10. Bersanding dengan Malaikat

by - 8:00:00 PM

Credit: Evie S. on Unsplash
Bab 1
Dalil Kedua tentang Keutamaan Menuntut Ilmu dan Ahli Ilmu

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ
"Allah bersaksi bahwa tidak ada dzat selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada dzat selain Dia, Yang Mahaperkasa, Maha-bijaksana."
(Q.S. Ali Imran: 18)

 Pelajaran Berharga dari Surah Ali Imran: 18 
Ayat ini menjelaskan bahwa bersanding dengan malaikat itu mungkin. Cara yang dapat kita tempuh ialah dengan menjadi ahli ilmu (ulama) karena Allah menyandingkan persaksian ahli ilmu dengan para malaikat-Nya.

 Penjelasan Ayat 
Imam Al Qurthubi menjelaskan terkait ayat:  "Allah bersaksi bahwa tidak ada dzat selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu ...". Arti kata "bersaksi" dalam ayat ini adalah menjelaskan dan memberitahukan. Sebagai contoh, si fulan bersaksi di hadapan hakim. Si Fulan dikatakan bersaksi manakala ia memberitahukan atau menjelaskan haq dari suatu hal. Intinya, seseorang tidak mungkin menjadi saksi, kecuali dia berilmu dan menyampaikan ilmunya.

Imam Al Qurthubi menukilkan perkataan Adz Dzajjadz bahwa saksi ialah seseorang yang mengetahui sesuatu kemudian ia jelaskan. Maka, makna ayat ini ialah Allah menjelaskan pada kita bahwa tidak ada dzat yang berhak diibadahi kecuali Dia dan malaikatpun menjelaskan dan menyampaikan ilmu itu kepada rasul-rasul Allah. Sedangkan, makna "ulama bersaksi" ialah bahwa ulama mengetahui ilmu agama khususnya La Illaha Illallah lalu menjelaskannya kepada umat/ manusia.

 Tiga Pihak yang Berhak Berbicara tentang Agama 
Para ulama mengatakan bahwa ayat ini menjelaskan bahwa hanya ada 3 (tiga) pihak yang bisa berbicara tentang agama: Allah, malaikat, dan ulama.  Lantas, sebagian mufasir mengatakan bahwa yang termasuk dalam kategori pertama ahli ilmu ialah para nabi dan rasul. Lalu ilmu itu diwariskan kepada para ulama. Ulama itu ahli warisnya para nabi.

Tiga pihak ini sajalah yang berhak berbicara tentang agama. Sehingga, Imam Al Qurthubi menyatakan, "Kalaulah ada pihak yang lebih baik dari ulama, yang lebih mulia dari mereka, pasti Allah masukan mereka ke dalam ayat ini atau menggantikan posisi mereka." 

 Juru Bicara Allah 
Ulama mengatakan bahwa ulama itu jubirnya Allah. Sebagaimana manusia yang tidak ingin diwakilkan oleh sembarang orang ketika berbicara tentang diri dan konsepnya, maka terlebih lagi dengan Allah yang tidak mungkin memilih sembarang juru bicara.

Imam As Sa'di menjelaskan bahwa mengilustrasikan bagaimana Allah mentazkiyah, menta'dil, memuji, merekomendasi para ulama atas amanat yang mereka emban. Artinya, ketika Allah memberikan rekomendasi maka kita juga harus menaruh kepercayaan.

 Ulama Sebagai Rujukan 
Dalam penjelasan lain yang juga dibawakan Imam As Sa'di: ayat ini menunjukan bahwa ulamalah rujukan untuk seluruh masalah agama, khususnya masalah paling mulia, yaitu masalah tauhid. Allah menjadikan ulama sebagai hujjah bagi manusia. Allah mewajibkan manusia untuk mengikuti keterangan yang mereka sampaikan. Dengan demikian, masalah-masalah agama itu hendaknya dikembalikan kepada ahli ilmu, bukan orang awam. 

Seseorang terlarang untuk bicara perkara agama, kecuali dia memiliki kriteria sebagaimana berikut (dinukil dari Syaikh Sa'ad Asy Syatsri dalam Al Ijtihad wa al Fatwa): 
  1. Dia harus mengetahui semua dalil secara terperinci terkait masalah tersebut. Oleh karena itu, orang yang hanya tahu satu dalil dilarang untuk berbicara tentang masalah tersebut.
  2. Dia harus mengetahui kaidah ushul fiqh.
  3. Dia harus mengetahui masalah ijma' dan masalah khilaf. Imam Qatadah menyatakan bahwa barangsiapa yang tidak tahu masalah-masalah khilaf, maka dia belum mencium aroma fiqh dengan hidungnya.
  4. Dia harus mengetahui bahasa Arab yang memungkinkan dia memahami redaksi dari dalil-dalil tersebut sehingga bisa mengeluarkan hukum.
Para ulama menyebutkan bahwa terlarang bagi seseorang untuk bicara perkara agama, kecuali mujtahid mutlak, ashabul wujuh, ashabu tarjih, ashabu takhrij, dan ashabul khifd. Namun, ashabut takhrij dan ashabul khifd tidak diperbolehkan untuk berfatwa. 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Darimi bahwa orang yang paling berani berfatwa adalah orang yang paling berani masuk neraka. Ibnu Abi Lailah, dalam riwayat yang dibawakan oleh Imam An Nawawi dalam Adabul Fatwa,  mengatakan, "Aku pernah bertemu 120 kaum Anshar dari sahabat-sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Setiap seorang dari mereka ditanya tentang suatu masalah agama, maka yang ditanya akan melemparkan pertanyaan itu pada temannya. Mereka terus melempar-lemparkan pertanyaan itu pada temannya sampai pertanyaan itu kembali kepada orang yang pertama."

