15. Bertanya Kepada Siapa?

by - 8:00:00 PM

Credit: Daniel Jensen on Unsplash
Bab 1
Dalil Keempat tentang Keutamaan Menuntut Ilmu dan Ahli Ilmu (Lanjutan)

فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
(Q.S. An Nahl: 43)

Poin Pembahasan Pertama
Ayat yang sedang kita bahas ini menunjukkan bahwa orang awam seharusnya mengembalikan masalah kepada ahli ilmu. Ahli ilmu dalam hal ini adalah orang yang bukan sekadar mengetahui dalil tetapi ia juga mampu mengolah dalil tersebut sehingga lahirlah produk hukum yang tepat. Oleh karena itu Allah berfirman sebagaimana ayat di atas. 

Allah tidak memerintahkan kita untuk berpikir ketika kita tidak tahu. Allah tidak menyuruh kita untuk berijtihad ketika kita tidak mengerti dalil ataupun ushul fiqh. Tetapi, Allah memerintahkan kita untuk bertanya. Pada surah lain di dalam Al Qur'an, Allah berfirman:

وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِلٰٓى اُولِى الْاَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْۢبِطُوْنَهٗ مِنْهُمْ
(Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).
(Q.S. An Nisa': 83)

Berdasarkan ayat di atas, kita belajar bahwa jika saja kita mengembalikan permasalahan-permasalahan kita kepada Ulil Amri (salah satu tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud di sini adalah ahli ilmu), maka masalah kita akan mudah terurai. Dari ayat ini juga kita belajar bahwa mereka (ahli ilmu) bukanlah orang yang sebatas menghafal ayat, hadits atau mampu berbahasa Arab. Tetapi, mereka adalah orang yang istinbath (mengolah dalil sehingga melahirkan produk hukum yang tepat). 

Jadi, ini adalah masalah besar. Kita harus kembalikan marwah ilmu. Tidak semua pihak berhak untuk berbicara tentang agama. Semua hal-hal berkelas (tinggi nilainya) hanya dapat disentuh oleh orang-orang khusus.

Poin Pembahasan Kedua
Ayat ini mengajarkan bahwa apabila orang awam berbicara tentang agama, mereka dikhawatirkan akan bicara tanpa ilmu. Padahal, berbicara tanpa ilmu adalah dosa. Allah berfirman:

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.
(Q.S. Al A'raf: 33)

Imam Ibnu Jauzi menyatakan bahwa ayat ini umum mengharamkan seluruh ucapan tentang agama tanpa didasari dalil-dalil yang meyakinkan. Kita dilarang untuk berbicara tentang agama berdasarkan pengalaman kita dan sebagainya. Sebagian ulama menuturkan bahwa apabila orang awam tidak bertanya tetapi justru berfatwa akhirnya ia berbicara tanpa ilmu, maka itu adalah dosa besar. Ini sebagaimana penjelasan Ibnu Qayyim dalam I'lam al Muwaqqi'in. Ibnu Qayyim mengatakan bahwa dalil tentang berbicara tanpa ilmu adalah di antara dosa besar ada pada Surah An Nahl ayat 116:

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ”Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.

Inilah yang banyak dilupakan oleh diri kita. Ada di antara kita yang bicara, "Ini sunnah, ini bid'ah...", tetapi satu dalil saja kita tidak hafal. 

Imam Malik meriwayatkan perkataan gurunya Rabi'ah bin Abi Abdirrahman dari seseorang yang pernah mengunjungi rumah Rabi'ah bin Abi Abdirrahman. Perkataan ini dapat kita telaah di dalam kitab Jami' Bayani al-Ilmi wa Fadhlihi karya Imam Ibnu 'Abdil Barr.

