08. Ingin Mulia?

by - 8:00:00 PM

Credit: Unsplash
Buku ini merupakan buku basic. Namun demikian, basic tidaklah kemudian menjadikan materi dalam buku ini menjadi materi yang remeh. Ingatlah sebuah nasehat: 
من حرم الأصول حرم الوصول
Barangsiapa yang tidak memiliki landasan (dasar/ pondasi), maka dia tidak akan sampai ke tujuan.

Setiap pohon yang rindang memiliki akarnya yang kuat. Semua gedung pencakar langit dibangun di atas pondasi yang kukuh. Demikian pula kita sepatutnya memiliki landasan yang mantap (ilmu) agar tegar dalam menghadapi ujian. Sementara, ilmu akan menjadi kuat manakala pemahaman-pemahaman dasarnya juga kuat.

Bab 1
Keutamaan Ilmu dan Ahli Ilmu serta Keutamaan Mengajarkan dan Mempelajarinya

Urgensi Bab Pertama
Pertama ialah agar ilmu yang kita pelajari membawa keberkahanSyaikh Shalih Al Utsaimin menjelaskan ketika men-syarah kitab ini
من لا يكرم العلمَ لا يكرمه العلمُ
“Barangsiapa yang tidak memuliakan ilmu, maka ilmu tidak akan memuliakan dirinya.” 

Seseorang mungkin memiliki banyak hafalan, namun saat ia enggan memuliakan Al Qur'an, enggan memuliakan hadits-hadits Rasulullah, enggan memuliakan literatur para ulama, maka ilmu yang telah ia hafal itu tidak akan memuliakan dirinya.

Selanjutnya, kita tidak akan dapat memuliakan ilmu tanpa mengetahui kedudukan ilmu itu sendiri. Bukankah ketika kita hendak memuliakan seseorang, maka kita harus terlebih dahulu mengetahui kedudukan orang tersebut? Karena apabila kita tidak mengetahuinya, maka kita bisa keliru dalam memuliakannya.

Kedua ialah agar kita memiliki adab yang luhur dalam menuntut ilmu. Dengan mengetahui keutamaan ilmu dan keutamaan para ulama, maka kita akan terpantik untuk memiliki adab yang luhur di hadapan ilmu dan para ulama.

Sebagai ilustrasi, bayangkan ketika kita berhadapan dengan seorang jendral besar, namun kita tidak mengetahui kedudukannya, maka kita akan menjabat tangannya dengan biasa saja. Bandingkan saat kita tahu bahwa ia adalah seorang jendral besar, maka tentu kita akan lebih khidmat ketika berhadapan dengannya.

Banyak orang tidak memuliakan ilmu dan tidak beradab di hadapan ilmu sebab tidak mengetahui keutamaan ilmu. Padahal, Imam Yusuf bin Al Hussein berujar, "Hanya dengan adab, maka kita mampu memahami hakikat dari ilmu." Syaikh Shalih Al Utsaimin berpendapat, "Ilmu itu indah dan tidak akan ada yang mampu mendapatkan keindahan ilmu, kecuali orang-orang yang indah." Frasa "orang-orang yang indah" maksudnya adalah orang-orang yang indah akhlak, adab, dan perangainya.

Ketiga ialah agar kita bersemangat dalam menuntut ilmu. Manusia adalah makhluk yang bersandar pada asas keuntungan. Kita akan mengerjakan setiap perkara yang mendatangkan keuntungan. Oleh karenanya, Allah banyak menjelaskan tentang keutamaan shalat, keutamaan zakat, keutamaan ibadah haji, keutamaan tauhid, keutamaan mengikuti sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Sebagai contoh, ketika mencari pekerjaan, kita akan cenderung untuk mempertimbangkan gaji yang akan kita dapatkan, tunjangan yang akan kita peroleh ataupun fasilitas yang akan kita terima. Begitulah manusia. Maka, Allah mengajak kita untuk mencari keuntungan yang paling tinggi, yaitu akhirat. Demikian halnya dengan menuntut ilmu agama, kita akan bersemangat mendatangi majelis ilmu, membuka buku, muraja'ah ataupun mencatat jika kita mengetahui keutamaan menuntut ilmu agama. 

