61. Saat Diri Ini Terjebak

by - 8:00:00 PM

Credit: JohnT on Unsplash
 Muqaddimah 
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
(Q.S. Ibrahim : 7)

Untuk memetik sebuah nikmat, maka kita perlu bersyukur. Inilah karakter orang-orang beriman dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia. Dengan demikian, kita sepatutnya bersyukur dalam setiap keadaan. Kondisi kita belajar hari ini jauh lebih baik dibandingkan dengan para sahabat dahulu. Bayangkan Jabir yang dahulu berjalan kaki selama satu bulan demi satu buah hadits. Maka, marilah kita kedepankan rasa syukur kepada Allah.

 Tiga Level dalam Menyikapi Kendala: 
1) sabar (menahan walau masih terselip rasa jengah)
2) ridha (merasa tenang)
3) bersyukur (karena dirinya tahu bahwa takdir Allah selalu yang terbaik untuknya)

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
(Q.S. Al Baqarah: 216)

Sekali lagi, bulan ini merupakan bulan haji. Marilah kita muliakan ibadah haji sebagai salah satu Rukun dalam agama kita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa ...
(H.R. Tirmidzi)

Bab 2
Adab Bagian 1: Muraqabatullah (Lanjutan)

 Di Antara Kisah Orang-orang yang Senantiasa Merasa Diawasi oleh Allah 
Imam Al Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka meriwayatkan dari Abdullah bin Umar. Abdullah bin Umar menuturkan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang tiga orang yang melakukan perjalanan dan mereka hidup di masa sebelum masa para sahabat.

Ketika tiga orang tersebut berjalan dan terus berjalan, maka siang pun berganti malam. Mereka lantas memutuskan untuk beristirahat. Mereka mencari dan menemukan sebuah gua yang cocok untuk dijadikan tempat beristirahat. 

Ketika mereka masuk ke dalam gua, tiba-tiba batu besar dari atas gunung menutupi mulut gua tersebut sehingga mereka tidak dapat keluar dari gua itu. Mereka kemudian tiba pada sebuah kesimpulan dan berkata, "Kita tidak akan mungkin memindahkan batu tersebut kecuali kita berdo'a kepada Allah dengan bertawasul melalui amal-amal shalih kita." Mereka kemudian sepakat bahwa tidak ada opsi lain, maka satu demi satu dari mereka memulai tawasul mereka. 

Sebelum kita lanjutkan, kita dapat memetik pelajaran dalam penggalan kisah ini. Kita dapat melihat bagaimana iman dan ilmu seorang hamba itu menentukan di saat-saat genting. Ilmu itulah yang menolong kita. Ilmu itulah yang menjaga kita. Ini sebagaimana yang pernah Ali bin Abi Thalib katakan tentang bedanya ilmu dan harta, "Ilmu yang menjaga Anda, sedangkan harta, Anda yang menjaga harta."

اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْۤءَ
Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan ... 
(Q.S. An Naml: 62)

Mereka kemudian sepakat bahwa tidak ada yang dapat mengurai segala perkara genting kecuali Allah. Mereka sependapat bahwa tidak ada opsi lain. Maka, satu demi satu dari mereka memulai tawasul mereka.

Lanjutan (Kisah Orang Pertama)...
Orang pertama mengatakan, "Ya Allah aku memiliki dua orang tua yang telah lanjut usianya. Aku tidak pernah mendahulukan sesuatu selain mereka berdua. Jika aku memerah susu, maka merekalah yang harus meminumnya terlebih dahulu, bukan istri dan anak-anakku atau budak-budakku. Suatu hari aku pergi untuk mengambil kayu bakar dengan jarak yang sangat jauh sehingga aku terlambat pulang. 

Ketika sampai di rumah, sebagaimana biasanya, aku memerah susu di waktu malam. Tetapi malam ini berbeda, kedua orang tuaku telah terlelap dalam tidur. Aku tetap pada prinsipku bahwa aku tidak akan memberikan susu ini selain kepada mereka. Anak-anakku merengek meminta susu yang telah aku perah tersebut, namun aku menolak permintaan mereka. 

