57. Mereka adalah Pembajak

by - 8:00:00 PM

Credit: Knut Troim on Unsplash
Dari Bisyr bin Al Harits, "Allah Ta'ala mewahyukan kepada Daud 'alaihissalam"Janganlah engkau jadikan di antara Aku dan kamu seorang 'alim yang terfitnah (dengan dunia) yang akhirnya menghalangimu (dengan keraguan) untuk mendapatkan kasih sayangKu. Mereka itulah para  pembajak  dan perampok terhadap hamba-hambaKu." 
(Hadits)

 Sekelumit tentang Bisyr bin Al Harits 
Bisyr bin Al Harits adalah ulama yang lahir pada tahun 179 H di Baghdad. Ia meninggal pada tahun 227 H. Beliau ini adalah salah satu ulama yang berguru pada Imam Malik, Imam Ibnu Mubarak, dan Fudhail bin 'Iyadh. Imam Adz Dzahabi menyatakan bahwa beliau adalah seorang Syaikhul Islam. Bisyr bin Al Harits juga sering dikenal dengan sebutan Bisyr Al Hafi karena ia seringkali nampak tidak beralas kaki.

Bisyr menuturkan, "Anda tidak akan merasakan manisnya ibadah sehingga Anda membangun sebuah dinding dan tembok antara Anda dan syahwat Anda."

Bisyr Al Harits merupakan sosok yang sangat rajin menuntut ilmu semenjak dirinya masih muda. Beliau adalah salah satu murid kesayangan Yahya Al Qattan. 

Bisyr memberikan kita sebuah nasehat yang begitu kental dengan aroma keikhlasan, "Janganlah Anda beramal agar nama Anda dikenal. Sembunyikanlah amal ibadah Anda sebagaimana Anda piawai dalam menyembunyikan dosa-dosa Anda." 

Namun demikian, perlu kita catat bahwa amal shalih yang kita maksudkan dalam nasehat ini ialah amal-amal shalih non syi'ar. Sedangkan, amal-amal yang bersifat untuk disyi'arkan, maka tampilkanlah, misalnya shalat Jum'at berjama'ah, menggunakan hijab bagi wanita, dan yang semisal.

Abu Nu'aim menukilkan sebuah ucapan dalam kitab Hilyatul 'Aulia, "Barangsiapa yang tidak suka popularitas justru ia akan popular dengan cara yang lebih elegan."

Kita dapat memetik pelajaran bagaimana Bisyr dan para salafus shalih senantiasa mendahulukan dirinya agar "selamat" sebelum mereka menyelamatkan orang lain. Ini sebagaimana salah satu ucapan Sa'id bin Musayyib, "Ya Allah selamatkanlah aku, ya Allah selamatkanlah aku."  

Bisyr bin Al Harits menuturkan,"Aku tidak tahu ada amalan yang lebih afdhal dari pada menuntut ilmu bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan dengan niat yang benar dalam belajar. Adapun diriku, aku beristighfar kepada Allah dari proses yang aku jalani dalam menuntut ilmu. Dan aku beristighfar kepada Allah atas setiap langkah demi langkah yang aku tempuh dalam menuntut ilmu."

Suatu saat datang seorang lelaki kepada Bisyr lantas orang tersebut mencium dan memuji beliau. Ketika orang tersebut keluar dari majelisnya, maka Bisyr mengatakan, "Pemandangan yang kalian saksikan barusan adalah pemandangan antara seseorang (orang yang datang kepada Bisyr) dengan saudaranya (Bisyr) yang ia cintai di mana ia menganggap saudaranya adalah orang yang baik. Semoga orang yang mencintai itu telah selamat. Adapun saudaranya yang ia cintai tidak tahu bagaimana ia berpulang ke hari kiamat nanti." Perkataan Bisyr ini sungguh mengiaskan  ketawadhu'an. 

 Para Pembajak Hamba-hamba Allah 
Para pembajak hamba-hamba Allah adalah mereka orang-orang yang menuntut ilmu namun terfitnah (tidak ikhlas dalam belajar). Mereka yang tidak ikhlas ini pada gilirannya melahirkan ucapan dan perbuatan yang negatif sehingga kemudian disaksikan oleh manusia lainnya. Orang lain, yang belum menuntut ilmu, yang melihat perangai buruk mereka akhirnya justru menjauh dari agama Allah. Orang-orang semisal inilah yang kemudian termasuk ke dalam istilah pembajak. 

Bagaimanpun ketidak ikhlasan akan tertuang. Orang yang tidak ikhlas akan terlihat ketidak ikhlasannya. Ini sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas, "Sesungguhnya seorang hamba menjaga ilmunya tergantung dengan tingkat keikhlasannya."

Seorang hamba yang "menjaga ilmu" adalah orang-orang yang tidak sekadar menghafal namun ia menjaga agar ilmu itu tidak menguap setelah ia keluar dari majelis. Para ulama menyatakan, "Ilmu itu di dalam jiwa ..."

بَلْ هُوَ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ فِيْ صُدُوْرِ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَۗ
Sebenarnya, (Al-Qur'an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu.
(Q.S. Al 'Ankabut: 49)

Para ulama juga mengatakan bahwa pada esensinya ilmu itu bukan hanya "konten" tetapi bagaimana ilmu itu mampu melahirkan rasa takut kepada Allah. Ilmu itu bukan hanya pada catatan kita, bukan hanya pada gadget kita, tetapi dalam diri kita. Hal ini dapat nampak dari sikap, cara bertutur, dan logika yang berada di atas wahyu.

Sementara, orang-orang yang tidak ikhlas dalam menuntut ilmu, bagaimanapun, mereka akan melahirkan sikap dan dampak negatif sehingga membuat orang lain lari dari agama Allah. Ini sebagaimana yang pernah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sabdakan, "Sesungguhnya ada di antara kalian yang membuat orang-orang  lari dari Islam." 

Dalam hal ini, kita harus belajar untuk kembali menginvestigasi sesuatu dalam diri tatkala menuntut ilmu, yaitu  niat.  Apabila niat kita lurus, maka apa yang nampak dan tersembunyi dalam diri akan selaras. Namun, ketika kita terfitnah, misalnya terhadap popularitas dan pujian manusia, maka jangan heran ketika akhirnya kita justru inkonsisten.


 Referensi : 

You May Also Like

0 comments