Sementara itu, menuntut ilmu itu bukanlah perkara yang mudah, kita butuh perjuangan. Kalaulah memang menuntut ilmu itu mudah, maka mayoritas manusia tentu akan menuntut ilmu. Apalagi, ilmu menuntut kita untuk istiqamah dan mengamalkannya. Keduanya (istiqamah dan pengamalan) sungguh berat. Oleh karena itu, kita butuh suntikan-suntikan motivasi.  

اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا
"Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu."
(Q.S. Muzammil: 5)


 Dalil Pertama tentang Keutamaan Menuntut Ilmu dan Ahli Ilmu 

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ
... niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
(Q.S. Al Mujadilah: 11)

Ibnu Jama'ah membawakan perkataan Abdullah bin Abbas untuk menjelaskan ayat di atas. Abdullah bin Abbas menuturkan, "Ulama itu di atas orang-orang yang beriman sejauh jarak 700 derajat. Jarak  antara satu derajat yang satu dengan yang lainnya adalah sejauh seratus tahun perjalanan."

Para ulama berkomentar terkait perkataan Abdullah bin Abbas. Perkataan "ulama berada di atas orang-orang yang beriman (yang tidak berilmu)" itu pada substansinya benar. Sedangkan, perkataan "700 derajat dan jarak antar derajat" itu tidak valid datang dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Pelajaran Berharga dari Surah Al Mujadilah
Pelajaran pertama, ayat ini secara gamblang menjelaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat di dunia maupun di akhirat. Dengan demikian, apabila kita mendamba kemuliaan, maka kuncinya adalah iman dan ilmu. 

Imam Ibnu Qayyim mengatakan, "Ilmu itu akan mengangkat pemiliknya di dunia maupun di akhirat dan kemampuan ilmu dalam mengangkat seseorang itu melebihi kekuasaan dan harta dalam mengangkat seseorang." Kekuasaan dan harta sesungguhnya hanya mampu mengangkat pemiliknya di dunia semata. Sedangkan, ilmu mampu mengangkat pemiliknya di dunia dan di akhirat.

Sufyan Ats Tsauri berpendapat, "Barangsiapa yang ingin mendapatkan dunia dan akhirat, ia wajib menuntut ilmu agama." Dalam ucapan yang lainnya Sufyan Ats Tsauri berujar, "Sesungguhnya hadits ini mulia, barangsiapa yang ingin mendapatkan dunia dari hadits, maka ia akan mendapatkan dunia, dan barangsiapa yang ingin mendapatkan akhirat dari hadits, maka ia akan mendapatkan akhirat."

Kisah tentang Mulia karena Iman dan Ilmu
Ibrahim Al Harbi berkisah tentang Muhammad bin Abdurrahman Al Auqash. Muhammad bin Abdurrahman Al Auqash memiliki tubuh yang kurang proporsional. Ia memiliki suatu kelainan di leher dan pundaknya. Ibunya yang penuh kasih sayang kemudian menasehati anaknya, "Wahai anakku, tidaklah engkau berada di sebuah majelis, kecuali engkau akan ditertawakan dan direndahkan, maka hendaklah engkau menuntut ilmu karena ilmu akan mengangkat derajatmu." 

Maka, apakah yang terjadi dengan Muhammad bin Abdurrahman Al Auqash? Dia belajar, belajar, dan belajar. Nasehat ibundanya telah menghujam kuat dalam sanubarinya. Sehingga, ia akhirnya menjadi hakim di Kota Makkah selama 20 tahun. Orang-orang banyak berkhidmat padanya. Bahkan, sebagai hakim syar'i, ia telah membuat orang di hadapannya gemetar karena kewibawaannya yang tinggi.

