26B. Inci Demi Inci Bersama Ilmu Part 2

by - 8:00:00 PM

Credit: Jennifer Burk on Unsplash
من يرد الله خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan untuk dirinya, maka akan Allah faqihkan ia terhadap agamanya.” 
(H.R. Bukhari dan Muslim)

Parameter Kebaikan
Hadits ini begitu sederhana dan gamblang. Namun, hadits ini telah mengajarkan kepada kita tentang parameter kebaikan. Parameter kebaikan itu adalah saat Allah faqihkan kita terhadap agama kita. Parameter kebaikan itu bukanlah ketika kita ditakdirkan lahir dari seorang wanita yang kaya atau lahir dari benih laki-laki yang sukses secara dunia. Parameter kebaikan itu bukan pula tentang apa yang kita miliki, misalnya anak-anak kita. Karena sesungguhnya semua itu hanyalah fitnah (ujian).

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)...
(QS. At Taghabun: 15)

Penjelasan Ibnu Hajar
Al Hafidz Ibnu Hajar berujar ketika Nabi menjelaskan tentang kebaikan, Nabi menggunakan kata nakirah berupa khairan. Artinya, kata ini merujuk hukum umum dalam ushul fiqih. Sehingga, kata khairan di dalam hadits ini mencakup seluruh kebaikan, baik yang sedikit maupun yang banyak. Kebaikan di bidang mana pun, di dalam karier, rumah tangga, bisnis, bergaul, dan lainnya.

Menurut Ibnu Hajar pemahaman terbalik dari hadits ini ialah bahwa orang yang tidak memiliki fiqih dalam agama, maka Allah tidak menginginkan kebaikan padanya. Walaupun dia berharta, punya nama besar, popularitas, dan yang semisal. Hal-hal tersebut justru menjadi istidraj baginya. Lantas, kenapa kita harus tahu parameter kebaikan? Karena semakin dini kita tahu parameter kebaikan, semakin mudah kita merancang masa depan.

Makna Fiqih dalam Agama
Para ulama di dalam Fathul Bari dan kitab-kitab yang lainnya menjelaskan makna tentang fiqih. Fiqih dalam agama artinya adalah sebagai berikut:

(1) Diambil dari kata فَقِهَ ~ يَفْقَهُ (Memahami/ Paham pada Agamanya)
Memahami agama adalah jalan kebaikan. Pemahaman itu penting dan mahal. Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqi’in berujar, “Pemahaman itu di antara nikmat Allah yang paling besar untuk seorang hamba.” Maka, marilah kita banyak bersyukur kepada Allah ketika Allah menganugerahi kita pemahaman yang jernih dan tajam. Sebagian ulama mengatakan, "Pemahamanlah yang menjadi akar/ rahim dari kebaikan dan keburukan." Karena setiap langkah, sikap, dan gerak-gerik kita lahir dari pemahaman. 

Apabila kita memahami perkataan orang lain sebagai suatu “serangan”, maka kita akan memberikan pertahanan pada diri kita. Sementara, apabila perkataan yang sama itu kita pahami sebagai perkataan di atas kekhilafan ia sebagai manusia, maka tentu kita akan memberikan udzur bagi saudara kita.

Semakin tajam pemahaman seseorang dalam membaca hakikat kehidupan, maka semakin berkualitaslah kehidupannya. Oleh karena itu, mayoritas kesesatan sekte-sekte di dalam Islam itu bukan terletak pada referensi. Tetapi, bagaimana mereka memahami referensi tersebut. Maka, pemahaman ini adalah hal yang mahal. Pemahaman inilah yang salah satunya ditawarkan dalam majelis-majelis ilmu (selain keberkahan, surga, dan rahmat). 

(2) Diambil dari kata kerja faquha (Menjadikan Fiqih sebagai Sajiyyah)
Sajiyyah (سَجِيَّة) artinya tabiat/ karakter/ pembawaan seseorang. Pada kesempatan lain, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa orang yang faqih adalah orang yang menjadikan fiqih sebagai kebiasaan di segala tempat dan di segala waktu. Ini adalah maqam tertinggi sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

خياركم في الجاهلية خياركم في الإسلام إذا فَقُهوا
"Sebaik-baik kalian ketika masa Jahiliyah adalah sebaik-baik kalian di dalam Islam jika memahami agama."
(H.R. Bukhari)

Imam An Nawawi menjelaskan bahwa orang terbaik di masa jahiliah akan menjadi orang-orang terbaik setelah masuk Islam dengan satu syarat, yaitu faquhu

Abu Utsman berujar salah satunya di dalam Al I’thisom, "Barangsiapa yang memakmurkan sunnah Nabi pada dirinya baik dari ucapan maupun perbuatan, maka ia akan mengeluarkan hikmah demi hikmah. Ketika ia berbicara, maka bicaranya hikmah. Ketika ia bersikap, maka sikapnya hikmah." Sehingga pada poinnya, ia menerapkan fiqih inci demi inci di dalam kehidupannya. 

