Media Culture for Political Needs and Terrorism

by - 4:49:00 PM

Majalah Dabiq salah satu media propaganda ISIS.

Awesome readers, bagaimana kalian memahami dunia sosial kalian? Lalu, bagaimana pengalaman kalian dalam bermedia? Apa saja yang selama ini kalian lakukan di media? Media apa sajakah yang kalian gunakan sebagai ekstensi dari banyak kebutuhan kalian? 

Kalian bingung untuk menjawab semua pertanyaan atau sebagaian dari pertanyaan di atas? Well, well, awesome readers tidak perlu panik... 

Couldry dalam salah satu bab di bukunya Media, Society, World: Social Theory and Digital Media Practice berupaya menawarkan sebuah konsep agar kita bisa memahami pengalaman kita dengan media. Ia menuliskan tentang konsep media culture (budaya media)Couldry (2012) menuliskan bahwa konsep tersebut mengilustrasikan pemahaman kita akan dunia sosial merupakan sukumpulan praktik yang kita lakukan dengan sumber utama yang berasal dari media.

Couldry (2012) lantas menjabarkan media culture dapat  kita telaah melalui berbagai kebutuhan manusia yang membentuk cara kita berinteraksi dengan dan bertindak atas dunia. Kebutuhan manusia memiliki kekutaan besar sehingga ia mampu memandu perbandingan (Susan Buck-Morss dalam Couldry, 2012) dan Couldry (2012) menilai melalui kebutuhan manusia dirinya mampu memetakan media culture dengan lebih gamblang.

Couldry (2012) menyebutkan bahwa media culture dapat dipetakan dari beberapa kebutuhan manusia, di antaranya ialah kebutuhan ekonomi, kebutuhan etnis, kebutuhan politik, kebutuhan pengakuan (terkait dengan kebutuhan etnis dan politik namun berbeda), kebutuhan kepercayaan atau keyakinan, kebutuhan sosial, dan kebutuhan rekreasi. 

'Kebutuhan' dalam hal ini menurut Couldry (2012) harus dipahami dalam arti luas. Artinya, kebutuhan tak sekadar dipahami pada koridor psikologis namun kebutuhan dapat dipandang sebagai suatu spektrum yang terbuka dan luas di mana kebutuhan ini tertanam dalam budaya (Sen, 1992; 1999 dalam Couldry, 2012).

Sementara itu, dalam unggahan ini awesome writer tentu tidak akan membahas seluruh aspek kebutuhan manusia tersebut. Awesome writer akan mencoba menukil satu kebutuhan lantas mengelaborasinay semampu awesome writer.

Dari berbagai aspek kebutuhan manusia dalam memahami media culture yang Couldry (2012) tawarkan, awesome writer tertarik untuk membahas lebih lanjut tentang kebutuhan politik. Couldry (2012) berujar bahwa mungkin aneh untuk memperbincangkan kebutuhan politik dalam membentuk budaya media. Ia melanjutkan bahwa toh kita tidak menonton televisi bukan karena pemerintah melarang kita untuk melakukannya. Namun demikian, politik terutama struktur dan strategi telah mempengaruhi bagaimana budaya media terbentu. Couldry (2012) menambahkan bahwa sayangnya perihal ini banyak diabaikan oleh peneliti media.

Couldry (2012) menyatakan bahwa kebutuhan politik dalam membentuk media culture dapat kita tilik dari tiga hal, yakni: (1) strategi negara atau aktor politik yang lebih digdaya untuk tujuan membangun kuasa mereka, (2) kebutuhan untuk menjangkau masyarakat yang sangat luas, dan (3) kebutuhan untuk meng-counter kemapanan yang telah ada, misalnya gearakan anti-globalisasi, anti-kapitalisme, dan yang semisal.

Berbicara tentang kebutuhan politik dan budaya media, hal menarik selanjutnya yang ingin awesome writer kaji ialah pertautan antara kebituhan politik, budaya media, dan terorisme serta secara tidak langsung akan berhubungan dengan Islam. Dalam hal ini, awesome writer akan mengambil contoh kasus ISIS (Islamic State of Iraq and Syria).

