59. Menumbuhkan Muraqabatullah

by - 8:00:00 PM

Alhamdulillah kita berada di bulan Dzulqa'dah. Bulan ini merupakan satu dari bulan haram. Bulan dimana pahala dan dosa dilipatgandakan oleh Allah sebagaimana tertera dalam Q.S. At Taubah ayat 36:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.

Bulan-bulan haram pada ayat di atas ada di dalam penjelasan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Imam Bukhari meriwayatkan penjelasan tersebut bahwa tiga bulan datang berturut-turut, yakni Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram kemudian Rajab. Dalam Tafsir Ath Thabari atau Tafsir Ibnu Katsir, Abdullah bin Abbas menjelaskan bahwa pada bulan-bulan tersebut Allah melipat gandakan pahala begitu pula dosa.

Pada bulan-bulan semisal ini setidaknya ada empat pahala yang dapat kita peroleh, di antaranya: (1) pahala ibadah, (2) bonus karena dikerjakan di satu dari empat bulan haram, (3) pahala karena menghidupkan sunnah Nabi yang hampir punah di masyarakat (menghidupkan bulan Dzulqa’dah dengan penuh ibadah), dan (4) mendapat pahala sebagai perintis akibat membuat orang lain terinspirasi atas ibadah yang kita lakukan.

“Beribadah di kala fitnah berkecamuk (kebanyakan manusia lalai) laksana berhijrah kepadaku.” 
(HR. Muslim)

Lalu, amalan apa saja yang dapat kita lakukan di bulan ini? Semua ibadah yang telah diterangkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, misalnya dengan memperbanyak raka'at Shalat Dhuha, kembali bersemangat mengkhatamkan Al Qur'an, memenuhi hak suami atau istri, birrul walidain, memperbanyak puasa. Pada esensinya, seluruh amalan wajib dan sunnah dapat kita kerjakan pada bulan ini. Selain itu, ibadah spesial di bulan ini tak lain adalah haji.

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ
(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah diketahui.
(Q.S. Al Baqarah: 197)

Ibnu Qudamah lantas memberikan memberikan nasehat sebagaimana termaktub dalam Mukhtasar Minhajul Qashidin bahwa ketika berhaji hendaknya kita pastikan “Dengan siapa kita berangkat, siapa yang akan memberikan nasehat kesabaran di sana.” Ibnu Qudamah menuturkan, "Seyogyanya orang yang hendak berangkat agar mencari teman atau rombongan yang shalih, yang cinta pada kebaikan dan saling mendukung dalam kebaikan.” Teman bersafar yang shalih itu yang akan membuat aral dan rintangan menjadi keindahan.

Bab 2
Adab Bagian 1: Muraqabatullah (Lanjutan)

Sebagaimana perkataan Ibn Jauzi dan para ulama lainnya bahwa muraqabah merupakan pondasi dari seluruh amalan hati yang lainnya. Muraqabah sangat menarik. Kita lihat bagaimana para ulama mendahulukan muraqabah di atas kecerdasan.

Kecerdasan yang tidak dilandasi muraqabah dapat menjadi bumerang bagi kita sehingga berlaku di atas nafsu. Ibnu Qudamah menyatakan bahwa hal ini semakin menunjukkan bahwa inti dari ilmu adalah ibadah hati, bukan hafalan atau kecerdasan.

Banyak orang lupa dengan hakikat ini. Banyak orang menyamakan ilmu agama dengan ilmu dunia. Mereka lebih mengutamakan pengetahuan atau konten. Padahal ilmu agama bukan sekadar konten. Ilmu itu amalan hati dan amalan hati yang Ibnu Jama’ah kedepankan dalam kitab ini adalah muraqabah. Dengan amalan ini, semua kebaikan akan tercipta. Dari sini kita semakin terbuka bahwa yang dimaksud dengan adab bukanlah adab antara makhluk dengan mahluk.

Betapa banyak manusia yang memiliki adab yang tidak selaras (adab di hadapan dan di balik manusia lainnya berbeda). Dengan muraqabatullah, kita akan mampu bermain dalam peran yang sama baik di hadapan manusia maupun ketika tersembunyi dari mereka. Adapun mereka yang hanya mengedepankan adab kepada mahluk bisa jadi ia mudah berubah.

 Penjelasan Para Ulama Untuk Menumbuhkan Muraqabatullah 
(1) Senantiasa mengevaluasi dan memperhatikan diri di setiap keadaan. Abu Hafs menasehatkan, “Jika kalian duduk di antara manusia, Anda harus senantiasa menasehati hati dan diri Anda . Janganlah Anda tertipu pada saat manusia berkumpul di tengah-tengah Anda karena mereka hanya bisa memperhatikan yang nampak dari Anda dan Allah-lah yang mengawasi batin dan dalam diri Anda.” 

Bilal bin Sa’ad mengatakan, “Janganlah Anda lihat kecilnya dosa Anda, tapi Anda harus perhatikan siapa yang Anda maksiati.” 

Khalid bin Ma’dah menuturkan, “Tidaklah seorang hamba kecuali memiliki empat mata. Dua mata yang ada di wajahnya dan dua mata ini digunakan untuk melihat perkara-perkara duniawi. Seorang hamba memiliki dua mata lagi di hatinya dan dua mata ini digunakan untuk melihat perkara-perkara akhirat. Apabila Allah menghendaki kebaikan pada dirinya, Allah buka hatinya sehingga ia mampu melihat apa yang Allah janjikan dari perkara-perkara yang ghaib.” 

Muraqabah merupakan amalan yang sederhana, tetapi dampaknya sungguh luar biasa: mampu membuat perbedaan bagai Timur dan Barat; mampu membuat kita menggugurkan maksiat di last minute (ingat kembali kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua). Namun demikian, amalan sederhana ini berat untuk dilakukan jika kita tidak meminta pertolongan dari Allah dan berupaya sekuat tenaga. 

Para ulama menyatakan bahwa hati itu dinamakan “qalb” karena labilnya tiada terkira, maka hati harus senantiasa mendapat peringatan. Imam Abu Nu’aim dalam Hilyatul 'Auliya menyatakan, “Jagalah jiwa Anda pada tiga hal. Jika Anda hendak beramal, maka ingatlah bahwa Allah melihat Anda. Apabila Anda hendak bicara, maka ingatlah bahwa pendengaran Allah sedang mendengarkan Anda. Apabila Anda diam, maka ingatlah bahwa Allah memiliki ilmu yang mampu membedah kebisuan Anda.” 


 Referensi : 
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. (2019). Menumbuhkan Muraqabatullah. Dalam kajian kitab "Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim Fii Adabil 'Alim wal Muta'alim (Adab Para Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu)".

You May Also Like

0 comments