Imam Malik mengisahkan bahwa ketika orang itu tiba di rumah Rabi'ah, ia melihat Rabi'ah sedang menangis. Maka, orang itu pun bertanya pada Rabi'ah, "Apakah Anda sedang tertimpa musibah?" Rabi'ah pun menjawab, "Tidak, tidak ada masalah dengan pribadi saya. Tetapi, saya menangis karena banyak orang yang tidak memiliki ilmu ditanya lalu ia berbicara tentang agama Allah. Maka, terjadilah fitnah di tengah agama ini. Dan sungguh, sebagian orang yang berfatwa di luar sana lebih pantas untuk dipenjara daripada para pencuri itu."

Apa yang dapat kita petik dari closing statement Rabi'ah yang populer di dalam ilmu ushul fiqh tersebut? Beliau mengatakan demikian karena para pencuri itu sekadar merusak "dunia" di tengah masyarakat. Sementara, orang yang berfatwa tanpa ilmu adalah orang yang telah merusak "agama/ akhirat" orang-orang.

Sebagai ilustrasi, untuk membuka praktik sebagai seorang dokter, apakah kita cukup hanya dengan membaca buku-buku kedokteran saja? Apakah mungkin seorang lulusan teknik diperbolehkan membuka praktik kedokteran? Jawabannya tentu saja tidak. Ia bisa dikenai hukuman karena menjalankan malpraktik. 

Malpraktik di dunia medis begitu mudah untuk kita kenali. Jika dokter salah memberikan obat, maka tubuh ini dalam beberapa waktu akan bereaksi. Jika dokter salah melakukan prosedur operasi, maka tubuh ini pun akan segera merasakan dampaknya. 

Tetapi, jika orang salah memberikan fatwa, maka apa yang terjadi? Ini masalah yang halus sekali (dampaknya tidak begitu kentara). Sebagian orang mungkin baru akan sadar di hari pertama dalam kubur. Mau bagaimana lagi jika sudah demikian? Ini fatal. Kita sudah ada di hadapan dua malaikat namun yang selama ini kita lakukan ternyata salah karena telah mengikuti orang yang tidak memiliki kapasitas.

Jadi, sekali lagi, apabila kita tidak memiliki perangkat: (1) mengetahui seluruh dalil dari masalah tersebut, (2) mengetahui kaidah ushul fiqh, (3) mengetahui masalah ijma' dan masalah khilaf, dan (4) mengetahui bahasa Arab. Maka, kita adalah orang awam. 

Poin Pembahasan Ketiga
Jumhur (mayoritas) para ulama menyatakan bahwa bertanya pada ulama hukumnya wajib sebab dalam kaidah ushul fiqh dan 'urf (keseharian), perintah melahirkan hukum wajib. Pembahasan ini dapat ditelaah dalam kitab ... dan Al Mustashfa karya Imam Al Ghazali.

Poin Pembahasan Keempat
Para ulama bersepakat bahwa orang yang berhak kita tanyai adalah orang yang memiliki dua hal. Pertama, ia harus memiliki empat perangkat sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Kedua, ia harus adil. Adil dalam hal ini adalah ia berusaha untuk menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan (orang yang shalih). Pembahasan ini dapat ditelaah dalam kitab Raudhah An Nazhir karya Imam Ibnu Qudamah, Al Mustashfa karya Imam Al Ghazali, dan Al Faqih Al Mutafaqqih karya Imam Al Khatib Al Baghdadi.

Syaikh Sa'ad Asy Syatsri berpendapat bahwa cara bagi kita untuk melihat apakah seseorang itu adil atau tidak adalah dengan melihatnya ketika ia bicara. Seseorang yang adil hanya akan berbicara pada bidang yang ia kuasai (sesuai dengan background keilmuannya).

Imam Malik ketika ditanya dan sebelum menjelaskan tentang sesuatu, maka beliau akan terdiam sejenak untuk membayangkan antara surga dan neraka. Beliau ini di antara ahli ilmu yang tsiqah karena beliau takut kepada Allah. 

