13. Selami Keindahannya

by - 2:46:00 PM

Credit: Gaelle Marcel on Unsplash
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ
Katakanlah : "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" 
(Q.S. Az Zumar: 9)

Kita masih bersama penjelasan Imam Ibnu Asyur tentang 6 (enam) perbedaan induk antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Perbedaan pertama hingga keempat dapat ditelaah dalam unggahan "Memang Beda" dan "Pembeda dalam Sebuah Kehidupan." Sementara, berikut ini adalah perbedaan kelima dan keenam :

 5) Orang yang berilmu akan menikmati keindahan dan manisnya ilmu. 
Ilmu memiliki rasa manis. Ilmu itu indah. Ketika kita belajar dan mengetahui, maka kita akan merasakan sensasi keindahan dan rasa manis dari ilmu. Ibnu Asyur lantas membawakan Q.S. Fathir ayat 19-21:

وَمَا يَسْتَوِى الْاَعْمٰى وَالْبَصِيْرُ ۙ وَلَا الظُّلُمٰتُ وَلَا النُّوْرُۙ وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُوْرُۚ
Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas...


Ibnu Asyur dan para ulama lain mengatakan bahwa orang yang belajar dan berilmu, hidup mereka, bagai berteduh di bawah rindangnya pohon di kala pertengahan siang. Mereka merasakan keteduhan dan kenikmatan. Sementara, mereka yang hidup dengan tidak mengenal ilmu, hidup mereka, bagaikan dibakar di bawah teriknya matahari.

Dalam ayat tersebut dapat kita pahami bahwa Allah berfirman jika belajar itu bagai berteduh atau sebagaimana menikmati  oksigen  dari sebuah pohon yang rindang. Allah telah memberikan analogi yang sederhana dalam ayat tersebut. Inilah yang dirasakan oleh para ulama. Para ulama telah sampai pada level "menikmati" belajar dan mendapatkan ilmu.

Abu 'Ubaid dalam Thabaqat Al Hanabilah mengatakan, "Aku dalam proses menyusun buku ini (Gharibul Hadits). Aku susun selama empat puluh tahun dan sering kali ketika aku mendapatkan ilmu atau faedah dari lisan-lisan ulama lantas aku masukan ke dalam bukuku itu sesuai dengan babnya, maka ketika malam tiba aku sulit untuk tidur sebab aku terlalu gembira mendapatkan faedah tersebut."

Al Imam Adz Dzahabi dalam Tadzkiratul Huffadz menceritakan ketika dua imam besar bertemu di dalam masjid. Kedua imam tersebut ialah Ali ibn Hasan ibn Syaqiq dan Abdullah bin Mubarak. Ali Ibn Hasan bercerita, "Aku berada di sebuah masjid bersama Abdullah bin Mubarak di malam yang cukup dingin. Kami berdua berdiri dan hendak keluar dari masjid. Tiba-tiba ketika kami sampai di pintu keluar masjid, Abdullah bin Mubarak melemparkan sebuah hadits kepada diriku. Maka, tanpa aku sadari aku meresponnya dengan penuh semangat sehingga akhirnya kami berbincang dengan asik sampai adzan Subuh dikumandangkan."

Abu Ja'far Al Qashri, salah satu ulama besar, diriwayatkan bahwa beliau pernah pergi ke sebuah madinah (kota) bernama Madinatus Susah. Belia kala itu hendak bertemu dengan Yahya bin Umar. Tetapi, ketika beliau bertemu dengannya, Yahya bin Umar sedang menulis buku. Beliau lantas melihat isi dompetnya dan rupanya ia tidak memiliki uang untuk membeli buku/ kertas. Maka beliau membuka bajunya untuk kemudian dijual agar ia mampu membeli kertas.

Proses mendapatkan ilmu merupakan kenikmatan tersendiri apalagi ketika telah didapatkan. Dalam hal ini, kita belum berbicara tentang pahala, keberkahan, al furqan (dapat membedakan yang haq dan yang buruk). Imam Ibnu Ar Razi dan Imam Ibnu Taimiyah serta ulama-ulama yang lainnya menuturkan bahwa  kenikmatan ilmu itu lebih indah daripada kenikmatan fisik dan kenikmatan fasilitas dunia bahkan mampu melupakan kenikmatan-kenikmatan dunia.  

