60. Tak Ada yang Luput

by - 8:00:00 PM

Sekali lagi kita patut bersyukur karena Allah memberikan kita kesempatan untuk dapat beribadah dan dapat memasuki bulan yang mulia, yakni bulan Dzulqa'dah. Kita patut bersyukur karena sebagian dari kita tidak sampai menemui bulan ini atau mereka yang memasuki bulan ini namun tidak menyadari bahwa kita sedang memasuki musim ibadah. Maka, manfaatkanlah bulan ini untuk beribadah kepada Allah. Ingat pula bahwa Allah melipat gandakan pahala pada bulan ini. Selain itu, kita juga perlu mengingat sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

“Beribadah di kala kebanyakan manusia lalai laksana  berhijrah  kepadaku.” 
(HR. Muslim)

Dalam hal hijrah, kita akan mampu bertahan di atasnya bergantung pada ilmu yang kita miliki. Sedangkan, ilmu tidaklah didapat kecuali dengan  belajar, belajar, dan belajar.  Imam Al Mawardi menuturkan tentang bagaimana kita belajar dalam kitabnya Adabud Dunya wad Diin, “Ketahuilah bahwa ilmu-ilmu itu memiliki pendahuluan (bab-bab awal) dan bab awal inilah yang akan mengantarkan kita pada bab-bab akhir. Dan ilmu itu memiliki pintu masuk yang akan mengantarkan kita pada hakikat-hakikat ilmu. Maka, hendaklah seorang penuntut ilmu memulai belajarnya dengan bab-bab awal. Dan janganlah sekali-kali ia mempelajari bab akhir sebelum ia mempelajari bab awal. ... Karena bangunan itu jika dibangun tanpa pondasi tidak akan jadi. Dan buah jika tidak ditanam dengan bibitnya tidak akan dapat dipetik hasilnya.”

Di sisi lain, kita tentu tidaklah lebih pintar dari Ibnu Umar. Ibnu Umar menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kami iman sebelum Al Qur'an. Kita tidaklah pula lebih pintar dari para tabi'in. Ibnu Mubarak menasehatkan bahwa sepatutnya kita mempelajari adab sebelum ilmu. Ini mengilustrasikan bahwa semua hal memiliki sistem dan langkah-langkahnya. Dengan demikian, seorang penuntut ilmu harus belajar dari bab awal sehingga bisa sampai pada bab akhir. Jangan bicara besar tapi dia tidak memahami basic.

Sementara, hari ini kita disuguhi keadaan yang serba instan. Padahal, tidak ada shortcut process, tak ada bypass process. Proses menjadi hal yang tidak berharga. Kita harus bicara tentang iman, tentang tauhid, kita harus kembali ke dasar. Umar bin Khattab mengatakan, "Anda harus mempelajari adab dan beradab terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu." Perkataan Umar ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Muflih dalam kitabnya Adabus Syar'iyyah.

Meneladani kisah para pembelajar, Nafi’ bin Abdillah diriwayatkan telah duduk di majelis Imam Malik secara rutin selama 40 tahun dan beliau selalu datang tepat waktu. Ada pula Tsabit bin Bunanni yang juga menghadiri majelis Imam Malik selama 40 tahun. Kisah ini mengingatkan kita pada prinsip: "Man tsabata nabata".

 ... belajarlah mulai dari dasar karena hakikat ilmu itu mahal. 

Berbicara tentang bulan Dzulqa'dah, maka selanjutnya kita harus kembali mengangkat isu  haji.  Ada di antara jamaah haji tahun ini adalah seorang pencari rumput. Apabila selipan kisah tentang pencari rumput ini tidak membuat kita tertampar, maka kita patut mempertanyakan iman kita. Banyak di antara kita tidak menunaikan ibadah haji bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak mau.

Bab 2
Adab Bagian 1: Muraqabatullah (Lanjutan)

Kita telah memasuki inti dari buku ini dan inti dari buku ini adalah tentang adab seorang hamba kepada Allah Ta'ala, bukan adab antara manusia dengan manusia. Apabila seseorang telah memelihara adabnya dengan baik kepada Allah, maka dapat dipastikan ia memiliki adab yang baik pula pada manusia. Inilah kerangka berpikir yang seharusnya kita bangun.

 Penjelasan Para Ulama Untuk Menumbuhkan Muraqabatullah (Lanjutan)  
(2) Meresapi tauhid asma wa sifat. Kita tidak akan bisa mewujudkan muraqabah kecuali dengan meyakini dan meresapi nama-nama dan sifat-sifat Allah. Kita sebut saja misalnya Ar Raqib (Yang Maha Mengawasi):

  اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ  رَقِيْبًا
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.
(Q.S. An Nisa: 1)

وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ رَّقِيْبًا
Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.
(Q.S. Al Ahzab: 52)

Belum lagi ketika kita meresapi Ke-Mahadekatan Allah kepada kita sebagaimana termaktub dalam Q.S. Hud ayat 61:

اِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ
Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).