Al Imam bin Muhammad Al Munkadir, sebagaimana dibawakan oleh Al Khatib dalam Al Faqih Al Mutafaqqih, beliau mengatakan, "Ahli itu itu berada di antara allah dan hamba-Nya. Jadi lihatlah bagaimana ia lihat di antara dua pihak tersebut." Di dalam karya yang sama, Al Khatib mengutip perkataan Ibnu Umar. Beliau menuturkan, "Kalian bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang seakan-akan kami ini tidak akan ditanya oleh Allah kelak." Semua akan dimintai pertanggungjawaban, khususnya para pemberi fatwa.

Imam Jauzi membawakan kisah tentang Al Hasan bin Ziyad Al Lu'lu'i. Al Hasan bin Ziyad Al Lu'lu'i pernah memberikan jawaban yang salah atas suatu masalah yang diajukan kepadanya. Sementara, beliau tidak tahu siapa yang bertanya kepada beliau. Maka, beliau menyewa orang yang dapat mengumumkan (mengiklankan) kesalahannya kepada masyarakat.

Beliau menuslikan: "Pengumuman bahwa Hasan bin Ziyad pernah ditanya pada hari (disebutkan harinya) tentang perihal (disebutkan masalahnya) dan ia salah menjawab. Barangsiapa yang pernah menyatakan perihal tersebut, maka temuilah Hasan bin Ziyad." Semenjak itu, Hasan bin Ziyad meliburkan majelisnya sampai orang yang bertanya itu datang pada Hasan bin Ziyad.

Bagaimana Mengetahui Ahli Ilmu yang Memiliki Kapasitas dan Adil?
Para ulama menjelaskan beberapa cara untuk mengetahui ahli ilmu yang memiliki kapasitas dan keadilan. Berikut penjelasan tersebut:

(1) Dia berfatwa (berbicara tentang agama) di tengah-tengah ahli ilmu dan para ahli ilmu lainnya tidak mengingkarinya. Apabila hal ini terjadi, maka ilmunya dapat diakui sebab para ulama tidak akan membiarkan sebuah kesalahan. Ini adalah penjelasan mayoritas para ulama.

(2) Kita melihat bahwa ahli ilmu tersebut menjadi rujukan (para ahli ilmu lainnya bertanya padanya atau menukilkan pandangannya). Ini menunjukkan bahwa beliau memiliki kapasitas. Penjelasan ini dapat ditelaah di dalam karya Imam Al Ghazali pada kitab Al Mustashfa.

(3) Ia mendapat rekomendasi dari ahli ilmu yang lain. Konsep ini menjadi kesepakatan para ulama. Penjelasan ini dapat ditemukan pada kitab Raudhatuth Thalibin dan Al Majmu' karya Imam An Nawawi serta Raudhatun Nazhir karya Ibnu Qudamah.

Sebagai contoh, Imam Malik tidak berani untuk berfatwa sampai ada 70 ulama yang merekomendasikan diri beliau bahwa beliau pantas untuk melakukannya. Imam Malik mengatakan, "Aku tidak berani untuk menjawab tentang perkara  agama hingga aku bertanya terlebih dahulu pada orang yang lebih alim dariku: 'Apakah aku sudah pantas untuk menjawab pertanyaan?' Aku bertanya demikian pada guruku Rabi'ah dan Yahya bin Sa'id. Ketika aku bertanya kepada keduanya dan keduanya mempersilahkanku untuk menjawabnya, maka barulah aku berani menjawab."

Imam Malik kemudian menuturkan, 'Tidaklah pantas bagi seseorang merasa dirinya layak dan berhak atas sebuah bidang sampai ia bertanya kepada orang yang lebih berilmu dari dirinya: apakah dirinya sudah pantas atau belum pada bidang tersebut." Perkataan ini ada dalam kitab Al Faqih Mutafaqih karya Imam Al Khatib Al Baghdadi.

(4) Dia telah lulus uji dari standar yang diberikan oleh orang yang lebih berilmu darinya. Misalnya, seorang ahli ilmu yang telah lulus uji tesis dan yang semakna dengannya. Namun, poin ini bukan berarti seorang ahli ilmu harus menempuh pendidikan formal. Ini sebagaimana Imam Asy Syafi'i yang tidak menempuh pendidikan formal di manapun. Poin ini dapat ditelaah pada kitab Al Burhan. 

