Keberkahan Waktu

by - 12:13:00 PM

Credit: Unsplash
"Demi masa, sungguh, manusia dalam kerugian..." (Q.S. Al 'Asr: 1-2)

Dalam sebuah kajian, seorang jama'ah melayangkan rasa penasarannya tentang Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Dia menulis dalam secarik kertas untuk bertanya pada Ustadz yang sedang mengisi kajian tersebut. Dia penasaran bagaimana Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam mampu mengatur waktunya yang padat. Dia berujar dalam kertasnya, "Bukankah beliau adalah seorang kepala negara; seorang panglima perang; seorang kepala keluarga; seorang suami; dan sekaligus seorang rasul? Bagaimana mungkin beliau melakukannya dengan baik?"

Ustadz yang mendapat pertanyaan tersebut, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri kemudian menjawab, "Itu terletak pada  keberkahan waktu , hadirin." Mendengar jawaban beliau membuat awesome writer termenung dan mempertanyakan diri sendiri, "Sudahkah waktuku penuh berkah?" Maka, tanpa berpikir terlalu dalam, aku pun tahu jawabannya, "Belum."

Apa itu Berkah/ Barakah?
Berkah atau barakah dalam Al Qur'an dan As Sunnah berarti menetap atau bertambah dan berkembangnya sesuatu. Artinya, sesuatu yang terdapat keberkahan di dalamnya, maka ia akan langgeng atau bertambah kebaikannya atau bahkan bermakna kedua-duanya (langgeng dan bertambah). Dalam hal waktu, maka keberkahan secara sederhana dapat berarti  waktu yang sedikit menghasilkan banyak sekali manfaat  bagi pelakunya.

 Keberkahan Waktu Orang-orang Shalih 
Kita kembali pada pertanyaan tentang keberkahan waktu Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Dalam pertanyaan tersebut telah tergambar bagaimana Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memanfaatkan 24 jam per harinya dengan paripurna. Bahkan, kalaulah berbicara tentang Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam itu terlalu melangit, maka kita bisa menelaah bagaimana ulama-ulama setelah generasi sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in memanfaatkan waktu mereka.

Seorang ulama yang sangat populer, Imam An Nawawi rahimahullah membuat hati ini tertegun. Aku terkesima dengan keberkahan waktu yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan pada beliau. Beliau adalah seorang yang gemar menulis. Beliau telah menulis lebih dari 40 kitab dalam hidupnya. Beberapa judul kitab beliau tidak hanya terdiri dari satu atau dua jilid. Sementara, beliau hidup di dunia ini hanya sampai umur 45 tahun. 

Secara logis, mungkinkah seseorang mampu menulis begitu banyak kitab seperti beliau? Bahkan,  jumlah kitab yang ditulisnya melebihi jumlah umur beliau sendiri? Itulah keberkahan waktu. Dengan keberkahan waktu dari Allah, maka hal semacam itu sangat mungkin dilakukan. Waktu yang sedikit tapi mendulang banyak manfaat.

Dan kejutan! 
Walau terasa seperti di luar nalar, beliau bukan satu-satunya manusia yang Allah anugerahi keberkahan waktu. Maka, segala puji hanya bagi Allah yang telah membimbing awesome writer untuk mau menelaah lebih lanjut berkaitan dengan keberkahan waktu ini. 

 Bagaimana Meraih Keberkahan Waktu ? 

"Menyianyiakan waktu itu lebih buruk daripada kematian sebab kematian memisahkanmu dari dunia ini, sementara menyianyiakan waktu memisahkanmu dari Allah." (Ibnu Qayyim)

 1). Niat yang Lurus 
Dari Umar bin Khathab, bahwasannya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada  niat ; dan sesaungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya."

Ibnu Hajar berkata, Al Baihaqi menjelaskan tentang hadits tersebut bahwa amal usaha seorang hamba bisa dihasilkan dengan hati, lisan, dan anggota badannya. Niat adalah salah satu amalan hati dan merupakan sarana beramal yang terkuat dari ketiganya, karena niat bisa menjadi salah satu ibadah yang berdiri sendiri dan sangat dibutuhkan oleh ibadah-ibadah yang dihasilkan oleh anggota badan lainnya (Tuasikal, 2008). Sehingga, marilah kita kembali memperbaiki niat kita. Mari kita luruskan niat demi mengharap wajah Allah semata.