Aku kemudian menunggu  keduanya terbangun dengan memegang gelas susu itu. Aku menunggu sembari berdiri hingga mendekati waktu fajar. Maka ketika kedua orang tuaku terbangun, aku memberikannya dengan penuh suka cita. Ya Allah, apabila aku melakukan semua itu hanya untuk mengharap wajah-Mu, maka selamatkanlah kami dari batu besar ini." Batu besar tersebut pun akhirnya bergerak.

Memetik Hikmah dalam Kisah Orang Pertama ...
Lihatlah orang ini, bukankah ia bisa duduk atau bahkan ia bisa tidur. Tapi ia tidak melakukannya. Sehingga, banyak dari ahli ilmu membahas kisah pertama ini melalui sudut pandang birrul walidain. Pembahasan semisal ini memang benar, tapi, apa core value-nya? Core value-nya adalah muraqabatullah


  اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ  رَقِيْبًا
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.
(Q.S. An Nisa: 1)

Kita tidak akan peduli bahwa diri kita disadap atau tidak, terekam cctv atau pun tidak, diketahui oleh orang lain atau tidak ketika bermaksiat karena Allah Yang Maha Mengawasi. Dengan demikian, semua pengawasan selain-Nya menjadi kerdil. Kisah orang pertama ini mengilustrasikan bagaimana muraqabatullah dapat melejitkan khidmatnya pada orang tua berada pada level setinggi itu.

Lanjutan Kisah (Orang Kedua) ...
Lalu, tibalah giliran orang yang kedua. Ia berkata, "Ya Allah, aku memiliki seorang sepupu perempuan dari jalur ayahku. Sepupuku tersebut adalah perempuan yang sangat aku cintai. Tetapi, sepupuku itu tidak menaruh hati padaku sedikit pun." 

Suatu saat sepupunya tiba-tiba datang pada lelaki itu sebab kebutuhannya akan uang senilai 120 dinar. Maka, lelaki itu memberikan bantuan dengan syarat sepupunya mau ia diajak berzina. Pada saat itu, sepupunya tidak mampu menolak akibat keterdesakannya.  Singkat cerita, di saat sang lelaki telah siap melakukan sebagaimana layaknya apa yang akan dilakukan suami kepada istrinya, sepupunya itu berkata, "Janganlah engkau membuka cincin kecuali dengan cara yang halal."

Kalimat sepupunya itu membuat dada sang lelaki sesak dan hasratnya untuk melampiaskan syahwat pada sepupunya hilang. Akhirnya, ia memutuskan untuk meninggalkan perempuan yang paling dicintainya dalam kondisi demikian dan memberikan uang senilai 120 dinar dengan cuma-cuma. Lantas, lelaki ini bertawasul kepada Allah, "Ya Allah, apabila aku melakukan semua itu hanya untuk mengharap wajah-Mu, maka selamatkanlah kami dari batu besar ini." Maka, untuk kedua kalinya batu besar tersebut pun bergerak, namun belum mampu menyelamatkan mereka bertiga.

Memetik Hikmah dalam Kisah Orang Kedua ...
Kisah kedua ini juga menggambarkan tentang muraqabatullah. Lelaki yang akhirnya menahan diri dari sepupunya ini memberikan teladan bagaimana iman dan ilmunya "berbicara". Kita mungkin khilaf dan terbawa nafsu. Tetapi, ilmu itulah yang akan menjaga kita jika kita jujur kepada Allah. 

Lelaki ini telah salah, ia memanfaatkan kesulitan sepupunya, berkeinginan untuk zina, dan berkhalwat dengan sepupunya bahkan aurat mereka telah tersingkap. Namun, Allah beri lelaki ini hidayah.  Meninggalkan kemaksiatan dalam keadaan yang semisal ini merupakan amal shalih yang sangat besar dan dapat menghapus kesalahan-kesalahan sebelumnya.

