Wahai Anakku Belajarlah Adab Dari Mereka

by - 7:51:00 AM

Credit: Google
Sebagaimana telah dikisahkan sebelumnya, para ulama adalah orang-orang yang mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu dan mereka adalah orang-orang yang rela bersafar hingga jauh dari kampung halamnnya demi mempelajari adab. Mereka mampu menjadi orang-orang semisal itu dalam waktu yang tidak instan. Mereka telah didik dari semenjak mereka kecil.

 Mereka Belajar Adab Semenjak Kecil 
Imam Ibnu Jam'ah membawakan perkataan dari Al Imam Habib bin Syahid. Imam Habib bin Syahid berkata kepada anaknya, Ibrahim, "Wahai anakku bersahabatlah dengan para fuqaha, dan bersahabatlah dengan para ulama dan belajarlah dari mereka, dan ambillah adab-adab mereka karena itu lebih aku sukai daripada hafalan hadits-hadits yang banyak." Lihatlah bagaimana ulama, alih-alih membanggakan banyaknya hafalan anak mereka, mereka lebih suka anak-anak mereka mempelajari adab. Artinya, bukanlah kita meninggalkan ilmu-ilmu hadits, tetapi bagaimana ilmu yang telah kita hafal itu meresap dalam hati dan kita amalkan.

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (Q.S. At Tahrim: 6)

Dalam salah satu tafsir, "memelihara keluarga dari api neraka" artinya bahwa para orang tua berkewajiban untuk mengajarkan adab kepada anak-anak mereka. Hal ini sebagaimana dinasehatkan oleh Ibnu Umar. Dari Imam Ibnu Abi Ad Dunya, Ibnu Umar berkata kepada seseorang yang sedang bersama anaknya,  "Wahai fulan, perbaikilah adab anakmu itu karena engkau akan ditanya pada hari kiamat oleh Allah." 

Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, "Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu." Dalam hadits ini kita dapat mempelajari bagaimana Rasulullah mengajarkan adab ketika makan. Hadits ini juga menekankan pada kita bahwa adab itu seharusnya ditanam semenjak kecil sebagai pondasi yang kokoh.

Berbaktinya anak ketika dewasa itu tergantung bagaimana orang tuanya mendidik adab mereka ketika kecil. Sufyan Ats Tsauri sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad Dunya mengatakan, "Salah satu hak anak yang wajib ditunaikan oleh ayah dan ibunya adalah memperbaiki adab-adab anak mereka." Maka, tidaklah cukup bagi orang tua untuk sekadar menyekolahkan anak-anaknya.

Orang tua wajib mendidik mereka untuk tahu bagaimana adab mereka terhadap orang tua, bagaimana adab mereka ketika berada di masjid atau ketika shalat, dan lainnya. Sementara orang tua tidak menunaikan hak tersebut kepada anaknya, maka orang tua telah berbuat dzalim kepada mereka. Lantas, ketika dewasa nanti mereka akan durhaka kepada orang tuanya dan bahkan menyulitkan di akhirat.

Ibnu Qayyim mengatakan bahwa orang tua akan ditanya pada hari kiamat sebelum anaknya. Mengapa demikian? Karena secara umum, baik dan buruknya perangai seorang anak itu tergantung dari pendidikan orang tua kepada anak ketika kecil.

Sufyan Ats Tsauri mengatakan pula, "Di antara hak anak yang wajib ditunaikan kedua orang tuanya, pertama: memberikan nama yang baik, kedua: nikahkanlah mereka saat sudah baligh, ketiga: hajikanlah anak kita, dan keempat: didiklah serta perbaiki adab mereka."

Kembali pada nasehat Imam Habib bin Syahid. Dalam nasehat tersebut dikatakan bahwa anak seharusnya bersahabat dengan fuqaha. Menurut ijma' para ulama yang dinukilakan oleh Ibnu Qayyim, fuqaha, faqih, atau ahli fiqih artinya adalah orang-orang yang menggabungkan antara ilmu dan amal. Dengan kata lain, seorang faqih adalah orang yang menyelaraskan antara ilmu dan amal mereka.

Abu Darda' mengatakan, "Salah satu ciri fiqihnya seseorang atau dalamnya pemahaman seseorang ialah jikalau ia berjalan, masuk, atau keluar, maka ia selalu bersama ahli ilmu."

Mari kita petik banyak pelajaran dari seorang fuqaha bernama Al Qashim bin Muhammad bin Abi Bakr. Al Qashim bin Muhammad bin Abi Bakr adalah salah seorang dari Al Fuqaha' As Saba'ah (Tujuh Tokoh Ulama) di Madinah. Dahulu, Muhammad bin Sirin mengutus seseorang kepada Al Qashim bin Muhammad bin Abi Bakr demi melaksanakan 3 perkara. Sebagaimana diriwiyatkan oleh Imam Malik, 3 hal itu, yaitu 1) memperhatikan adab beliau, 2) memperhatikan pakaian beliau, dan 3) memperhatikan gerak-gerik beliau.

Selanjutnya, suatu hari datanglah seorang badui yang bertanya kepada Al Qashim, "Wahai Al Qashim siapakah yang paling 'alim di antara engkau dan Salim bin Abdillah bin Umar? Al Qashim terdiam sejenak namun tak lama kemudian Salim lewat di depan mereka. Al Qashim lalu menunjuk ke arah Salim dan berkata, "Itu Salim, sekarang kau tanyakan perihal tadi kepadanya."