Kisah Budak yang Mulia karena Iman dan Ilmu
Imam Muslim membawakan kisah tentang Nafi' bin Abdil Harits. Suatu hari Nafi' bin Abdil Harits bertemu dengan Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu di daerah 'Usfan. Kala itu, Umar tengah mempercayakan kepemimpinan Makkah kepada Nafi'.

Umar bertanya kepada Nafi', "Siapa yang engkau tunjuk untuk memimpin lembah itu?" Nafi kemudian menjawab, "Ibnu Abza". Lantas, Umar kembali bertanya, "Siapa itu Ibnu Abza?" Maka, Nafi' kembali menjawab, "Seorang budak dari budak-budak kami yang telah dimerdekakan." Lalu, Umar menimpali, "Engkau mempercayakan hal tersebut kepada seorang bekas budak?" 

Nafi' lantas menjawab, "Sesungguhnya dia adalah seorang Ahlul Qur'an dan pakar ilmu faraidh." Dengan demikian, Umar berkata, "Sungguh Nabi kalian shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, "Sesungguhnya Allah mengangkat derajat sebagian manusia dengan Al-Qur`an sebagaimana Allah merendahkan sebagian yang lain dengan Al-Qur`an." Dalam riwayat yang lain, Umar mengatakan, "Ibnu Abza adalah salah seorang yang Allah muliakan derajatnya dengan Al Qur'an."

Kisah Pemuda Mulia karena Iman dan Ilmu
Banyak anak muda yang ingin mendapat pengakuan. Sayang, mereka tidak tahu cara yang paling berkelas untuk mendapatkan pengakuan. Pengakuan dalam hal ini terutama pengakuan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Anak-anak muda zaman ini sungguh berbeda dengan anak-anak muda di zaman para sahabat radhiyallahu ta'ala anhum.

Ingatlah bagaimana kisah Abdullah bin Abbas yang Umar libatkan dalam majelis para alumni Perang Badar. Dalam riwayat Bukhari, Abdullah bin Abbas berkata tentang Umar, "Umar sering mengajakku untuk berkumpul dengan para ahli Perang Badar." Sedangkan, pada awalnya para sahabat senior yang lain merasa risih dengan keberadaan Ibnu Abbas yang masih kecil. 

Seorang sahabat kemudian akhirnya bertanya pada Umar, "Mengapa engkau menyertakan anak ini dalam majelis kita?" Maka, Umar balik bertanya, "Menurut kalian, apa yang kalian pahami tentang Surah اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ ?" Para sahabat lantas menjawab, "Allah memerintahkan kita untuk bertasbih, memerintahkan kita untuk memujinya, memerintahkan kita untuk beristighfar (khususnya ketika meraih kemenangan)."

Mendengar jawaban para sahabat, Umar kemudian bertanya kepada Abdullah bin Abbas tentang pendapatnya terkait surah tersebut. Abdullah bin Abbas pun menjawab, "Surah ini adalah tanda bahwa ajal Rasulullah telah dekat sebab risalah telah sempurna." Maka, Umar menimpalinya dan berujar, "Yang aku pahami tentang surah itu sama seperti pemahaman Abdullah bin Abbas."

Mulia karena Bersusah Payah Menuntut Ilmu
Siapa di antara kita yang tidak mengenal Imam Ibnul Jauzi? Ibnul Jauzi pernah berkata di dalam risalah yang ia tulis untuk anaknya, "Aku menjual dua buah rumah kemudian hasil penjualan itu aku gunakan untuk belajar dan belajar. Sehingga, aku tidak menyisakan sepeserpun uang demi menuntut ilmu. Ayahmu ini, wahai anakku, tidak pernah terhina sepanjang menuntut ilmu karena Allah memuliakanku. Aku juga tidak pernah mengutus seseorang untuk meminta apapun dan hidupku terjamin." Lantas, Ibnul Jauzi menyitir ayat Al Qur'an, yaitu surah Ath Thalaq ayat 2 dan 3. 


وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.


 Referensi : 
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. (2018). Ingin Mulia? Dalam kajian kitab "Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim Fii Adabil 'Alim wal Muta'alim (Adab Para Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu)".

You May Also Like

0 comments