Hikmah lain yang dapat kita petik dalam kisah ini adalah bahwa muraqabah tidak hanya menjaga kita dalam ketaatan tetapi juga menjaga kita agar terhindar dari maksiat. Kisah ini juga menunjukkan "Tidak ada kata terlambat untuk mengatakan tidak pada maksiat."

Ustadz Nuzul: "Jangan gunakan kaidah nasi telah menjadi bubur. Jika nasi telah menjadi bubur, maka tugas kita adalah menaburkan cakwe dan ayam suir-suir. Lalu, kita tambahkan sate ampela, usus, dan hati. Jangan lupa pula kerupuk. Maka, kita akan dapatkan bubur ayam spesial dan semangkuk bubur ayam spesial lebih mahal dua atau tiga kali lipat dari pada nasi putih."  

Lanjutan Kisah (Orang Ketiga) ...
Lantas, tibalah giliran orang ketiga. Ia berkata, "Ya Allah, aku pernah mempekerjakan pegawai, maka aku memberikan seluruh hak-hak mereka kecuali satu orang pegawai. Ia pergi tanpa pamit. Maka, upahnya aku kembangkan sehingga menjadi melimpah. 

Ketika keuntungan dari upah pegawai yang aku kembangkan itu telah mencapai jumlah yang sangat banyak, datanglah sang pegawai. Pegawai tersebut kemudian berkata, 'Wahai hamba Allah berikanlah upahku.' Maka aku menjawab, 'Lihatlah, semua itu adalah milikmu, unta-untanya, sapi-sapinya, kambing-kambingnya juga budak-budaknya.' Ia pun berujar, 'Wahai hamba Allah janganlah kau mengejekku.' Maka, aku berkata, 'Aku tidak bermaksud mengejekmu, tetapi semua itu dari upahmu. Itu semua hartamu. 

Dengan demikian, seluruh harta itu akhirnya diambil oleh pegawai tersebut. Ya Allah, apabila aku melakukan semua itu hanya untuk mengharap wajah-Mu, maka selamatkanlah kami dari batu besar ini." Maka, batu besar itu pun kembali bergerak dan membuat ketiganya dapat keluar dari gua dengan selamat.

Memetik Hikmah dalam Kisah Orang Ketiga ...
Mengapa majikannya tersebut rela menyerahkan seluruh jerih payahnya? Mengapa ia tidak memberikan pegawainya upah dalam besaran yang sesungguhnya? Jawabannya karena muraqabatullah. Ia ingin tampil sebaik mungkin untuk Allah.

Kisah-kisah ini menjadi pengingat betapa pentingnya muraqabatullah. Allah tidak mengantuk dan tidak tidur. Tetapi, halus dan lembutnya Allah tidak membuat kita langsung dihukum oleh Allah. Padahal, Allah mengawasi seluruh kemaksiatan kita. Allah mengulur hukuman kita.

Dunia ini ujian. Apabila kita dihukum seketika ketika kita melakukan maksiat, maka dunia ini kehilangan sebagian esensi ujian. Allah menguji sudut pandang kita apakah kita merasa aman ketika Allah tidak melakukan apapun pada kita saat bermaksiat. Apabila kita merasa aman, maka ada masalah besar dalam diri kita. Dengan demikian, kita patut menanamkan muraqabatullah dalam diri jika kita ingin bermain pada level yang tinggi.

Orang-orang beriman punya konsep yang lebih tinggi dari CCTV, lebih tinggi dari penyadapan apapun karena pengawasan Allah itu lebih menakutkan dari selainnya.

 Referensi : 
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. (2019). Saat Diri Ini Terjebak. Dalam kajian kitab "Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim Fii Adabil 'Alim wal Muta'alim (Adab Para Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu)".

You May Also Like

0 comments