Pelajaran yang dapat kita petik dari percakapan antara Al Qashim dan seorang badui itu adalah enggannya Al Qashim membanggakan dirinya. Hal ini karena Al Qashim tahu siapa di antara mereka yang lebih berilmu. Di sisi lain, Al Qashim juga tidak ingin berbohong bahwa Salim lebih berilmu dari dirinya.

Al Qashim adalah cucu dari Abu Bakar, sedangkan Salim adalah cucu dari Umar bin Khattab. Ini membuktikan bahwa keshalihan itu tidak dibangun dalam waktu semalam. Keshalihan mereka bahkan telah dibangun sejak era kakek-kakek mereka.

Dalam kitab Imam Adz Dzahabi, Siyar A'lamin Nubala, dikisahkan bahwa Al Qashim itu adalah seorang ahli hadits namun beliau justru jarang berbicara dan jarang berfatwa. Mengapa demikian? Karena beliau takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, beliau takut karena setiap perkataannya akan dihisab dan inilah adab.

Al Qashim pernah berebut sebuah barang dengan seseorang. Al Qashim berkata pada orang tersebut, "Jikalau memang barang itu milik anda, maka ambillah dan tak perlu memujiku. Namun, apabila barang ini milikku, maka aku menghalalkannya untuk kau ambil."

Selanjutnya, mari kita tilik teladan dari seorang sahabat yang paling mirip dengan Rasulullah shalallhu 'alaihi wa sallam, yaitu Abdullah bin Mas'ud. Abdullah bin Mas'ud adalah seorang sahabat yang berakhlak mulia. Akhlak mulianya dibuktikan dengan seorang ulama bernama Zadzan.

Sebelum menjadi seorang ulama, suatu hari Zadzan sedang berkerumun melakukan kemaksitan bersama teman-temannya. Singkat cerita, suatu saat Abdullah bin Mas'ud menegur mereka. Zadzan yang pensasaran bertanya siapakah orang yang barusan menegur mereka. Lantas, teman-temannya menjawab bahwa beliau adalah Abdullah bin Mas'ud seorang ulama yang paling 'alim di Iraq.

Setelah mendengar jawaban temannya, maka Zadzan mencoba mengejar Abdullah bin Mas'ud. Zadzan akhirnya berpapasan dengan Abdullah bin Mas'ud tepat di depan rumah Abdullah bin Mas'ud. Maka, Abdullah bin Mas'ud memeluk Zadzan dan berkata, "Selamat datang wahai sosok yang dicintai oleh Allah."

Bagaimana mungkin Abdullah bin Ma'ud mengatakan orang yang telah bermaksiat itu sebagai orang yang dicintai Allah? Apakah beliau berbohong? Sungguh tidak, bukankah selama seseorang memiliki iman di dalam hatinya, maka dia dicintai oleh Allah? Tapi Allah mencintai sesuai dengan kadar keimanannya dan Allah membenci sesuai kadar kemaksiatannya. Maka, benarlah apa yang dikatakan Abdullah bin Mas'ud. Maka, perkataan beliau tersebut menguggah hati Zadzan.

Kisah Zadzan berlanjut, selepas sambutan yang mengharukan itu, Abdullah bin Mas'ud mempersilahkan Zadzan masuk ke dalam rumah beliau. Tak lama kemudian Abdullah bin Mas'ud menyediakan sepiring kurma ke hadapan Zadzan. Abdullah bin Mas'ud lantas berkata, "Ini aku sediakan untukmu, kalaulah ada hal lain yang dapat aku hidangkan, maka tentu akan aku hidangkan semuanya untukmu." Maka hari itu Zadzan bertaubat dan akhirnya menjadi seorang ulama.

Betapa indah akhlak Abdullah bin Mas'ud. Akhlak beliau didapat tidak lain karena beliau senantiasa bersama-sama dengan Rasulullah. Maka, tak heran akhlak beliau mirip sekali dengan akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sehingga, penting bagi anak-anak untuk bersahabat dengan para 'alim ulama.

Kisah lainnya datang dari Ibunda Imam Malik. Sebelum Imam Malik berangkat menuntut ilmu, maka Ibunda beliau memakaikan imamah kepada beliau dan berpesan, "Wahai anakku berangkatlah kepada Rabi'ah bin Ar Ra'i dan pelajarilah adab Rabi'ah sebelum mempelajari ilmunya."

Selanjutnya, Ibnu Jama'ah membawakan perkataan para ulama, "Wahai anakku, engkau mempelajari satu bab adab itu lebih aku sukai dari pada kau pelajari tujuh puluh bab ilmu." Artinya, para orang tua di masa ulama terdahulu lebih menyukai anak-anak mereka belajar satu bab tentang adab dari pada mempelejari banyak ilmu. Maghlats bin Al Husain (orang paling cerdas pada zamannya) berpesan kepada Ibnu Mubarak, "Kita lebih butuh banyak adab dari pada banyak hadits."

Sebagai catatan akhir, apakah sebenarnya definisi  adab ?  Adab menurut pendapat para ulama salaf adalah  hadyu  (pribadai yang utuh yang menggabungkan antara ilmu dan amal). Artinya, seorang penuntut ilmu sepatutnya tidak hanya sekadar menghafal ilmu tetapi juga harus mengamalkan ilmunya. Sedangkan, Imam Ibnu Mubarak mendefinisikan adab sebagai  kemampuan mengenal jiwa dan nafsu kita lantas menjauhi nafsu kita yang buruk. 


 Referensi : 
Kajian Kita "Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim Fii Adabil 'Alim wal Muta'alim" (Adab Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu) oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. 9 Desember 2017. Blok M Square, Jakarta. Diakses dari Youtube Channel Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.

You May Also Like

0 comments