Ulama pun Mempelajari Adab

by - 9:36:00 PM

Credit: Unsplash
Sebagai penuntut ilmu, Ibnu Jama'ah telah menasehatkan kepada kita agar menjadi orang yang paling baik perangainya. Penulis selanjutnya membawakan beberapa gambaran bagaimana dahulu para ulama belajar.

Imam Malik menuturkan, "Umat ini tidak akan menjadi baik kecuali apa yang membuat umat terdahulu menjadi baik." Artinya, kita tidak akan mungkin menjadi baik jika tidak menggunakan "resep" para salafus shalih. Kita tidak mungkin hijrah, jika kita tidak mengikuti derap langkah mereka. Kalaulah kita berhasrat untuk sukses dalam bertaubat, berhijrah, dan belajar, maka teladanilah mereka.

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalaamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (Q.S. At Taubah: 100)

 Mereka Mempelajari Adab Sebagaimana Mempelajari Ilmu 
Muhammad bin Sirin menyatakan, "Mereka, para sahabat, para tabi'in, mempelajari adab dan akhlak sebagaimana mereka mempelajari ilmu." Dalam penuturan tabi'in ini kita bisa belajar bahwa bukanlah hal yang mengherankan jika mereka adalah orang-orang yang kuat (imannya). Mereka tidaklah sekadar belajar secara teori, tetapi  ilmu itu hidup dalam kehidupan mereka. 

Sedikit pelajaran tentang Muhammad bin Sirin:

Dikisahkan oleh Al Imam 'Ashim, ketika beliau memperhatikan Ibnu Sirin, maka dia dapati Ibnu Sirin senantiasa berdzikir kepada Allah. Bagaimana mungkin demikian? Salah satu alasanya karena beliau belajar adab. Sehingga, hal tersebut menyebabkan lisan beliau menjadi bersih.

Sementara itu, Jarir bin Hazim menceritakan bahwa pada suatu ketika beliau pernah bersama Muhammad bin Sirin lalu disebutkanlah seseorang. Muhammad bin Sirin kemudian secara spontan berucap, "...orang itu berkulit hitam." Ucapan beliau ini bukan untuk mencela namun hanya untuk mengidentifikasi. Tetapi, Muhammad bin Sirin langsung tersadar dan berkata, "Innalillah aku telah menggibah dirinya", beliau menyesal seketika itu juga. Inilah adab dan akhlak ulama.

Muhammad bin Sirin pernah berkata pada seseorang, "Wahai orang yang bangkrut...". Lantas, setelah itu beliau mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan. Muhammad bin Sirin akhirnya mengevaluasi dirinya, "Aku telah dihukum atas perkataanku." Dalam hal ini kita bisa belajar bagaimana beliau muhasabatun nafsKetika beliau mendapatkan musibah, maka beliau enggan mencari 'kambing hitam', melainkan cukup menyalahkan diri sendiri.

Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu). (Q.S. Asy Syura: 30)

Coba kita sejenak bercermin, bagaimana dengan diri kita hari ini. Kita lebih terbiasa membela diri. Ini berbeda dengan mereka yang selalu mengembalikan pada diri sendiri atas setiap musibah yang menimpa.

Muhammad bin Sirin ketika berkumpul bersama teman-temannya, sementara teman-temanya berkata buruk tentang orang lain, maka beliau justru menyebutkan kebaikan orang tersebut. Muhammad bin Sirin juga terkenal dengan birul walidain-nya, sehingga ketika orang lain melihat beliau, beliau nampak seperti orang sakit karena suaranya yang lembut.

 Mereka Mempelajari Adab Selama Bertahun-tahun 
Ibnu Jama'ah selanjutnya menukil perkataan Hasan Al Basri, "Salah seorang di antara kami untuk memiliki adab, kami rela bersafar selama bertahun-tahun."