Orang awam (tanpa mengurangi rasa hormat) tidak mungkin mampu menilai kepakaran seorang ahli ilmu. Pihak yang mampu menilainya hanyalah pihak yang juga ahli. Misalnya, seorang pasien tidak mungkin mampu menakar kepakaran seorang dokter sebab hanya dokter lainlah yang mampu menilai apakah dokter tersebut pakar atau tidak.

(5) Ketika terjadi perselisihan pendapat, berdasarkan pendapat yang paling rajih, maka ada tiga hal yang dapat kita jadikan pegangan, yakni: ilmu, wara' dan kuantitas. Pertama, kita dapat membandingkan ilmu dan kewara'an dari para ulama yang berselisih. Jika di antara para ulama yang berselisih memiliki ilmu yang sama kuat, maka kita pilih yang paling wara' (yang paling takut kepada Allah atau menjaga dirinya).

Adapun jika kita tidak pernah bersinggungan langsung dengan mereka sehingga kita tidak mampu membedakan, maka kita dapat menelaah berdasarkan kuantitas. Kita lihat dengan jujur berapa jumlah pendapat yang menghalalkan atau mengharamkan: manakah yang lebih banyak (yang mengharamkan atau menghalalkan). Pilihlah yang paling sesuai dengan dalil yang Allah turunkan.

Sementara, jika masalah yang diperselisihkan adalah perkara yang samar dan rancu, maka pilihlah pendapat yang menurut ke-awam-an kita paling dekat dengan hukum Allah. Adapun jika pilihan kita salah, maka kita akan dimaafkan karena setidaknya kita telah mengamalkan firman Allah pada surah At Taghabun ayat ke 16:

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu...

Bahkan, para ulama mengatakan bahwa kita akan mendapat pahala sebab telah mengamalkan firman Allah untuk bertanya kepada ahli ilmu ketika kita tidak mengetahui. Apabila fatwa yang kita dapatkan dari ahli ilmu itu salah, maka dosanya ditanggung oleh ahli ilmu tersebut (jika ulama tersebut tidak maksimal dalam ber-ijtihad).

Ikutilah jumhur (mayoritas) ulama dan janganlah bertanya kepada pihak yang dikenal suka memberi hukum yang memudah-mudahkan.

فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ
... maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah ...
(Q.S. Al Ma'idah: 48)

Hukum mencari-cari pendapat yang memudah-mudahkan menurut ijma' para ulama adalah tidak diperbolehkan. Ijma' ini dapat ditelaah dalam kitab Jami' Bayanil Ilmi wa Fadhlihi karya Imam Ibnu Abdil Barr. Parameter itu dalil bukan pendapat yang paling mudah apalagi jika pendapat itu kekeliruan.

Ulama menasehatkan, "Barangsiapa yang suka mencari rukhsah-rukhsah para ulama , maka ia akan menjadi orang zindiq (munafik)." Orang yang gemar mencari-cari keringanan (pendapat yang memudah-mudahkan) dalam agama terancam hancur agamanya. Ibnu Abbas mengatakan, "Celakalah para pengikut jika mereka tetap mengikuti guru mereka pada saat gurunya itu tergelincir." Pendapat ini dapat ditelaah pada kitab Al Faqih Al Mutafaqqih karya Imam Al Khatib Al Baghdadi.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya
(Q.S. Al Hujurat: 1)

Janganlah kita mengedepankan pihak manapun di atas Allah dan Rasulullah termasuk guru kita. Ikutilah guru kita selama mereka sesuai dengan dalil. Dakwah ini tidak bertujuan untuk menggiring pada persona, tetapi dakwah yang lurus mengarahkan kita pada Allah.


 Referensi: 

You May Also Like

0 comments