Muliakan Mereka, Anda akan Mulia

by - 7:50:00 PM

Credit: Unsplash
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
(Q.S. Al Mujadilah: 11)

 Pelajaran Berharga dari Surah Al Mujadilah 
Pelajaran kedua, disampaikan oleh Al Imam Ibnu 'Asyur dalam kitab tafsirnya At Tahwir wal Tanwir, ayat ini mengajarkan kita untuk memuliakan ulama (memuliakan ahli ilmu) sebab salah satu cara memuliakan ilmu adalah  memuliakan para ahlinya.  

Ayat ini turun karena suatu sebab. Pada suatu saat, majelis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah penuh oleh banyak orang. Lantas, datanglah para ahli Badar. Namun, karena ruangan telah penuh sesak, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh mereka, yang lebih dahulu hadir, untuk berdiri lalu merapat. Tetapi, beberapa sahabat enggan untuk berdiri dan memberi kelapangan bagi para ahli Badar. Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat ini.

Ayat ini mendidik kita untuk memuliakan ulama dan ini merupakan poin yang sangat penting. Belakangan, banyak ulama merasa prihatin terkait perkara ini, sebab banyak orang lalai dari memuliakan para ahli ilmu. Mereka tak jarang mencela, su'udzhan, menyebarkan isu, mengghibah, bahkan memfitnah para ahli ilmu.

 Poin-poin Penting : 
 1). Memuliakan para ulama adalah salah satu prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah. 
Ini bukan masalah furu', ini bukan masalah cabang, namun ini adalah masalah prinsip. Setiap kita adalah anak cucu Adam. Setiap anak cucu Adam mustahil terlepas dari kesalahan. Para ulamapun adalah anak cucu Adam. Dengan demikian, tidak mungkin mereka terhindar dari kesalahan. Maka, memuliakan mereka tetap harus kita lakukan. Karena di balik kekurangan mereka, mereka tetap berusaha untuk mengamalkan dan mendakwahkan ilmu mereka.

Imam Abu Ja'far Ath Thahawi berpendapat, "Dan ulama terdahulu dari kalangan sahabat, lalu generasi selanjutnya dari kalangan tabi'in, orang-orang baik dan orang-orang yang berkomitmen terhadap atsar, dan pakar-pakar fiqih tidak boleh diperbincangkan, kecuali tentang hal-hal yang baik saja. Barangsiapa membicarakan keburukan tentang mereka, maka dia telah keluar dari jalan para Ahlussunnah wal Jama'ah."

Manusia tidak terlepas dari khilaf. Di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saja pernah ada sahabat yang melakukan maksiat, namun mereka segera bertaubat. Tetapi, mereka tetap ahli dalil. Kita juga bisa mengambil contoh dari Imam Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah tidaklah memiliki perbendaharaan hadits sebanyak ulama-uama di Madinah. Sehingga, beliau sering kali menggunakan qiyas dan yang semisal. Mereka bukanlah malaikat (yang diciptakan bebas dari dosa).

"Bukan bagian dari kami, orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda, dan orang yang tidak mengetahui hak-hak para ulama."
(H.R. Imam Ahmad dan At Tirmidzi)

Yahya bin Ja'far berujar, "Kalau aku bisa menambah umur Muhammad bin Ismail (Al Bukhari) dengan umurku, maka akan aku berikan umurku. Karena meninggalnya diriku adalah meninggalnya satu orang. Sementara, jika Muhammad bin Ismail meninggal, maka hilanglah ribuan hadits."

 2). Meremehkan, menjatuhkan, dan tidak memuliakan para ulama adalah dosa besar. 
Imam Ahmad bin Adhra'i menyatakan, "Menjatuhkan nama baik ahli ilmu, terutama mereka yang telah lanjut usia, maka itu termasuk di antara dosa-dosa besar." Al Imam Ibnu Mubarak mengatakan, "Barangsiapa yang merendahkan ulama, dia baru saja kehilangan akhiratnya."

 3). Melukai atau menyakiti ulama itu seperti melukai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. 
Dari Abdullah bin Abbas, "Barangsiapa yang menyakiti para fuqaha, maka baru saja ia menyakiti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan barangsiapa yang menyakiti Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam, ia baru saja menyakiti Allah Subhanahu wa Ta'ala."

Ibnu Abbas menyatakan pendapatnya itu dengan menukil dari hadits qudsi, "Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya." Imam Asy Syafi'i berujar, "Kalaulah para fuqaha bukan termasuk wali-wali Allah, maka Allah tidak memiliki wali di dunia."

 4). Menjatuhkan dan menyakiti ulama adalah salah satu sebab su'ul khatimah. 
Su'ul khatimah adalah musibah yang sangat besar. Imam Ibnu Asakir mengatakan, "Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah memberikan taufik kepada kami dan engkau untuk senantiasa mendapatkan ridha-Nya dan menjadikan kita semua orang-orang yang takut kepada-Nya serta bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa. Daging para ulama itu berracun dan telah kita saksikan bagaimana orang-orang yang menghinakan para ulama, Allah hinakan pula diri mereka. Barangsiapa dengan leluasa memainkan lisannya ketika berbicara tentang ulama, maka Allah akan menghukumnya sebelum kematiannya (dengan mematikan hatinya)."

Kalimat "daging para ulama itu berracun" dapat kita pahami dengan menelaah Q.S. Al Hujurat: 12,

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.

 5). Menjatuhkan para ulama akan membuat kita terkena do'a orang yang terdzalimi. 
Imam Abdul Abbas Al Hasan bin Sufyan berujar, "Bertaqwalah kepada Allah dalam menyikapi para masyaikh (orang tua/ ulama/ guru) karena bisa jadi do'a mereka diijabah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala."

 Kisah Mereka yang Memuliakan Ulama 
Suatu ketika Zaid bin Tsabit datang dengan menaiki kendaraannya. Lantas, Ibnu Abbas menuntun kendaraan Zaid bin Tsabit tersebut. Zaid bin Tsabit kemudian berkata pada Ibnu Abbas agar membiarkannya untuk menambatkan kendaraanya sendiri. Namun, Ibnu Abbas justru berujar padanya, "Beginilah kami diperintah oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam memperlakukan ulama-ulama kami." 

Lihatlah Ibnu Abbas, begitulah seharusnya kita memperlakukan ulama. Padahal, dirinya sendiri juga termasuk ulama yang mempunyai murid. Dia tidak lantas menyuruh muridnya untuk memuliakan Zaid bin Tsabit. Tapi, dia sendiri yang turun langsung untuk memuliakan Zaid bin Tsabit.

Kita juga bisa meneladani hal lain dalam kisah ini. Kita lihat Zaid bin Tsabit yang menolak perlakuan Ibnu Abbas. Begitulah seorang ulama yang sesungguhnya. Ulama sejati enggan untuk dimuliakan. 

Ada pula kisah lain, datangnya dari Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad bin Hanbal seorang imam yang masyhur. Ada ribuan jama'ah yang hadir di majelis beliau. Imam Ahmad bin Hanbal gemar untuk memuliakan ulama. Beliau menuntun tunggangan Imam Daud bin 'Amr. 


 Referensi : 
Kajian Kitab "Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim Fii Adabil 'Alim wal Muta'alim (Adab Para Penuntut Ilmi dan Adab Para Ahli Ilmu)" oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. 20 Januari 2018. Blok M Square, Jakarta. Diakses dari Youtube Channel Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. 

You May Also Like

0 comments