58. Merasa Diawasi

by - 8:00:00 PM

Poin pertama, bahwa ini merupakan detik-detik akhir bulan Syawal. Maka, bersegeralah untuk menunaikan hutang puasa dan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Perjuangkanlah akhir-akhir ini walaupun tidak sampai enam hari. Sebagian ulama menyatakan bahwa apabila ia tidak mampu menyelesaikannya karena alasan syar'i, misalnya nifas, haidh, sakit atau semisalnya, maka tetap lanjutkan di bulan Dzulqa'dah sebagai qadha'. Inilah salah satu dari pendapat Syaikh Utsaimin rahimahullah. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk tidak memulai dan kehilangan amal shalih.

Poin kedua, ingatlah bahwa kita berada pada bulan-bulan haji. Haji ada pada bulan-bulan yang diketahui, yaitu Syawal, Dzulqa'dah, dan 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, tanamkanlah spirit haji dan hanya orang-orang yang tidak beriman yang tidak tertarik untuk menunaikannya. Adapun orang-orang beriman, para ulama menjelaskan bahwa imannya akan membawanya pada Q.S. Ibrahim ayat 37:

فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ
...maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka (untuk berangkat ke tanah suci)...

Bahkan, Imam As Sa'di mengatakan bahwa keinginan untuk ke tanah suci akan semakin besar seiring seringnya kita berangkat ke sana. Artinya, keinginan bagi orang yang pernah berangkat ke tanah suci itu lebih besar dari pada orang-orang yang belum pernah berhaji.

Poin ketiga, sebagaimana pada pertemuan pekan lalu,  tidak ada kesuksesan tanpa konsistensi.  Maka, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa tidak ada amalan yang paling Allah cintai kecuali amalan yang paling konsisten walaupun hanya sedikit. Tidak akan ada progres yang signifikan tanpa konsistensi. 


 Konsistensi itu harga mati agar hijrah sampai khusnul khatimah. 
 (Ustadz Nuzul) 

 Cuplikan Konsistensi dalam Menuntut Ilmu 
Ada sebuah kisah tentang seorang jama'ah yang mengilustrasikan konsistensi dalam menuntut ilmu. Beliau merupakan jama'ah yang berasal dari Palembang. Beliau senantiasa  membawa serta keluarga kecilnya untuk  hadir langsung di kajian ini jika tidak ada halangan.

Sekitar dua atau tiga pekan lalu merupakan akhir pekan yang bertepatan dengan manasik haji. Beliau berencana untuk berangkat haji. Beliau lantas berangkat ke Jakarta untuk menuntut ilmu di hari Sabtu dan dilanjutkan dengan manasik haji di hari Ahad.

Sebagaimana biasanya, beliau membeli tiket pesawat di jam-jam menuju keberangkatan. Tetapi, pada saat itu bersamaan dengan waktu arus pulang mudik (balik ke Jakarta) dan mungkin beliau tidak menyadarinya. Oleh karena itu, beliau tidak mampu mendapatkan tiket pesawat. Padahal, hari itu adalah hari Sabtu. Beliau tetap berusaha mencari tiket.

Sementara, waktu terus berjalan, maka beliau putuskan untuk berangkat ke Jakarta dengan mengendarai mobil bersama anak dan istrinya. Beliau sadar bahwa jikalau pun beliau tidak dapat menghadiri kajian di Sabtu malam, setidaknya beliau dapat menghadiri manasik pada jam 10 pagi di hari Ahad. Maka, beliau berangkat sekitar ba'da Ashar atau Maghrib. Beliau berangkat dengan visi: kajian manasik.

Qadarallah, beliau mendapatkan kemacetan khususnya sebelum penyebrangan ke Jakarta. Maka, beliau memperkirakan bahwa kajian manasik tidak mungkin beliau hadiri tepat waktu. Walau begitu, beliau terus melaju ke Jakarta. Singkat cerita, beliau tiba ketika Dzuhur dengan semalaman tidak tertidur demi kajian manasik.

Kisah ini bisa kita serupakan dengan kisah Imam Ibnu Masruq yang berangkat ke Iraq demi bertemu syaikhnya. Tetapi sang syaikh rupanya telah pergi ke Syam. Maka, beliau pun berangkat pula ke Syam. Itulah ulama-ulama terdahulu.