Al Imam Al Baihaqi dalam kitabnya mengatakan, "Nikmatnya ilmu pengetahuan bisa menghilangkan nikmatnya anggota badan." Malik bin Dinar, sebagaimana disampaikan oleh Abu Nu'aim dalam Hilyatul 'Aulia, menyatakan, "Ahli dunia pada saat meninggal dunia ternyata mereka meninggal tanpa pernah merasakan hal yang paling manis dan indah dari dunia." Lantas, seseorang bertanya pada Malik bin Dinar, "Apakah hal yang paling indah dari dunia?" Malik bin Dinar menjawab, "Ma'rifatullah." 

Imam Ibnu Jauzi dalam kitabnya Shaidul Khatir pernah menyatakan, "Aku benar-benar merasakan manisnya saat aku menuntut ilmu ialah ketika kau mendapatkan kendala. Seluruh kendala yang aku hadapi itu lebih manis daripada madu." 

Ibrahim bin Adham seusai makan dan minum, sebagaimana disampaikan oleh Al Imam Al Khatib Al Baghdadi dalam kitab Az Zuhud, mengatakan, "Kalau para raja dan anak-anak mereka mengetahui apa kenikmatan yang sedang kita rasakan detik ini, maka mereka akan berusaha merampasnya dari kita walaupun dengan pedang-pedang mereka." Pertanyaannya ialah sebenarnya menu apa yang sedang Ibrahim bin Adham sedang makan sehingga ketika ia keluar ia merasakan kebahagian yang sedemikian rupa?

Dalam kitab Az Zuhud, menu yang Ibrahim bin Adham dan kawan-kawannya santap kala itu adalah sepotong kecil gandum yang kering dan sangat keras di mana ketika ia hendak memakannya, ia harus mencelupkannya ke air sungai. Sementara, minuman yang ia minum adalah air sungai yang ketika meminumnya ia awali dengan basmalah dna ia tutup dengan mengucapkan hamdalah. Dengan demikian, kenikmatan dalam kisah ini adalah kenikmatan mengamalkan ilmu tentang basmalah dan hamdalah, qana'ah juga ridha.

Imam Al Baihaqi menuturkan, "Kemanakah anak-anak raja sehingga mereka tidak pernah merasakan lezatnya ilmu." Al Imam Nadzar bin Syumail berujar, "Seseorang tidak akan merasakan lezatnya ilmu sampai dia sampai di suatu titik dimana ia lapar dan ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang lapar." Begitu nikmatnya ilmu, maka bukanlah hal yang mengherankan jika banyak dari ulama meninggal akibat tercebur ke dalam selokan. Hal ini karena mereka terlalu menikmati dan mengkaji bacaan mereka.

Kita pada dasarnya telah keliru dengan mencari kenikmatan melalui harta, bahkan tak jarang kita mendapatkannya dengan cara yang haram. Sementara yang didapat tersebut tidak sebanding sebab ada hal yang lebih indah lagi dan mampu didapatkan dengan cara yang halal, yaitu nikmat ilmu (ma'rifatullah).

Syaikh Shalih As Sindi dan Syaikh Muhammad Al Mukhtar Asy Syinqithi menjelaskan, "Kelezatan dunia itu fisik sedangkan kenikmatan ilmu adalah rangkaian dari jiwa, hati, dan pikiran. Ilmu itu kegiatan pikiran dan hati. Kenikmatan pikiran dan hati jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenikmatan fisik kita." Sebagai contoh sederhana, seorang wanita sedang menikmati nyamannya S Class, namun tiba-tiba saja suaminya mengirimkan pesan padanya yang berisi bahwa dirinya telah dicerai. Maka, apakah penerbangannya masih terasa nyaman? Tentu tidak, karena pesan yang disampaikan suaminya tersebut telah menyerang hati, jiwa, dan pikirannya. DEngan kata lain, kenyamanan fisik yang tadi ia rasakan telah sirna.

 وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.
(Q.S. Ali Imran: 185)

 6) Orang yang berilmu akan mendapatkan kebaikan. 
Orang yang berilmu akan mendapatkan efek positif dari ilmunya sepanjang ia hidup di dunia dan di akhirat. Dia mendapat pahala, keberkahan, keutamaan, rahmat Allah, naungan malaikat, dan pasti berbeda dengan orang-orang yang tidak mendapatkan berbagai hal tersebut. Bahkan, orang yang berilmu memiliki kesempatan menjadi wali Allah. 


 Referensi : 
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. (2018). Selami Keindahannya. Dalam kajian kitab "Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim Fii Adabil 'Alim wal Muta'alim (Adab Para Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu)".

You May Also Like

0 comments