 2). Meminta Pertolongan Kepada Allah 
Sungguh, setiap amal shalih yang kita lakukan tidak lain datangnya dari Allah. Allah yang telah menganugerahkan kita  kebahagiaan iman . Allah yang telah menggerakkan hati, lisan, dan seluruh anggota badan untuk rela tunduk patuh pada-Nya. Perkara yang terlalu mudah bagi Allah untuk segera saja menyita kenikmatan iman yang kita rasakan. Sementara, seringkali jiwa ini merasa angkuh bahwa segala ketaatan datangnya karena usaha diri. Maka, meminta pertolongan Allah selamanya harus menjadi pilihan. Mari kita terus berdo'a kepada Allah agar menolong kita untuk dapat terus memetik keberkahan.

 3). Mengucapkan "Bismillah" 
Mengucapkan bismillah sebelum memulai segala kebaikan bisa menjadi kunci lain meraih keberkahan. Sebagaimana yang Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam sabdakan, "Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan 'bismillahirrahmanirrahim,' maka amalan tersebut terputus berkahnya." (H.R. Al Khatib)

 4). Berdzikir dan Membaca Al Qur'an di Pagi Hari 
Al Qur'an adalah "mata air" keberkahan, namun sayang kita jarang mengambil manfaat darinya. Padahal, Allah telah menegaskan dalam firman-Nya:

Dan ini (Al Qur'an), Kitab yang telah Kami turunkan dengan penuh berkah; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya ... (Q.S. Al An'am: 92)

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan para salafush shalih terdahulu terbiasa mengisi waktu pagi mereka dengan berdzikir kepada Allah dan membaca Al Qur'an hingga terbit matahari. Di antara teladaan dari para salafush shalih berkaitan dengan hal ini ialah Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama yang gemar beribadah dan menggunakan waktunya dalam hal yang beramanfaat. Beliau senantiasa menyibukkan waktunya untuk belajar, menulis, atau beribadah. Karya tulis beliau telah mencapai 300 atau 500 jilid, bahkan lebih dari itu, tersebar hingga ke banyak penjuru negeri.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah, berkata tentang gurunya, Ibnu Taimiyah, "Jika Allah menghendaki kebaikan pada seseorang, maka Allah akan menolongnya untuk memanfaatkan waktu dengan baik, waktu tersebut yang akan menolongnya. Sebaliknya, jika Allah menghendaki kejelekan, waktunya malah menjadi celaka bagi dirinya. Waktu tersebut akan merintangi dan tidak akan menolongnya. Jadi, kalau ia punya semangat yang kuat untuk memanfaatkan waktu dalam kebaikan, waktu tersebut akan mendukung dan menolongnya."

Ibnu Qayyim juga mengatakan, "Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah suatu saat shalat subuh. Kemudian (setelah shalat subuh) beliau duduk sambil berdzikir kepada Allah Ta'ala hingga pertengahan siang. Kemudian berpaling padaku dan berkata, 'inilah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku!' - atau perkataan semisal ini."

 Nutrisi spritual  semacam itulah yang dapat mengisi ulang semangat kita terus menerus sepanjang hari. Hal ini sama persis seperti sarapan yang berfungsi untuk memantik energi. Sarapan yang berguna untuk menyegarkan otak, menjaga konsentrasi, dan mencegah datangnya penyakit.

 5). Mengikuti Sunnah-Sunnah Rasulullah 
Abu Productive dalam artikelnya menuliskan bahwa manusia paling produktif sepanjang sejarah adalah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Maka, cukup dengan mengikuti apa yang beliau contohkan, berkah itu akan berhambur dalam kehidupan kita.

 6). Bersyukur Kepada Allah 
Bersyukur dalam hal ini tidak hanya tentang mensyukuri nikmat materi yang Allah beri. Tetapi, sudahkah kita juga bersyukur akan nikmat ketaatan? Bersyukur ketika kita bisa bersyukur. Bersyukur ketika mampu menunaikan dzikir pagi dan petang dan bersyukur akan ketaatan lainnya. Dengan begitu, apa yang Allah janjikan tentu akan terwujud: bertambahnya nikmat (iman).

Kisah dari Abdullah bin Mas'ud semoga bisa menjadi salah satu teladan yang menjernihkan rasa syukur kita. Abdullah bin Mas'ud atau Ibnu Mas'ud adalah seorang sahabat yang paling mirip dengan perangai Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana Rasulullah yang senantiasa mengisi waktu pagi beliau dengan berdzikir hingga terbit matahari, maka demikian pula Ibnu Mas'ud.