Kembali pada kisah jama'ah dari Palembang, beliau kemudian mendapat penawaran dari Ustadz Nuzul untuk mengikuti kajian Ustadz di waktu Dzuhur. Beliau pun mengiyakan tawaran tersebut dengan suka cita. Padahal, kala itu beliau belum tidur.

Kisah ini mengajarkan pada kita bahwa kisah-kisah semisal ini akan terus tetap ada karena Allah sendiri yang jaga spirit itu. Allah yang jaga keistiqamahan itu. Lantas, mengapa kisah ini disiarkan? Ini dikabarkan agar salah satunya kita tahu bahwa beliau adalah salah satu kompetitor kita dalam kebaikan. Ini baru di level jama'ah biasa, belum level para ulama.

Dari sini kita mengetahui bahwa riwayat tentang Jabir bin Abdillah yang berjalan kaki selama satu bulan demi satu buah hadits itu real. Kalaulah di antara kita memiliki semangat semacam ini, maka di zaman Rasulullah pun telah ada sebagaimana Jabir. 

Kembali pada kisah jama'ah dari Palembang. Mengapa beliau tidak meminta ringkasan kajiannya saja? Mengapa harus datang langsung? Karena mereka tahu bahwa  keberkahan itu dengan berjuang bukan hanya sekadar mendapatkan konten. 

Hari ini kita hidup di zaman konten. Jika kita ingin mencari konten, di manapun dapat kita peroleh, bahkan dengan modal jempol. Tetapi, mengapa kualitas kita selalu di bawah generasi terdahulu kita? Ini sebagaimana yang pernah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sabdakan, "Tidak datang suatu zaman kecuali yang berikutnya lebih buruk dari yang sebelumnya." Salah satu jawabannya ialah karena  keberkahan  yang tak sama.

Dengan demikian, kita harus jaga keberkahan begitu pula kontinuitas. Kaidah mengatakan bahwa  menghancurkan itu lebih mudah daripada membangun.  Jangan sampai bangunan iman yang telah dibangun selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun hancur akibat satu atau dua kesalahan serta tidak istiqamah menuntut ilmu.

Kembali pada kisah jama'ah dari Palembang. Beliau memang tidak mendapatkan kajian yang beliau inginkan, tapi Allah bukakan pintu kebaikan yang lainnya. Beliau akhirnya dapat makan siang satu meja dengan Ustadz. Beliau memiliki beberapa permasalahan yang dijawab langsung oleh Ustadz. Beliau mendapat kajian di siang hari. Selanjutnya, kisah beliau ini disampaikan pada malam hari ini dan di beberapa majelis lainnya. Bayangkan ketika ada orang lain yang terinspirasi kisah ini? Tidakkah argo pahala beliau terus mengalir? Semoga Allah menjaga keikhlasan beliau, aamiin.

* * * 

Bab 2
Adab Seorang  Ahli Ilmu terhadap Dirinya dan Perhatiannya Kepada Murid dan Majelisnya

Bab ini terdiri dari tiga fasal. Fasal pertama berkaitan dengan Adab Seorang Ahli Ilmu terhadap Dirinya. Fasal pertama ini terdiri dari 12 jenis adab.

 Adab Pertama: Muraqabatullah 
Adab pertama bagi seorang ahli ilmu terhadap dirinya ialah senantiasa merasa diawasi oleh Allah baik dalam keadaan sendirian maupun ketika berada di antara manusia. Inilah yang disebut sebagai muraqabatullah. Muraqabatullah adalah hal yang sangat penting.

Dari sini kita bisa melihat bagaimana para ulama yang biasa mewasiatkan tentang "adab sebelum ilmu" dan adab yang pertama kali mereka ketengahkan adalah  adab kepada Allah Orang yang mengedepankan adab kepada Allah maka secara otomatis ia akan beradab kepada makhluk dengan lubuk hatinya, bukan hanya sekadar pencitraan atau sebatas profesionalisme. 

Ini mengilustrasikan tidak adanya kontradiksi antara pernyataan para ulama salaf (klasik) dengan memprioritaskan  tauhid dan aqidah Adab pertama ini merupakan penjelasan tentang tauhid namun dari angle yang berbeda. Ini tentang asma wa sifat. 

Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa muraqabah, perasaan senantiasa diawasi oleh Allah, merupakan  asas dari seluruh amalan-amalan hati. Imam Ibn Qayyim kemudian menjelaskan definisi dari muraqabatullah dalam Madarijus Salikin. Beliau menjelaskan, "Muraqabah adalah adalah ilmu  dan keyakinan seorang hamba yang permanen bahwa Allah senantiasa memperhatikan dan mengawasi dirinya baik dzahirnya maupun batinnya." 

Definisi yang serupa dibawakan pula oleh Imam Al Harits Al Muhasibi. Beliau dalam kitabnya Al Washa menjelaskan bahwa muraqabah adalah  ilmu yang berada dalam hati  seorang hamba secara permanen bahwa Allah mengetahui dirinya baik ketika ia diam maupun ketika ia bergerak dan ilmu ini dipadukan dengan keyakinan yang bersih dan sempurna. Pernyataan beliau ini sekali lagi menekankan bahwa ilmu itu letaknya di hati. Selama ilmu hanya sampai di hafalan, maka muraqabah tidak akan tumbuh.

Imam Al Jaryry menuturkan, "Seluruh urusan kita itu dibangun diatas dua hal. Pertama, engkau senantiasa merasa diawasi oleh Allah. Kedua, ilmu itu tegak di atas dirimu." Oleh karena itu, apabila kita ingin sukses maka tidak lain adalah senantiasa merasa diawasi oleh Allah dan ilmu. Orang yang merasa diawasi tetapi tidak memiliki ilmu, maka ia akan bingung ketika hendak berbuat sesuatu. Dengan demikian,  muraqabah dan ilmu merupakan perpaduan yang sempurna. 

Sementara, orang yang berilmu namun ia merasa tidak diawasi, maka ia akan bertindak sesuka hatinya. Ilmunya tidak bermanfaat bagi dirinya. Dia akan bermaksiat, dia tidak akan amanah. Dia merasa aman karena ia merasa tidak ada pihak manapun yang mengawasinya. Bahkan, seringkali dengan ilmu, seseorang memiliki variasi kemaksiatan yang lebih dahsyat dibandingkan dengan orang bodoh. Oleh karenanya, ilmu itu harus dipadukan dengan muraqabah sehingga tercipta keindahan dalam diri seorang muslim.

Ilmu dan muraqabah, keduanya lah yang harus senantiasa kita mainkan setiap detiknya. Dengan demikian, performa kita di depan layar atau pun di belakang layar tetap sama. Ingatlah kisah anak gadis dan ibunya yang berjualan susu murni di masa Umar bin Khattab.

Ingat pula kembali nasehat Imam Ibnu Qudamah, "Inti dari  ilmu itu amalan hati." Ilmu bukanlah sebatas hafalan, walau hafalan itu penting. Bukan pula sebatas retorika, walau itu penting dan asas dari ibadah hati adalah  muraqabatullah. 

اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.
(Q.S. An Nisa: 1)

Ada sebuah penjelasan yang lebih spesifik yang dijelaskan oleh Imam Dzunnun. Beliau memberikan penjelasan ketika ditanya tentang kunci untuk mendapatkan surga, "Dengan lima kunci, yang pertama dengan istiqamah. Kedua, dengan kesungguhan. Ketiga, dengan muraqabatullah ketika bersendiri maupun ketika bersama orang lain. Keempat, menunggu kematian dan kelima senantiasa mengevaluasi diri sebelum dihisab."

Imam Ibn Jauzi menuturkan, "Allah Subhanahu wa Ta'ala itu lebih dekat kepada seorang hamba daripada urat lehernya. Namun, Allah bermuamalat dengan hambanya seakan ghaib dan jauh darinya. Maka, Allah perintahkan kita untuk mengikhlaskan niat hanya kepada Allah dan mengangkat tangan kepadaNya serta meminta kepadaNya. Maka, hati orang-orang bodoh berpikir bahwa Allah itu jauh. Oleh karena itulah mereka sering terjatuh kepada kemaksiatan. Padahal, jika perasaan merasa diawasi oleh Allah lahir dalam diri-diri mereka, maka itu akan menjaga dan mencegah mereka dari segala dosa. Adapun orang-orang yang sadar, mengetahui kedekatan Allah dengan hambaNya, maka terciptalah muraqabah.

فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ
... maka sesungguhnya Aku dekat.
(Q.S. Al Baqarah: 186)

You May Also Like

0 comments