Abdullah bin Mas'ud dan Abdullah bin Abbas berujar, "Barangsiapa yang menjawab seluruh pertanyaan yang sampai pada dirinya, dia gila."  

Al Imam Sya'bi, Al Hasan, dan Abu Hasin, tiga orang tabi'in besar, mereka mengisahkan tentang kondisi di mana mereka hidup, "Salah seorang dari kalian ketika menjelaskan tentang hukum syar'i dalam sebuah masalah yang apabila masalah semisal itu disampaikan kepada Umar, maka Umar akan mengumpulkan seluruh sahabat yang mengikuti Perang Badar untuk bermusyawarah. Sementara, kalian begitu mudah mengeluarkan fatwa." 

Sufyan bin 'Uyainah menyatakan, "Orang yang paling cepat dan berani berfatwa dipastikan orang yang paling sedikit ilmunya." 

Abdullah, anak dari Imam Ahmad, dalam salah satu karya Ibn Qayyim, mengisahkan bagaimana ayahnya lebih sering mengatakan la adri (aku tidak tahu) atas banyak pertanyaan yang disampaikan pada beliau. Sementara, apabila pertanyaan yang diajukan terdapat khilaf, maka Imam Ahmad akan menyuruh penanya tersebut agar menanyakan pada selain dirinya. Namun, apabila sang penanya terus mengejar jawaban dari pertanyaannya pada Imam Ahmad, maka Imama Ahmad mengatakan, "Tanyakanlah pada ulama..." 

Al Haitsam bin Jamil , dalam riwayat Imam An Nawawi, menuturkan bahwa ia menyaksikan Imam Malik ketika ditanya 48 pertanyaan masalah-masalah agama. Sejumlah 32 dari 48 pertanyaan yang diajukan tersebut beliau jawab dengan "Tidak tahu, tidak tahu, tidak tahu...". Dalam banyak kesempatan beliau ditanya 50 pertanyaan dan tidak ada pertanyaan yang beliau jawab. Ini menjadi pelajaran bagi kita agar kita tidak serampangan dalam menjawab perkara yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya. Jika kita tidak menguasai suatu masalah, maka seharusnya kita tidak memberikan sembarang jawaban karena kita jubir Allah. Apabila kita salah, maka habislah kita di hadapan Allah Rabbul 'alamin.

Imam Malik berujar, "Barangsiapa yang ditanya atau hendak menjelaskan perkara agama, maka hendaknya ia bayangkan dihadapkan pada surga dan neraka sebelum menjawab."

Imam Malik menyatakan, "Tidak ada satu pun yang berkaitan dengan perkara agama hal yang remeh dan hal yang mudah." Pernyataan ini lantas beliau sambung dengan ayat: "... dan akan Kami berikan kepada engkau wahai Muhammad kalimat yang berat."

Imam Asy Syafi'i menuturkan, "Aku tidak pernah melihat seorangpun yang Allah berikan anugerah menguasai instrumen untuk berfatwa sekomplit Sufyan Ibn 'Uyainah, tapi di saat yang sama Ibn 'Uyainah adalah ulama yang paling pendiam dalam berfatwa." Oleh karenanya, para ulama senantiasa meminta keselamatan kepada Allah sebelum mereka berfatwa.

 Bolehkah Seorang Awam Berfatwa dengan Dalil yang Diketahuinya? 
Imam An Nawawi menjelaskan dalam Adabul Fatwa terdapat tiga pandangan terkait pertanyaan ini. Lantas, beliau merajihkan pandangn ketiga yang pada esensinya tidak membolehkan secara mutlak.

 Bolehkah Seorang Awam Berfatwa dengan Penjelasan yang Dia Dengar Dari Ulama? 
Imam An Nawawi menjelaskan bahwa terdapat dua pandangan tentang hal ini. Al Imam Al Juwaini dan yang lainnya mengharamkan hal ini. Sementara, ulama lainnya membolehkannya. Ibnu Shalah kemudian menjelaskan bahwa maksud tidak diperbolehkan adalah larangan untuk menyampaikan seolah-olah itu adalah hasil ijtihadnya sendiri. Dengan demikian, apabila seseorang awam hendak menyampaikan suatu fatwa, ia wajib menyertakan referensi atau sumber fatwa tersebut.

Al Imam As Shoimary dan Al Khatib Al Baghdadi menjelaskan bahwa orang yang bersemangat dan berusaha untuk tampil dalam berfatwa kecuali Allah berikan sedikit taufik padanya dan ia adalah orang yang guncang serta tidak konsekuen. Sebaliknya, orang yang enggan untuk tampil bicara dan berfatwa serta tidak memprioritaskan dirinya dalam berfatwa, maka di akan lebih banyak mendapat pertolongan dari Allah dan kebenaran dalam jawabannya lebih kuat.


 Referensi : 

You May Also Like

0 comments