Oleh karena itu, sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa anak muda yang memiliki pattern ini terlihat lebih dewasa dan matang dibandingkan umurnya. Dia akan senantiasa berpikir dan bertindak secara ilmiah. Sebagai contoh ketika dirinya tertimpa musibah, maka ia akan mengingat firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).
(Q.S. Asy Syura: 30)

Sehingga, ketika ia tertimpa musibah ia akan senantiasa mengembalikannya pada dirinya sendiri. Contoh lainnya, ketika ia berhadapan dengan orang yang menzalimi dirinya, maka ia ingat sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: 

تُؤَدُّونَ الحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ، وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ
“Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak kalian kepada Allah Ta’ala.” 
(H.R. Bukhari)

Ketika ada orang-orang yang menghancurkan karakternya, maka ia ingat bagian akhir surah Al Hijr: 

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ، فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ، وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau di antara orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.
(Q.S. Al Hijr: 97-99)

Contoh yang lainnya lagi, ketika ia dihadapkan pada pengambilan keputusan, maka ia ingat sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

... إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ
"Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu..."
(HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya)

Lantas, ia memanjatkan doa istikharah. Sementara, ketika ia sedang berinteraksi dengan teman-temannya kemudian ingin mempersilahkan, maka ia ingat sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa kita harus mendahulukan/ memprioritaskan mereka yang lebih tua. Itulah bagaimana fiqih menjadi tabiat/ karakter, bukan sekadar hafalan.

Dengan demikian, kunci sukses dalam hidup kita setelah taufik dari Allah adalah bagaimana kita mengisi inci demi inci kehidupan kita. Orang-orang sukses di setiap bidang bukanlah orang yang melakukan keputusan besar semata. Tetapi, mereka adalah orang-orang yang melakukan hal-hal yang benar dan mendasar. Ia kemudian mengulang, ulang, dan ulangi apa yang ia lakukan sehingga membentuk suatu pola. Sehingga, ketika momen besar itu datang, ia siap untuk menyambutnya.

Ini bukan hanya ketika kita di kajian. Kajian memang penting. Tapi, kajian bukanlah hal terbesarnya, melainkan setelah kita keluar dari masjidlah kuncinya (penerapan). Ini sama halnya ketika berbicara tentang kunci khusyu' dalam shalat bukanlah sekadar mengucapkan takbir. Namun, kita tidak akan mungkin khusyu' jika pola hidup kita sebelum shalat bermasalah. Ingatlah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. 
(QS. Al Anfal: 24)

Imam As Sa'di menjelaskan berkaitan dengan ayat di atas bahwa Allah akan membuat hati kita menjadi liar. Sebagaimana kita tidak mau diatur oleh Allah, maka hati kita tak akan sudi kita atur. Sebagaimana kita durhaka kepada Allah, maka hati kita akan durhaka kepada kita. Maka, bagaimanapun kita ingin khusyu', tetapi kita tidak memiliki pola hidup "menyambut seruan Allah", kita tidak akan mungkin khusyu'.

Oleh karena itu, mengisi inci demi inci kehidupan kita bersama ilmu ini berkorelasi dengan istiqamah. Menjaga setiap detik dan setiap jam kehidupan kita agar tetap istiqamah bukanlah hal yang mudah. Analogi sederhana, hal yang paling sulit bagi para atlet adalah latihan setiap harinya. Tetapi, kunci sukses ada pada repetisi di setiap hari tersebut. Sehingga, sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa tidak ada ayat yang lebih berat dipikul oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali Q.S. Hud ayat 112:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Oleh karenanya, Rasulullah menasehatkan, “Amalan yang paling Allah cintai adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit.” Salah satu maknanya ialah bahwa amalan yang kontinu itu yang akan menentukan hidup kita (bagaimana kita menghargai setiap detik kehidupan kita). Karena potongan setiap inci yang disatukan itu yang akan menentukan antara pemenang dan pecundang (antara surga dan neraka).

Maka dari itu, ketika Ibnu Katsir menafsirkan Q.S. Ali Imran ayat ke 102:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.

Ibnu Katsir menyampaikan, 
من عاش على شيء، مات عليه
"Barangsiapa yang hidup dengan pola tertentu, maka ia akan mati dengan pola tersebut."


 Referensi : 
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. (2018). Inci Demi Inci Bersama Ilmu Part 2. Dalam kajian kitab "Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim Fii Adabil 'Alim wal Muta'alim (Adab Para Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu)".

You May Also Like

0 comments