14. Tanda Tanya

by - 8:00:00 PM

Pada pekan-pekan sebelumnya telah disebutkan penjelasan Ibnu Asyur tentang enam perbedaan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, di antaranya: (1) orang yang berilmu mengetahui arah dan tujuan hidupnya, (2) orang yang berilmu mengetahui setiap lubang (kendala) yang akan menghambatnya menuju surga, (3) orang yang berilmu senantiasa merasa nyaman dalam menghadapi segala takdir Allah, (4) orang yang berilmu tidak bergantung kepada manusia, (5) orang yang berilmu akan menikmati keindahan dan manisnya ilmu, dan (6) orang yang berilmu akan mendapatkan banyak kebaikan.

Sebagai tambahan untuk poin keenam, Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa terdapat sejumlah 150-an kebaikan yang akan diperoleh orang-orang berilmu. Penjelasan beliau ini dapat ditelaah dalam kitab Miftah Daaris Sa'adah. Sebagian kebaikan dalam kitab tersebut kita bahas dalam bab ini seperti: (1) jalan pintas menuju surga, (2) dinaungi malaikat, dan (3) mendapatkan istighfar dari ikan-ikan yang ada dalam perairan tanpa kita memintanya.

Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dasar lautan.
(H.R. Abu Daud)

Tidakkah kita menyadari ketika pulang dari majelis ini dosa-dosa kita mungkin telah bersisa 20% atau 10%? Dosa-dosa kita berkurang karena ikan-ikan beristighfar untuk kita. Ini sebagaimana yang telah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kabarkan di atas bahwa seluruh penghuni langit dan bumi hingga ikan-ikan yang ada di perairan beristighfar untuk kita.

Ustadz Nuzul: "Saya ingin bertanya, jumlah ikan teri berapa?  Itu baru teri. Kita belum bicara tongkol, bandeng, kakap. Itu baru ikan, belum kerang dan kerang hijau. Belum lagi hewan-hewan yang lainnya. Ini sederhana, tapi coba kita renungkan berapa jumlah mereka. Oleh karenanya, para ulama tidak peduli berapa uang yang harus mereka keluarkan. Ada di antara mereka yang menjual genteng, menjual baju, atau menjual rumah."

Sungguh ampunan itu akan kita dapatkan asal kita benar (ikhlas) dalam belajar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahkan bersabda bahwa ketenangan akan diturunkan dalam diri-diri orang berilmu. Imam Malik bin Dinar kemudian menuturkan bahwa ketika ahli dunia meninggal, mereka keluar dari dunia tanpa merasakan kenikmatan tertinggi, yakni ma'rifatullah. 

Dengan demikian, poin yang keenam ini merupakan poin penting sebab manusia pada dasarnya bertindak diatas asas keuntungan. Apabila dia merasa sesuatu itu menguntungkannya, maka dia akan maju. Tabiat ini tentu tidak bermasalah dengan syarat keuntungan yang ia tuju adalah keuntungan yang diridhai dan mengundang ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Bab 1
Dalil Keempat tentang Keutamaan Menuntut Ilmu dan Ahli Ilmu

فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
(Q.S. An Nahl: 43)

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang berhak berbicara tentang ayat-ayat Allah adalah ahli ilmu. Artinya, orang-orang awam tidak diperkenankan untuk berbicara atau berfatwa (menjelaskan tentang hukum agama). Adapun orang awam yang hendak menjelaskan perkara agama, maka ia harus menyertakan referensinya. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam An Nawawi.

Orang awam bertanya dan ahli ilmu menjawab serta menerangkan. Maka, sebagai ahli ilmu hendaknya kita lebih banyak menggunakan "tanda tanya (?)", bukan tanda seru (!). Janganlah kita dengan serampangan menyatakan, "Ini sesat!" dan sebagainya. Bertanyalah kepada ahli ilmu karena merekalah yang berhak menghukumi sesuatu.

Adab Bertanya
(1) Menjaga dan Memperhatikan Adab Kita di hadapan Ahli Ilmu
Kita hendaknya mendahulukan salam sebelum bertanya kemudian mendoakan kebaikan kepada sang ahli ilmu. Kita hendaknya pula bertanya dengan bahasa yang baik, singkat, dan padat. Jangan sampai kita menghabiskan waktu beliau. Kita hendaknya berbicara dengan intonasi yang baik dan santun. 

(2) Kita harus Memuliakan Ahli Ilmu dan Mengangkat Kedudukannya
Janganlah sampai orang awam melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan di antara mereka saat berhadapan dengan ahli ilmu. Sebagai contoh ialah menunjuk wajah ahli ilmu dengan tangannya.

(3) Jangan Bertanya pada Ahli Ilmu pada Saat Tidak Tepat
Kita hendaknya tidak bertanya kepada ahli ilmu ketika beliau sedang marah, sedih atau yang semakna dengannya. Bertanyalah pada ahli ilmu saat kondisi beliau sedang nyaman. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memberi peringatan kepada ahli ilmu agar tidak memutuskan perkara dalam kondisi marah. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Jangan sekali-kali seorang hakim di antara kedua belah pihak yang berselisih memutuskan perkara mereka dalam kondisi marah."
(H.R. Bukhari)

Kenapa ini penting? Karena ini adalah perkara surga dan neraka. Jika sang ulama salah berfatwa sebab ditanyai pada saat yang kurang tepat, maka pertanggungjawabannya besar di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala nanti.

(4) Tidak Diwajibkan Bertanya tentang Dalil dari Suatu Fatwa
Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak semestinya orang awam menanyakan dalil dari fatwa yang dikeluarkan oleh ahli ilmu di majelis fatwa tersebut. Sehingga, hal ini tidak akan menimbulkan kesan ketidakpercayaan terhadap fatwa tersebut. Alasan lainnya ialah apabila dalil tersebut disampaikan sekalipun, maka orang awam cenderung tidak akan mengerti pendalilannya.

Tetapi, sebagian ulama lainnya memperbolehkan bertanya tentang dalil dari suatu fatwa. Pendapat ini sendiri adalah pendapat yang rajih. Hal ini diperbolehkan dengan niat untuk meminta arahan, bukan untuk mendebat. Ahli ilmu hendaknya menjelaskan jika dalilnya tegas, jelas, dan dapat dipahami oleh akal orang awam.

Analogi sederhana, jika kita diberi resep oleh dokter, apakah kita bertanya tentang dalilnya? Apakah kita bertanya tentang kandungannya dan yang semisal? Kita tentu cenderung mengiyakan apa yang dokter tulis pada resep. Dokter tidaklah wajib menyampaikan dalil atas resep yang ia tulis sebab jika disampaikan pun orang awam tidak akan mengerti. Tugas kita ialah datang ke dokter yang tepat. Ini sama halnya dengan menuntut ilmu, tugas kita adalah datang pada ahli ilmu yang tepat.

(5) Niatkan Ketika Bertanya adalah Untuk Beribadah kepada Allah
Ketika Kita sedang bertanya hendaknya kita resapi bahwa kita sedang beribadah kepada Allah. Beribadah sendiri bermakna menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ingatlah, ketika kita bertanya namun belum mendapat jawaban dari ahli ilmu, kita akan mendapat pahala karena kita mengamalkan ayat yang sedang kita bahas.


 Referensi: 
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. (2018). Tanda Tanya. Dalam kajian kitab "Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim Fii Adabil 'Alim wal Muta'alim (Adab Para Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu)".

You May Also Like

0 comments