CNN (2019) menuliskan bahwa ISIS merupakan grup sempalan dari Al Qaeda. Pada awalnya, ISIS dibentuk dengan bertujuan untuk menciptakan negara Islam yang disebut kekhalifahan di seluruh Irak, Suriah dan sekitarnya. ISIS dikenal secara luas karena mereka tak segan membunuh lusinan orang sekaligus dan melakukan eksekusi di depan umum, penyaliban, dan tindakan lainnya. Popularitas ISIS tentu tidak datang begitu saja. Mereka tak canggung dalam memanfaatkan teknologi modern seperti media sosial. Kemampuan memanfaatkan teknologi tersbeut pada gilirannya menjadi kontributor besar dalam mendiseminasi propaganda mereka. 

Sementara itu, Nuruzzaman (2018) melaporkan bahwa ISIS merupakan metamorfosis dari Al Qaeda. ISIS mendeklarasikan organisasinya sebagai sebuah daulah pada 19 April 2007. Mereka mengumumkan terbentuknya pemerintahan dengan dipimpin Abu Umar Al-Baghdadi yang beranggotakan 10 orang kabinet. Pada April 2013, Abu Bakar Al-Baghdadi mendeklarasikan perluasan ISI menjadi Islamic State of Iraq and Levant/Daulah Islamiyah Fi al-Iraq wa Sham (ISIL). Levant adalah nama lain dari Syam, gabungan Suriah dan Lebanon serta Palestina.

Dalam tulisan Nuruzzaman (2018), di Indoensia sendiri ISIS dideklarasikan pada 16 Maret 2014 di Bundaran Indonesia, Jakarta oleh beberapa orang yang tergabung dengan beberapa organisasi. Ia selanjutnya menulis bahwa sebagian besar pendukung ISIS di Indonesia memiliki 5 prinsip dasar dalam keyakinan agama mereka, yakni: jihad fi sabilillah, takfir, al wala' wal bara', tauhid, dah hakimiyah. Lima prinsip yang Nuruzzaman (2018) sebutkan ini menggelitik  awesome writer untuk membahas lebih lanjut, tapi mungkin belum mampu dituliskan dalam unggahan ini secara lengkap.

Sari (2015) dan Armandhanu (2015) menulsikan bahwa ISIS pada dasarnya banyak menyebarkan propagandanya melalaui majalah. Majalah mereka berujudul Dabiq. Sejak Juli 2014 hingga 2015, sudah 7 edisi Dabiq diterbitkan.

ISIS kemungkinan mencontoh Al-Qaidah yang juga menerbitkan majalah propaganda bernama Inspire. Pada salah satu edisinya, Inspire pernah memuat cara membuat bom dari alat-alat sederhana yang ada di dapur (Armandhanu, 2015).

Pengamat terorisme Indonesia Al Chaidar dalam (Armandhanu, 2015) menilai, selain sebagai propaganda dan ekstensi rekrutmen, majalah Dabiq juga menjadi alat untuk menyerang kelompok-kelompok yang berseberangan dengan mereka, memurtadkan dan mengkafirkan sesama Muslim yang menentang kekerasan ISIS. Majalah ini bahkan juga telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia dan dipublikasi oleh beberapa situs jihad.

Fenomena ISIS ini pada kontinum lain mungkin dapat kita kaitkan pula pada kebutuhan keyakinan.  Namun dmeikian, apa yang ISIS lakukan jauh dari basis kebutuhan kepercayaan karena awesome writer menilai apa yang coba mereka perjuangankan tidak pernah diajarkan keyakinan manapun apalagi Islam.

Jika kita kembali pada tiga hal yang berkaitan dengan kebutuhan politik dalam membentuk budaya media serta ISIS, maka ISIS telah memasukan seluruh tiga unsur yang Couldry (2012) paparkan.

You May Also Like

0 comments