Ini yang harus kita miliki. Ketika kita menginginkan perasaan diawasi oleh Allah yang mantap, maka tauhid asma wa sifat kita juga harus kuat. Imam Al Harits Al Muhasibi menyatakan, “Muraqabah itu adalah ilmu yang terdapat pada hati seorang hamba tentang betapa dekatnya Rabbnya dengannya.” 

Pernyataan tersebut kembali menguatkan kita bahwa ilmu itu sepatutnya menancap di hati kita bukan hanya sekadar ada di hafalan. Sebagai ilustrasi, sembilan puluh sembilan persen (99%) muslim dan muslimah yang berzina di Jakarta ketika ditanya tentang hukum berzina, maka mereka pasti akan menjawab bahwa hal tersebut haram. Tetapi, mengapa mereka masih mengerjakannya? Karena ilmunya hanya ada di kepala, bukan di hati. 

"Jika ia (hati) baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia (hati) rusak, maka rusak pula seluruh jasad."
(H.R. Bukhari)

Tauhid asma wa sifat adalah ilmu yang real dan menentukan kesuksesan atau kegagalan dalam hidup kita. Semakin kita yakin bahwa Allah Ar Raqib, maka kita akan berkomitmen penuh dengan rel agama kita. Kita sadar bahwasannya kita senantiasa dalam pengawasan Allah.

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَاِنَّكَ بِاَعْيُنِنَا
Dan bersabarlah (Muhammad) menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami ...
(Q.S. At Tur: 48)

 Kisah Umar dan Budak yang Senantiasa Merasa Diawasi oleh Allah 
Dari Abdullah bin Dinar diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab pernah melakukan perjalan ke luar kota. Beliau kemudian bertemu seorang penggembala kambing di tengah perjalanan. Penggembala itu adalah seorang budak yang diperintahkan majikannya untuk mengembala kambing.

Sang budak tidak mengetahui siapa Umar bin Khattab dan dia sendiri tinggal di pegunungan. Umar lantas hendak menguji sang budak dengan mengatakan, “Wahai penggembala kambing tolong juallah kepadaku satu kambing dari segerombolan kambing ini.” Maka, penggembala kambing tersebut berkata, “Mohon maaf saya ini hanya seorang budak." Artinya, sang penggembala atau sang budak merasa tidak memiliki wewenang untuk melakukan tawar menawar.

Umar kemudian melanjutkan, “Sudahlah mari kita bertransaksi dan uangnya untukmu. Kau katakan saja bahwa satu kambing itu dimakan serigala ketika nanti kamu bertemu majikanmu.” Budak tersebut lantas melemparkan suatu kalimat pada Umar, “Kalau begitu dimana Allah?"

وَاَسِرُّوْا قَوْلَكُمْ اَوِ اجْهَرُوْا بِهٖ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ اَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَۗ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ
Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.
(Q.S. Al Mulk: 13-14)

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ
Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu ...
(Q.S. Al Baqarah : 235)

Melanjutkan kisah Umar dan sang budak, maka Umar pun menangis usai mendengar pertanyaan sederhana budak tersebut. Umar lantas mencari siapa majikannya kemudian membelinya berapapun harganya. Umar akhirnya memerdekakan budak tersebut dan berkata, "Aku memerdekakan engkau di dunia karena kalimat yang engkau ucapkan tersebut dan aku berharap semoga Allah memerdekakanmu dari api neraka karena kalimat yang sama."

 Kisah Syaikh dan Murid Kesayangannya yang Senantiasa Merasa Diawasi oleh Allah 
Syaikh Khalid bin Utsman As Sabt pernah menyampaikan kisah yang juga pernah disampaikan oleh para ulama terdahulu. Kisah ini adalah kisah tentang seorang syaikh yang memiliki murid kesayangan. Murid kesayangannya tersebut sebenarnya tidak lebih cemerlang jika dibandingkan dengan murid-murid lainnya. Maka, satu murid itu akhirnya memercikkan kecemburuan dari murid-murid lainnya. Para murid yang lain kemudian mengeluh mengapa sang syaikh lebih menyayangi satu muridnya itu. Maka, syaikh tersebut pun mengatakan, "Nanti akan aku jelaskan."

Suatu saat sang syaikh membawa beberapa ekor burung di depan murid-muridnya. Syaikh lantas memberikan seekor burung pada setiap muridnya. Ketika seluruh muridnya telah memegang masing-masing burung, maka sang syaikh pun mengatakan, "Saya ingin membuat suatu perlombaan dengan suatu peraturan. Silahkan kalian berpencar dan sembelihlah burung tersebut di tempat yang tidak diketahui oleh siapapun. Siapa di antara kalian yang paling cepat kembali padaku, maka akan aku berikan hadiah."

Para murid selanjutnya berpencar. Beberapa waktu kemudian seorang murid datang dengan burung yang telah ia sembelih dan satu per satu murid yang lainnya berdatangan. Pada saat seluruh murid telah berkumpul, ada seorang murid yang tak kunjung muncul. Dialah murid kesayangan sang syaikh. Beberapa saat berselang, sang murid akhirnya tiba ke hadapan gurunya dan yang mengejutkan burung yang diberikan padanya belum ia sembelih. Maka, semua murid pun bingung dan gembira karena murid kesayangan sang syaikh tidak mampu melakukan tugas yang telah diperintahkan sang guru.

