12. Pembeda dalam Sebuah Kehidupan

by - 8:00:00 PM

Credit: Scott Webb on Unsplash
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ
Katakanlah : "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" 
(Q.S. Az Zumar: 9)

Ayat ini adalah penegasan bahwa  sebuah pembeda dalam kehidupan adalah ilmu . Pada kajian ini kita tengah mengkaji penjelasan Imam Ibnu Asyur dalam kitab tafsirnya At Tahrir wa At Tanwir terkait  6 (enam) perbedaan induk  antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Berikut ini perbedaan-perbedaan tersebut:

 1) Orang yang berilmu mengetahui arah dan tujuan hidupnya.  
Orang yang berilmu memiliki navigasi dalam kehidupan mereka. Mereka adalah ornag-orang yang memiliki peta kehidupan.

 2) Orang yang berilmu mengetahui setiap kendala yang mungkin menghambatnya menuju surga. 
Orang yang berilmu mengetahui berbagai penyakit-penyakit kehidupan dan bagaimana menghindarinya. Sementara, orang yang tidak berilmu akan menemui kebuntuan dalam menghadapi penyakit tersebut. Jangankan obatnya, orang yang tidak berilmu bahkan tidak tahu apa akar dari penyakit yang ia derita.

 3) Orang yang berilmu senantiasa merasa nyaman dalam menghadapi setiap takdir Allah. 
Orang yang berilmu akan senantiasa mendapat kenyamanan apapun ujian yang sedang ia hadapi. Menagapa demikian? Karena  ketenangan dan kenyamanan adalah milik Allah.  Dengan demikian, jika kita hendak menggapai ketenangan dan kenyamanan, kita harus kembali pada Allah. Di sisi lain, orang berilmu  mengetahui jawaban  dari ujian yang ia hadapi.

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ خُبْرًا
Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?
(Q.S. Al Kahfi: 68)


***
Penjelasan lebih lengkap poin 1 hingga 3 tercatat dalam kajian "Memang Beda".
***


 4) Orang yang berilmu tidak akan bergantung pada manusia. 
Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin besar ketidakbergantungannya pada manusia, baik untuk perkara dunia maupun perkara akhirat. Ia merasa kaya. Semakin tinggi ilmunya, semakin besar rasa bergantungnya pada Allah. Inilah yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam minta sebagaimana doa berikut:

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf (kehormatan) dan  ghina (kekayaan)

Al Imam An Nawawi menjelaskan hakikat dari "ghina" bahwa kekayaan dalam hal ini bukanlah banyaknya harta melainkan  jiwa  dan tidak bergantung pada manusia atau apa yang dimiliki oleh manusia. Imam Ahmad bin Abdul Halim menuturkan, "Bagaimanapun melimpahnya harta seseorang namun hatinya miskin (ketergantungan pada manusia), maka sejatinya kita hanya akan menjadi budak."

Meminta kekayaan hakiki ini adalah hal yang penting, bahkan hal ini adalah kemulian bagi seorang muslim. Dalam hadits hasan, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa  kemuliaan  seorang muslim adalah ketika ia tidak tergantung pada manusia dan apa yang dimiliki manusia. Dalam hadits Sa'ad bin 'Ammarah, riwayat Imam Ath Thabrani:


 "Putus asalah dari apa yang dimiliki dan apa yang ada di tangan manusia." 

Kekayaan hakiki ini tidak akan didapat kecuali kita memiliki ilmu. 

قُلِ اللهم مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
(Q.S. Ali Imran: 26)

Bukankah terlalu mudah bagi Allah untuk memberikan atau bahkan mencabut sesuatu dari tangan kita? Maka, orang yang berilmu tentu akan berlepas diri dari manusia dan apa yang ada pada mereka.  Imam Ibnu Qayyim dalam Madarijus Salikin menuliskan, "Manusia yang paling jauh dari taufik adalah orang yang bergantung pada selain Allah." 


 Note (Disampaikan Ustadz sebagai Muqaddimah)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.
(Q.S. Al Hujurat: 2)

Ayat ini menekankan agar para penuntut ilmu dapat menjaga adab dalam majelis. Adab dalam hal ini bukan hanya adab secara umum. Imam Al Qurtubi menjelaskan ayat tersebut bahwa kita hendaknya menjaga sikap kita di hadapan Allah dan Nabi. Pada praktiknya, di dalam majelis seharusnya kita tidak berbicara ketika kajian berlangsung, menjaga anak-anak agar tidak mengganggu kajian, dan yang semisal.

Orang yang tidak menjaga adab terhadap ilmu terancam dihapuskan amal-amalnya. Ini merupakan hal yang fatal. Tidak menjaga adab seperti berbicara saat kajian berlangsung sama dengan tidak menghormati Pencipta kita dan Nabi. Sebagaimana para ulama mengingatkan bahwa bukan apa yang maksiat kita tetapi "siapa" yang kita maksiati. Catatan ini sejatinya tidak hanya berlaku pad majelis ini namun di majelis-majelis lain di mana firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dibacakan.

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.
(Q.S. Al A'raf: 204)

Ayat di atas merupakan perintah dan perintah melahirkan kewajiban. Pemahaman terbalik dari ayat tersebut ialah bahwa ketika kita tidak menyimak tatkala suatu ayat atau hadits sedang dibacakan, maka Allah tidak akan merahmati kita.


Bersambung ...


 Referensi : 

You May Also Like

0 comments