Media Power and Misrepresentation of Islam

by - 7:41:00 AM

Media telah menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat modern. Kita seakan tidak hidup secara paripurna tanpa kehadiran media. Alhasil kita memandang dunia sebagaimana apa yang media sajikan pada kita. Namun demikian, media adalah entitas yang sejatinya mengonstruksi realita. Media hanyalah institusi yang merepresentasikan sebagian realita. Artinya, realita yang utuh secara menyeluruh mustahil disajikan secara autentik oleh media. Media pada gilirannya kerap kali melakukan misrepresentasi atau kekeliruan dalam menggambarkan seseorang, kelompok, atau gagasan tertentu. 

Miller (2002 dalam Saeed, 2007: 443) menuliskan bahwa media memiliki power (kekuasaan) untuk merepresentasikan dunia dengan cara tertentu. Media dapat menggunakan beragam cara dan bahkan saling bertentangan untuk membentuk makna tentang dunia. Dengan demikian, apa dan siapa yang sedang direpresentasikan; siapa dan apa yang secara rutin sedang ditiadakan dari gambaran media; dan bagaimana sesuatu, orang, peristiwa, hubungan  direpresentasikan menjadi perihal yang esensisal. Kita mengetahui lingkungan sosial kita sebagaimana apa yang direpresentasikan oleh media. Pengetahuan ini pada gilirannya menjadi acuan bagi kita untuk bertindak.

Gagasan Miller Miller (2002 dalam Saeed, 2007: 443) tersebut selaras dengan apa yang disampaikan oleh Couldry (2012) dalam Bab “Media and the Hidden Shaping of the Social”. Media pada substansinya memiliki kekuasaan simbolik untuk mendeskripsikan realita. Kekuasaan simbolik ini tak lain adalah gambaran-gamabaran yang media pilih untuk mengilustrasikan realita. Dengan kata lain, ada gambaran-gambaran uneven (tidak adil/ berat sebelah) yang media tampilkan dalam mengkonstruksi realita.

Sebagaimana awesome writer jelaskan sebelumnya, media adalah institusi yang beroperasi secara ekonomi sehingga apa yang media coba gambarkan akan sangat bergantung pada faktor ekonomi media dan tentu saja politik mereka. Kita ambil contoh, media mustahil menayangkan suatu program dengan durasi berjam-jam karena program-program media saling berkompetisi. Ini sama halnya dengan kasus apa yang ingin media angkat ke muka publik dan bagaimana kasus tersbeut dibingkai sehingga sesuai dengan, katakanlah, rating. Keadaan-keadaan ini pada akhirnya dapat menimbulkan misrecognition (kekeliruaan dalam memahami suatu realita). Ini tentu saja ketika kita hanya bergantung penuh pada apa yang emdia gambarkan. 

Hal ini lantas menghantarkan pada minat akademik untuk mengkaji hubungan antara representasi media minoritas dan isu-isu tentang etnis, ras, multikulturalisme, dan politik identitas (Ahmed dan Matthes, 2017: 2). Salah satu isu yang dewasa ini tetap ramai direpresentasikan oleh media adalah Islam. Islam terutama kerap muncul dalam bingkai media sejak peristiwa keji dan mengerikan 9/11. Media dan berbagai debat politik terkait Muslim dan Islam meruncing pada diskursus Orientalisme (Saeed, 2007). Sementara itu, negara Barat merasa perlu untuk mendefinisikan ulang relasi antara mereka dan negara-negara Muslim (Ibrahim, 2010).

Dalam konteks Indonesia dan fenomena-fenomena ynag cukup dekat dengan awesome writer. Representasi media terhadap Msulim dan Islam telah mengendap dalam pada masayrakat Indonesia. Walaupun demikian, pernyataan in tentu membutuhkan data lapangan lebih lanjut. Namun, setidaknya awesome writer dan beberapa kisah dari ornag-orang terdekat menjadi bukti bahwa media memang memiliki kuasa untuk merepresentasikan sesuatu sesuai kehendak media. 

Awesome readers mungkin ingat kasus Rohis yang dituding menjadi sarang teroris? Pada tahun 2012, kala itu terorisme di Indonesia kembali menggeliat. Entah apa yang sedang diideologikan oleh para teroris tersbeut sehingga umat Muslim lainnya terkena imbasnya. Hmmm... awesome writer sungguh tak habis pikir. Teror-teror tersebut kemudian berdampak pada ekstrakulikuler yang merekrut siswa melalui masjid-masjid sekolah, Rohis.

Salah satu infografis yang Metro TV tampilkan untuk menjelaskan Pola Rekrutmen Teroris Muda.
Rohis kala itu ramai diperbincangkan sebagai wadah rekrutmen teroris muda akibat pemberitaan yang dilakukan oleh Metro TV. Walaupun kemudian Metro TV meminta maaf karena "memang" mereka tidak menyebutkan secara tersurat bahwa ekstrakulikuler yang mereka maksud adalah Rohis, tapi dampak yang mereka timbulkan telah mengendap dalam diri masyarakat. Sebagai contoh, Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meminta kepada pengelola sekolah SMP maupun SMA untuk mengawasi kegiatan Rohani Islam (Rohis).

Terorisme di Indonesia memang tidak hanya satu atau dua kali terjadi. Ada daftar panjang yang akan terlalu berlebihan jika awesome writer tuliskan dalam unggahan ini. Sepanjang terorisme itu terjadi di negeri kita ini, maka sepanjang itu pula pemberitaan media terkait isu terorisme. Pemberitaan terkait terorisme ini tentu saja tak ketinggalan dengan embe-embel Islam dan Muslim. Hmm... bukan hal yang mengherankan memang karena pra teroris tersbeut mengatasnamakan diri mereka sebagai orang Islam. Padahal, agama manpun dan tentnya Islam tidak pernah mengajarkan untuk melakukan tindak terorisme.

Namun demikian, pemberitaan media dan bagaiman amedia merepresentasikan Islam sebagai agama teror telah menjadi sembilu bagi umat Muslim. Sebagai contoh, ornag tua awesome writer sendiri merasa gerah jika awesome writer menggunakna hijab yang terlalu lebar apalagi jika bercadar. Setali tiga uang, sebelum begitu ramai masyarakat Indonesia berduyun-duyun berhijrah, celana cingkrang dan jenggot kerap kali menjadi simbol yang identik dengan teroris. Ada pula salah satu kabar menyedihkan selepas kawasan Thamrin diteror, seorang perempuan bercadar dipaksa turun dari bis karena beberapa penumpang mengatakan bahwa mereka tidak ingin satu bis dengannya. 

Hal yang menyedihkan dari kasus ini adalah ketika orang Islam sendiri akhirnya gerah dengan umat Muslim lainnya yang (tadi) menggunakan atribut yang identik dengan teroris: cadar, celana cingkrang, jenggot, dan yang semisal. 


Pada substansinya, media memiliki kekuasaan untuk menggambarkan bagaimana realita itu dapat dipahami. Media dalam hal ini mampu membentuk diskursus publik. Kita dapat melihat apa yang dituliskan oleh Latour (1993 dalam Couldry, 2012) bagaimana cedera tersembunyi dari kekuatan media secara sistematis mengkonstruk bagaimana dunia sosial disajikan untuk kita semua, membuat potensi 'sosial' lainnya tidak terlihat, tidak terpikirkan, tidak terwakili.

You May Also Like

0 comments