Lantas, sang syaikh akhirnya bertanya pada murid tersebut atas alasan keterlambatannya dan mengapa burung yang diberikan padanya belum juga disembelih. Sang murid pun menjawab, "Saya gagal mendapatkan tempat yang telah engkau jelaskan." Murid-murid yang lain lalu berseru, "Di sini, di sana, di sana..."

Murid kesayangan syaikh kemudian melanjutkan, "Saya telah mendatangi tempat-tempat tersebut namun tempat-tempat itu tetap ada dalam pengawasan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Padahal, syarat yang diberikan tadi bahwa burung ini dapat disembelih tanpa diketahui siapapun. Sedangkan, Allah berfirman bahwa Allah senantiasa menjaga dan mengawasi kalian, dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami, Allah mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang kalian sembunyikan di dalam hati." Senyuman pun berkembang dari bibir sang syaikh usai mendengar jawaban murid kesayangannya tersebut. Syaikh lalu mengatakan, "Kalian lihat mengapa aku begitu menyayanginya?"

 Mengajak Bicara Diri Sendiri tentang Pengawasan Allah 
Imam Ibnu Asakir dalam kitab tarikhnya membawakan kisah tentang Adam bin Abi Iyas. Adam bin Abi Iyas setiap bertutur di sebuah majelis maka ia akan senantiasa mengajak bicara dirinya sendiri. Ia berkata:

“Demi Allah yang tidak ada Dzat yang berhak diibadahi kecuali Dia, tidak ada seorang pun kecuali ia akan berhadapan berdua saja dengan Allah, dan tidak pula ada pihak ketiga sehingga pada saat itu Allah akan bertanya padanya, ‘Wahai hambaku Adam, bukankah Aku selama ini mengawasi hatimu saat kamu menginginkan apa yang tidak halal bagimu. Bukankah Aku mengawasi matamu ketika kamu melihat sesuatu yang tidak dihalalkan untukmu. Bukankah Aku mengawasi telingamu pada saat kamu mendengar sesuatu yang tidak halal bagimu. Bukankah Aku mengawasi tanganmu ketika tanganmu mengerjakan sesuatu yang tidak halal bagimu, dan  bukankah Aku mengawasi kakimu saat engkau melangkah ke tempat yang diharamkan dan tidak halal bagimu? Apakah kamu malu pada makhluk tetapi kamu tidak malu pada-Ku? Apakah Aku menjadi pihak yang paling rendah dari pihak-pihak yang bisa melihat mu?"

Perkataan Adam bin Abi Iyas ini serupa dengan nasehat Wuhaib bin Al Waradh. Wuhaib bin Al Waradh menyatakan, "Bertaqwalah kepada Allah, jangan sampai Allah menjadi pihak yang paling rendah dibandingkan pihak-pihak yang melihatmu." Para ulama menjelaskan bahwa banyak di antara kita ketika mengerjakan sesuatu yang diharamkan maka kita akan merasa malu kepada makhluk, tetapi ketika Allah yang melihat maka kita merasa biasa saja.

وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا
Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.
(Q.S. An Nisa: 79)

وَاللّٰهُ شَهِيْدٌ عَلٰى مَا تَعْمَلُوْنَ
... padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan.
(Q.S. Ali Imran: 98)

قُلْ اَيُّ شَيْءٍ اَكْبَرُ شَهَادَةً ۗ قُلِ اللّٰهُ
Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya?” Katakanlah, “Allah ...
(Q.S. Al An'am: 19)

Maka, persaksian Allah itulah yang paling besar bagi orang-orang beriman. Mari kita renungkan ayat ini kemudian marilah kita mengevaluasi diri. Mungkin orang lain menganggap kita shalih dan shalihah, tapi persaksian Allah itulah yang paling besar. Allah Maha Menyaksikan baik perbuatan yang kita rahasiakan ataupun kita persaksikan di hadapan orang lain. Bahkan, Allah tahu apa yang kita sembunyikan di dalam dada-dada kita.

وَاَسِرُّوْا قَوْلَكُمْ اَوِ اجْهَرُوْا بِهٖ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ اَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَۗ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ
Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.
(Q.S. Al Mulk: 13-14)

Imam As Sa’di menjelaskan bahwa begitu halusnya Allah membuat kita tak sadar ketika Allah melakukan sesuatu. Kita tak sadar bahwa diri kita sedang dihukum oleh Allah. Bahkan, kita tak sadar dengan sebab apa kita dihukum. Bisa jadi kita bermaksiat di kotak A, tapi kita dihabisi di kotak C.

 Referensi : 
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. (2019). Tak Ada yang Luput. Dalam kajian kitab "Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim Fii Adabil 'Alim wal Muta'alim (Adab Para Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu)".

You May Also Like

0 comments