Adakah Kau Temui Kesyahduan Yang Sama Seperti Perpisahan Mereka?

by - 5:49:00 PM

Credit: Unsplash
Bagaimanapun perpisahan terlalu kikir untuk menyisakan hati yang gempita. Tragisnya, kita sulit mengelak dari perpisahan akibat perjumpaan yang terbina. Namun, perpisahan tak melulu semengerikan itu. Karena setiap perjumpaan dan perpisahan adalah bagian dari takdir Allah yang bergelimang kebijaksanaan.

Perpisahan mungkin membuat hati antipati bahkan mungkin geram. Padahal, Allah lebih tahu bagaimana seharusnya setiap peristiwa berlaku. Sayang, acap kali kita payah dalam menandingi perpisahan. 

Tetapi, bagaimana menurut kalian tentang perpisahan paling syahdu yang pernah ada dalam catatan sejarah? Perpisahan yang menyisakan hati yang lapang bagi mereka yang berpisah. Perpisahan yang menasehati kita bagaimana caranya bergantung utuh pada Allah yang Maha Kaya dan Maha Memelihara hamba-Nya.

Inilah kisah dua orang hamba yang melukiskan syahdunya sebuah perpisahan. Inilah kisah mereka,  seorang budak dan seorang nabi yang mulia. Mereka adalah Hajar dan Nabi Allah Ibrahim 'alaihissalam. 

Hajar seorang hamba sahaya dari negeri Mesir. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa Hajar tidak begitu saja terlahir ke dunia ini sebagai seorang budak. Hajar adalah seorang putri raja yang harus rela kehilangan tahta akibat kerajaannya kalah perang. 

Ibrahim 'alaihissalam ialah seorang nabi yang terkenal sebagai salah satu khailullah (kekasih Allah). Seorang nabi yang mahsyur dengan ketawakalnya. Seorang nabi yang mengerdilkan pertolongan malaikat karena teguh akan pertolongan Allah yang tiada duanya. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengisahkan perpisahan mereka dengan indah. Terkisah sebelum menikah dengan Hajar, Nabi Ibrahim 'alaihissalam menikah dengan seorang perempuan terhormat bernama Sarah. Mereka lantas hijrah menuju negeri Mesir setelah Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api. 

Kala itu keduanya justru bertemu dengan raja sombong lagi tamak. Dengan pertolongan Allah keduanya dapat selamat dari raja tersebut. Kabar baiknya, berkat pertolongan Allah pula keduanya justru mendapatkan hadiah seorang budak, yaitu Hajar.

Sarah yang telah tua dan belum juga mampu memberikan keturunan akhirnya menghadiahkan Hajar kepada Nabi Ibrahim. Sarah bermaksud agar Nabi Ibrahim menikahi Hajar. Maka, segala puji hanya bagi Allah, Hajar pun mengandung lantas melahirkan anak Nabi Ibrahim, yaitu Isma'il. Namun demikian, Sarah merasa cemburu dengan Hajar.

Ketika Nabi Ibrahim berselisih paham dengan istrinya Sarah, beliau lantas membawa Hajar dan Isma'il pergi.  Mereka hanya membawa sekantung air dan sekantung kurma. Saat Nabi Ibrahim mencapai Makkah, beliau menempatkan keduanya di bawah pohon rindang di dekat sumur zam-zam.

Nabi Ibrahim kemudian melangkah pergi, maka Hajar menyusul beliau seraya bertanya, "Wahai Ibrahim kemana hendaknya engkau akan pergi?" Lalu Hajar kembali bertanya, "Apakah engkau akan meninggalkan kami dilembah yang sunyi dan tak berpenghuni ini?"

Hajar terus menerus menanyakan hal itu pada suaminya. Tetapi, Nabi Ibrahim tak kuasa untuk menoleh padanya. Maka Hajar bertanya kembali, "Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?" Ibrahim menjawab,  "Ya."  Maka, Hajar pun berujar,  "Kalau memang demikian, maka Allah tidak akan mengabaikan kami." 

Hajar akhirnya kembali ke tempatnya dan Ibrahim melanjutkan perjalanannya hingga ketika sampai pada sebuah bukit dan mereka tidak melihatnya lagi, Ibrahim menghadap ke arah Ka’bah lalu berdoa untuk mereka dengan mengangkat kedua belah tangannya.

Nabi Ibrahim berdo'a, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Demikianlah, sepenggal kesyahduan dari sebuah perpisahan. Ketika yang seorang mengukuhkan ketabahannya pada Allah, yang seorang lagi menitipkan mereka pada Dzat yang Maha Memelihara. Mereka berjumpa karena Allah dan mereka pun berpisah karena Allah. Maka, adakah kita temui perpisahan yang lebih elok dari kisah mereka? 

Segala puji bagi Allah, semoga kita menjadi hamba yang menjumpai dan berpisah dengan saudara kita karena-Nya, aamiin... 

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata, yaitu ...  dua orang yang saling mencintai karena Allah, dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah  ..." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana perpisahan menurut mereka?


 Referensi : 
El-Rasheed, Brilly. (2014). Ibunda Nabi Isma'il. Dikases pada 13 Januari 2018, dari https://thaybah.id/2014/04/ibunda-nabi-ismail/.

Kisah Muslim. (2012). Kisah Nabi Ismail 'Alaihissalam (Bagian 1). Diakses pada 13 Januari 2018, dari http://kisahmuslim.com/2583-kisah-nabi-ismail-alaihissalam-bagian-1.html.

Kisah Muslim. (2015). Meneladani Nabi Ibrahm. Diakses pada 13 Januari 2018, dari http://kisahmuslim.com/4816-meneladani-nabi-ibrahim.html.

Sunnah. Sahih al-Bukhari, Book of Prophets, (9) Chapter: And Allah's Statements: "... hastening". Diakses pada 13 Januari 2018, dari https://sunnah.com/bukhari/60/44.

Yuliar, Rizal. (2013). Meneladani Nabi Ibrahim Alaihissalam. Diakses pada 13 Januari 2018, dari https://almanhaj.or.id/3475-meneladani-nabi-ibrahim-alaihissallam.html.

You May Also Like

0 comments