Ibnu Mas'ud berdzikir dan berdzikir lalu memanggil budaknya untuk melihat apakah matahari sudah terbit ataukah belum. Ketika sang budak menyampaikan pada beliau bahwa matahari masih belum terbit maka ia lanjutkan dzikirnya. Beliau terus melanjutkan dzikirnya kemudian bertanya pada sang budak, berdzikir, lantas bertanya pada sang budak hingga kemudian matahari benar-benar terbit. Setelah itu, maka Abdullah bin Mas'ud mengucapkan syukurnya pada Allah:


"Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami berdzikir pada pagi hari ini." (H.R. Muslim)

 7). Muhasabatun Nafs dan Bertaubat Kepada Allah 
Bermuhasabah, mawas diri, atau intropeksi merupakan jalan orang-orang bertaqwa agar dapat menjadi pribadi yaang senantiasa istiqamah. Bermuhasabah artinya kita menelaah dan meniliti diri sendiri akan dosa-dosa yang telah diperbuat. Kita mengoreksi diri apakah amal-amal yang telah dilakukan cacat dari keikhlasan kepada Allah dan semisalnya.

Muhasabah akan berbuah manis bagi setiap pelakunya. Buah manis dari muhasabah itu adalah taubat. Setelah kita menginsyafi berbagai kekurangan diri, maka kita akan tergerak untuk bertaubat kepada Allah. Sementara, taubat kepada Allah itu akan mengantarkan kita kepada rahmat dan berkah-Nya.

"Wahai kaumku, minta ampunlah kepada Rabb kalian kemudian bertaubatlah kepada-Nya niscaya akan dikirmkan kepada kalian awan dengan membawa air hujan yang lebat dan akan diberikan kekuatan tambahan kepada kalian, dan janganlah kalian berpaling menjadi orang yang berbuat dosa." (Q.S. Hud: 52)

 8). Keep Practice! 
Awesome writer sebagai penulis blog insight ini sungguh tak terlepas dari kesalahan dan kegagalan. Mari kita tetap berlatih untuk terus menjadi hamba yang bertaqwa. Dan hanya Allah yang dapat menolong agar kita tetap istiqamah dan terus menuai keberkahan dalam setiap denting waktu. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang diberkahi, aamiin.


 Referensi : 
Productive, Abu. 18 Sources of Barakah!. Diakses pada 31 Desember 2017, dari http://productivemuslim.com/18-sources-of-barakah/.

Sheima. (2015). How to Get More Barakah Out of Your Time: "Getting the Barakah: An Islamic Guide to Time Management." Diakses pada 31 Desember 2017, dari http://howtobeahappymuslim.com/?p=637.

Tarmizi, Noviyardi Amarullah. (2016). Mengapa Perlu Muhasabah Diri?. Diakses pada 1 Januari 2018, dari https://muslim.or.id/401-keutamaan-taubat.html.

Tuasikal, Muhammad Abduh. (2008). Menghadirkan dan Mengikhlaskan Niat Dalam Amal Ibadah. Diakses pada 1 Januari 2018, dari https://muslim.or.id/145-menghadirkan-dan-mengikhlaskan-niat-dalam-amal-ibadah.html.

Tuasikal, Muhammad Abduh. (2009). Keberkahan di Waktu Pagi. Diakses pada 1 Januari 2018, dari https://rumaysho.com/36-semangat-di-waktu-pagi-yang-penuh-berkah.html.

Tuasikal, Muhammad Abduh. (2010). Cara Mudah Meraih Berkah. Diakses pada 31 Desember 2017, dari https://rumaysho.com/1192-cara-mudah-meraih-berkah.html.

Tuasikal, Muhammad Abduh. (2012). Semangat Ibnu Taimiyah Dalam Menulis. (Diakses pada 1 Januari 2018, dari https://rumaysho.com/3010-semangat-ibnu-taimiyah-dalam-menulis.html.

Tuasikal, Muhammad Abduh. (2016). Mulailah dengan Bismillah. Diakses pada 1 Januari 2018, dari https://rumaysho.com/14810-mulailah-dengan-bismillah.html.

Wahyudi, Ari. (2008). Keutamaan Taubat. Diakses pada 1 Januari 2018, dari https://muslim.or.id/401-keutamaan-taubat.html.

You May Also Like

0 comments