebenaran dari perdebatan. Bahkan, pada riwayat yang lain disebutkan bahwa beliau tidak peduli apakah kebenaran itu muncul dari beliau atau orang lain, namun yang paling utama kebenaran itu muncul.

Mengapa para ulama terdahulu bicara dengan sederhana, padat, sekaligus penuh keutamaan?  Dalam kitabnya, Fadlu 'Ilmis Salaf 'ala 'Ilmil Khalaf, Ibnu Rajab menjawab, "Sebab mereka bicara karena Allah supaya agama Allah menjadi tinggi. Sedangkan, kita sekarang berbicara agar nama kita menjadi tinggi." 

 Imam Asy Syafi'i Ditanya tentang Mempelajari Adab 
Imam As Syafi'i pernah ditanya tentang bagaimana perasaan hati beliau ketika mempelajari adab. Imam Asy Syafi'i menjawab: "Aku mendengar satu huruf tentang adab yang belum pernah aku dengar sebelumnya, maka seluruh anggota tubuhku berharap memiliki pendengaran, sehingga bisa merasakan sensasi yang didengar kedua telingaku."

Sufyan bin 'Uyainah pernah berpendapat, "Ketika mendengar hebatnya kisah-kisah orang shalih, maka rahmat itu turun."

Imam Abu Hanifah mengatakan, "Mendengar kisah-kisah para ulama terdahulu dan betapa hebat akhlak juga adab mereka, itu lebih aku sukai daripada aku belajar fiqih."

Kembali pada perkataan Imam Asy Syafi'i. Sebagaimana perkataan beliau, beliau begitu merasakan nikmatnya menuntut ilmu. Sehingga karena begitu nikmatnya seakan-akan setiap anggota tubuh ingin memiliki telinga.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah  gemetar hatinya,  dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal."  (Q.S. Al Anfal: 2)

Sepatutnya kita bahagia dan merasa nikmat ketika menuntut ilmu. Ilmu itu meneduhkan. Ilmu itu rahmah, sebagaimana nama lain Al Qur'an yaitu rahmah.

Katakanlah Muhammad, "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka  bergembira.  Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (Q.S. Yusuf: 58)

Dunia ilmu itu bukan dunia retorika. Tapi, dunia ilmu itu untuk menjadikan kita lebih baik, lebih 'matang', lebih dewasa, lebih tenang, dan ilmu itu nikmat. Jikalau ilmu itu tidak nikmat, maka mana mungkin Jabir rela berjalan kaki selama sebulan lamanya demi satu buah hadits.

Para ulama terdahulu pernah menuturkan, "Anda tidak akan pernah menjadi penuntut ilmu sampai anda lapar, lantas karena begitu asiknya Anda belajar, maka Anda lupa bahwa Anda lapar."

Selanjutnya, Imam Asy Syafi'i kembali ditanya tentang bagaimana belia mempelajari ilmu dan adab? Beliau menjawab:

"Saya mempelajari ilmu dan adab seperti seorang wanita yang kehilangan anaknya, sementara anak yang hilang itu adalah satu-satunya anak bagi wanita tersebut, seperti itulah saya mencari ilmu dan adab."

Sebagaian ulama membedah ucapan Imam Asy Syafi'i, salah satunya adalah Syaikh Shalih Al Utsaimin, beliau menjelaskan, "Ucapan Imam Asy Syafi'i dapat kita penggal menjadi 3 bagian. Pertama, ketika beliau menggunakan analogi seorang wanita/ ibu. Kedua, ketika beliau mengucapkan 'kehilangan anaknya'. Ketiga, ketika beliau mengucapkan 'satu-satunya'."

 1). Analogi Seorang Wanita/ Ibu 
Dalam hal ini, seorang penuntut ilmu harus sadar bahwa dirinya lemah sebab wanita bukan laki-laki. Mengapa demikian? Karena pada umumnya, seorang ibu yang kehilangan anaknya akan menyalahkan dirinya sendiri. Ibu akan merasa lemah, bersalah dan mengerdilkan dirinya ketika anaknya hilang. Seorang penuntut ilmu seharusnya juga merasakan yang demikian, merasa kerdil di hadapan ilmu. Kita sudah sepatutnya menyadari kekurangan  dan kelemahan, bukan merasa tinggi hati dalam menuntut ilmu.

 2). Analogi 'Kehilangan Anaknya' 
Analogi ini mengajarkan kita untuk 'mengejar' ilmu, bukan hanya 'duduk diam'. Seorang ibu yang kehilangan anaknya tentu akan mengejar dan mencari hingga titik darah penghabisannya.

 3). Analogi 'Satu-satunya' 
Seorang ibu yang kehilangan anaknya pasti akan rela mempertaruhkan segala hal demi anaknya. Analogi ini mengajarkan kita untuk bersusah payah dan rela berkorban demi ilmu. 


 Referensi : 
Kajian Kitab "Tadzkiratus Saami wal Mutakallim Fii Adabil 'Alim wal Muta'alim" (Adab Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu) oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. 16 Desember 2018. Blok M Square, Jakarta. Diakses dari Youtube Channel Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.

You May Also Like

0 comments