Ibnu Mubarak adalah salah satu ulama yang dapat kita ambil pelajaran. Ibnu Mubarak pernah membuat teman-temannya keheranan akibat keinginannya untuk bersafar dari Khurasan menuju Bashrah. Kedua tempat ini memiliki jarak yang sangat jauh. Ibnu Mubarak berkata pada teman-temannya bahwa beliau rela melakukannya demi mempelajari akhlak dan adab dari Ibnu 'Aun. Ibnu 'Aun, seorang ulama yang tidak pernah marah.

Sebagian ulama pernah menyampaikan bahwa adab bisa jadi adalah bakat. Tetapi bakat tidak akan mungkin menjadi 'tajam' jikalau tidak pernah kita asah. Sufyan bin 'Uyainah berkata, "Aku melihat bagaimana para sahabat, lalu aku melihat bagaimana Abdullah bin Mubarak, maka kesimpulanku banyak para sahabat tidak lebih utama dari Abdullan bin Mubarak kecuali mereka pernah mendampingi Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan berperang bersama beliau."

Abdurrahman bin Mahdi mengatakan, "Kami sering duduk dalam mejelis bukan untuk mencari ilmu (karena ilmu telah ada di dalam kepala mereka), kecuali kami ingin mempelajari akhlak dan perangai orang tersebut."

Guru Imam Asy Syafi'i, seorang ulama besar, Ali bin Madinih duduk di majelis Yahya bin Sa'id Al Qathan untuk mempelajari akhlak dan perangai beliau. Padahal, kedudukan atau keilmuan guru Imam Asy Syafi'i tersebut di atas Yahya bin Sa'id Al Qathan.

Kisah lain datang dari Imam Ahmad. Dalam majelis beliau yang dihadiri oleh 5000 orang, hanya sekitar 500 orang saja yang mencatat ilmu yang beliau sampaikan, sedangkan 4500 orang lainnya memperhatikan gerak-gerik dan adab Imam Ahmad.

Sementara itu, Imam Hasan Al Basri bisa menjadi teladan lain bagi kita. Beliau pernah dighibahi oleh sesorang. Namun bukannya marah, beliau justru mengirimkan makanan dan mengatakan, "Engkau baru saja menghadiahkan diriku pahala-pahalamu dengan menghibahiku, maka aku ingin membalasnya dengan makanan-makanan ini." Bahkan, dalam riwayat dikatakan bahwa beliau meminta maaf dengan sangat karena makanan yang beliau kirimkan tidak setimpal dengan pahala yang orang itu kirimkan.

Kalalulah kita tidak mengeluarkan segenap kemampuan kita, maka perubahan kita akan minim.

 Mereka Ittiba' Kepada Rasulullah Secara Kaffah 
Sofyan bin 'Uyainah menuturkan, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam  adalah parameter tertinggi, segala sesuatu ditimbang dengan ukuran yang ada pada beliau, baik akhlak, perjalanan hidup beliau, dan petunjuk beliau. Sesuatu hal yang sesuai dengan apa yang ada pada beliau, maka itulah kebenaran. Sedangkan apa yang menyelisihi beliau, maka itulah kebathilan."

Maksud Ibnu Jama'ah menukilkan pernyataan tersebut adalah jika memang kita benar mengikuti sunnah, maka sepatutnya kita ikut secara kaffah, bukan hanya secara parsial. Kalau memang kita mengklaim diri kita pengikut sunnah, maka sudah seharusnya kita mengikuti Rasulullah dengan sempurna, bukan hanya penampilan belaka.

Beberapa ulama aqidah memasukan akhlak bukan sebagai perakara parsial. Al Imam Ahmad bin Abdul Halim dan ulama-ulama lainnya mengatakan bahwa akhlak bukanlah masalah furu', tapi ini adalah masalah ushul. 


 Referensi : 
Kajian Kitab "Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim Fii Adabil 'Alaim wal Muta'alaim (Adab Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu) oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. 2 Desember 2017. Blok M Square, Jakarta. Diakses dari Youtube Channel Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.

You May Also Like

0 comments