Performa Diri di Panggung Media Sosial

by - 9:33:00 AM


Awesome readers, siapa sih yang tidak punya media sosial hari ini? Menurut laporan We Are Social pada tahun 2018, pengguna aktif media sosial telah mencapai hampir sebagian besar penduduk bumi atau sekitar 42% orang. Angka ini sedikitnya menggambarkan bagaiamana kehidupan kita hari ini terlalu sulit untuk lekang dari media sosial. Penetrasi yang kian masif ini erat kaitannya dengan harga perangkat mobile dan akses internet yang semakin murah juga kemudahan dalam membuat akun di media sosial. 

Namun demikian, hidup bersamaan dengan media sosial rupanya mengharuskan kita menelan banyak konsekuensi. Salah satu konsekuensinya ialah bagaimana kemudian konsep performa diri kita tampil di media sosial mulai berubah. Kehadiran jejak digital, atau menurut Couldry dan Hepp (2017) disebut sebagai datafikasi, telah menyebabkan ketegangan bagi self-performance (performa diri) kita yang dikondisikan oleh waktu: dengan kata lain, "siapa saya hari ini tidak sama dengan siapa saya sepuluh tahun yang lalu" (Brandtzaeg dan Lüders, 2018). Kita tetaplah diri kita, tetapi jejak digital memungkinkan kita untuk berpikir ulang tentang performa diri kita sendiri.  

Konten-konten yang pernah kita unggah pada media sosial kita telah mengubah memori dan performa diri kita. Pada dasarnya, setiap diri kita memiliki memori selektif yang dapat kita gunakan untuk melupakan momen memalukan. Namun, media sosial telah meruntuhkan fungsi tersebut karena media sosial mengarsipkannya pada laman-laman pribadi kita di media sosial. Oleh karena itu, menelusuri konten secara historis di media sosial dapat mempengaruhi memori manusia (Wang, Lee, & Hou, 2017) sekaligus pengalaman mereka tentang waktu (Brandtzaeg dan Lüders, 2018). 

Sebagai contoh, kita dapat mengunggah foto di salah satu platform media sosial tertentu lantas kita reproduksi dengan mengunggahnya ulang pada waktu yang lain lalu dikomentari oleh orang lain beberapa tahun kemudian. Contoh lainnya, awesome writer dan memori tentang cuitan pada laman Twitter. Sebelumnya, awesome writer merasa perlu untuk membeberkan fakta bahwa dahulu awesome writer mulai mengadopsi Twitter di saat teman-teman sekolah awesome writer belum terlalu familiar dengan Twitter, jadi kalian harus mampu (#maksa) membayangkan kalau teman awesome writer di Twitter kala itu sungguh tidak banyak.

Jadi, awesome writer pernah, dahulu sekali, menggulirkan gawai dan membaca cuitan-cuitan awesome writer secara historis hingga tiba pada cuitan paling jadul. Ini kisahnya bermula karena awesome writer sedang kurang kerjaan. Cuitan tersebut menyegarkan memori awesome writer sekaligus menggoyahkan performa diri awesome writer. Awesome writer sempat tertegun dan terheran-heran dengan diri awesome writer sendiri karena rupanya pada suatu hari awesome writer masih sempat di tengah malam yang gelap gulita mengomentari hasil pertandingan bola. Cuitan tersbeut lantas menyadarkan awesome writer betapa kekanak-kanakannya awesome writer kala itu ditambah lagi dengan penggunaan gaya bahasa yang cukup alay. Tapi, mohon maaf tidak bisa ditampilkan karena akun tersbeut telah awesome writer tutup lama sekali. 

Serupa tapi tak sama, jejak digital juga telah memungkinkan orang-orang disekitar kita lebih mudah dalam melontarkan ujaran-ujaran kebencian. Keadaan ini, lagi-lagi, pada gilirannya menyebabkan konsep performa diri seseorang menjadi goyah. Orang-orang begitu mudah untuk mendegradasi performa diri orang lain dengan melacak eksistensi orang tersebut entah secara digital ataupun secara analog. Hal yang paling menjengkelkan adalah ketika jejak digital tersebut kemudian direproduksi dan didiseminasi melalui platform-platform media sosial agar banyak orang melihatnya.

Ilustrasi jejak digital Syahrini dulu dan sekarang yang direproduksi pada laman Brilio.
Mohon maaf untuk foto Syahrini yang tiba-tiba muncul. Foto tersebut dan obrolan siang hari di kedai salah satu fast food di dekat kampus menginspirasi awesome writer. Salah seorang kawan, yang pada saat itu mentraktir awesome writer dan satu teman lagi, riuh memperbincangkan pernikahan Syahrini dan Reino. Teman yang mentraktir kami tersbeut singkat cerita heran dengan warganet (tepatnya haters Syahrini) yang "...kok bisa-bisanya ya nemu foto Syahrini jaman dulu terus ya gitulah." FYI, kawan kami ini adalah pendukung langgengnya pernikahan Syahrini dan Reino. Syahrini dan para haters-nya kemudian menyadarkan awesome writer agar mengelola berbagai koleksi data yang diotomasi dengan lebih bijaksana. Betapa perguliran data pada media dan teknologi dapat meruntuhkan performa diri kita dalam sekelabat waktu.

Senft and Baym (2015) memberikan contoh lain dalam memahami performa diri dan kaitannya dengan media sosial melalui selfie. Berbincang tentang selfie, pusat penelitian PEW (PEW Research Center) melaporkan bahwa 91% dari remaja gemar melakukan 'Selfie'. Kosa kata ini tepatnya mulai populer sejak tahun 2013. Selfie telah mengubah kita dalam memandang diri kita sendiri. Ada orang-orang yang addict dengan selfie hingga rela merogoh kocek senilai jutaan Dollar demi tampil paripurna pada laman media sosialnya. Ada pula orang yang akhirnya dirundung penyakit body dysmorphia akibat terlalu menggandrungi selfie.

Demikianlah, bagaimana konsep performa diri di panggung media sosial dapat bergerak dengan begitu rumit dan dinamis. Terdapat banyak faktor yang harus kita pertimbangkan sebelum aktif di media sosial agar performa diri kita tetap terjaga dengan baik. Datafikasi dan otomasi data juga menjadi fakta lain yang harus kita perhatikan dengan seksama demi membangun performa diri yang tetap baik. Media dalam hal ini telah berperan dalam mengkonstruksi bagaimana seharusnya kita menampilkan performa diri kita.

You May Also Like

0 comments