62. Sebuah Amanat

by - 8:00:00 PM

Credit: Anita Austvika on Unsplash
Muqaddimah
Kita akan menyesal jika hidup yang hanya sekali ini tidak kita manfaatkan untuk menunaikan ibadah haji. Pihak-pihak yang sering berangkat pasti mengakui bahwa setiap perjalanan memiliki keunikan tersendiri. Setiap perjalanannya menyajikan emosi yang berbeda dan banyak kebahagian. Ini tentu saja akan dirasakan bagi orang-orang yang jujur dalam melakukannya.

Selain itu, tidak ada perintah haji yang mewajibkan kita untuk memiliki pasangan terlebih dahulu. Tidak pula kita dapati pembatal-pembatal haji itu adalah jomblo. Sebagian pihak selalu berpikir bahwa mereka akan berhaji setelah menikah. Memang, beribadah haji dengan pasangan adalah hal yang baik. Tetapi, jika kita belum memilikinya, maka hal ini tidak menghalangi kita untuk menunaikan ibadah haji. Mari kita perjuangkan. Demi Allah, Allah akan ganti apa yang kita keluarkan, bahkan lebih. 

Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa ...
(H.R. Tirmidzi)

Indah, demi Allah, perjalanan haji adalah perjalanan yang indah. Perjalanan ini akan membuat kita sadar betapa materi itu bukan segalanya. Keimanan, ketakwaan, dan kejujuran itulah segalanya. Di sanalah pusat hidayah.

لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ
Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.
(Q.S. Al Hajj: 28)

Mintalah pada Allah, minta pada Allah, minta pada Allah! Ada di antara kita yang berangkat haji tanpa melalui antrian panjang. Padahal, ia hanya mampu menabung sebesar Rp. 5000 per hari. Tetapi setiap ia akan menabungkan uangnya, ia berdo'a mengiba pada Allah.

Kita ini terlalu banyak berpikir. Padahal, Allah telah janjikan pertolongan-Nya bagi orang-orang yang bertakwa. Lantas, pertanyaanya apakah kita sudah bertakwa? Bukankah Allah memerintahkan kita untuk bertakwa semampu kita? Ini bukan tentang Rp. 5000. Ini juga bukan tentang haji saja, tetapi seluruh kotak-kotak perintah Allah yang lainnya. Banyak di antara kita bukan tidak mampu, tetapi tidak mau dan tidak berani membuat skala prioritas.

Lantas, bagaimana kita dapat meraih haji yang mabrur? Haji yang mabrur dapat kita gapai dengan: 1). ikhlas, 2). berkomitmen mengikuti tuntunan Rasulullah, 3). mengikuti nasehat para ulama  tentang dengan siapa kita berangkat.

Seorang ulama menuturkan, "Ar rafiq qabla thariq." Artinya, kita harus memperhatikan siapa pendamping kita sebelum kita berbicara tentang teknis perjalanan. Orang-orang besar itu bermain dengan manusia, bukan dengan materi. Sehingga, ketika kita berhaji hendaknya kita pastikan dengan siapa kita pergi, bukan sibuk dengan fasilitas, hotel, atau maskapai seperti apa yang akan membawa kita. Nasehat ulama tersebut mengilustrasikan pula bagaimana karya dakwah dari para Nabi dan Rasul  adalah tentang manusia. Kita bisa belajar dari karya dakwah Nabi shallallahu 'alaih wa sallam yang menghasilkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Abu Ubaidah, Thalhah, Sa'ad bin Abi Waqash, dan seterusnya. Oleh karena itu, keindahan perjalanan itu ada pada manusia-manusia itu sendiri.

Bab 2
Adab Bagian 1: Muraqabatullah (Lanjutan)

Kita masih melanjutkan penjelasan para ulama tentang bagaimana menumbuhkan muraqabatullah. Pada pekan-pekan yang lalu telah kita sebutkan bahwa pertama, kita harus senantiasa mengevaluasi diri dan yang kedua, kita harus meresapi tauhid asma wa sifat. Pada kajian kali ini kita akan membahas kiat selanjutnya.

Penjelasan Para Ulama untuk Menumbuhkan Muraqabatullah (Lanjutan)
(3) Menjaga amanat atas ilmu, kecerdasan, pemahaman, dan indera yang diperolehnya dari Allah.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui.
(Q.S. Al Anfal: 27)

Ilmu adalah amanat. Maka, ketika orang yang menuntut ilmu pulang dari majelis, yakinlah bahwa sejatinya Allah sedang menitipkan amanat padanya.

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.
(Q.S. Al Ahzab: 72)

Dalam Tafsir Ath Thabari, Abdullah bin Abbas menjelaskan bahwa amanat yang Allah maksud dalam ayat ini adalah kewajiban-kewajiban yang Allah berikan atas hamba-Nya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa amanat yang Allah maksud adalah apa yang Allah tawarkan kepada tujuh lapis langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun, langit, bumi, dan gunung-gunung menolak tawaran tersebut.

Maka, Allah tawarkan kepada Nabi Adam 'alaihis sallam dan beliau menyanggupinya dengan segala konsekuensi-konsekuensinya. Di antara konsekuensi yang harus dihadapi adalah apabila Nabi Adam (dan seluruh anak cucunya) melakukan sesuatu yang baik, maka Nabi Adam akan mendapat pahala. Sebaliknya, apabila Nabi Adam melakukan keburukan dan mengelak dari perintah, maka Nabi Adam akan mendapat hukuman.

Keputusan Nabi Adam untuk Mengemban Amanat adalah Kebodohan?
Para ulama seperti Ibnu Asyur dalam Tahrir wa Tanwir menjelaskan bahwa tindakan Nabi Adam itu bukan untuk menyombongkan diri ataupun suatu keputusan yang bodoh. Tetapi, pilihan itu adalah fitrah dari Allah. Allah mengarahkan fitrah Nabi Adam untuk mengemban amanat tersebut.

Amanat yang diemban oleh Nabi Adam dan seluruh anak cucunya ini merupakan kemuliaan, taufik dan karamah bagi manusia dari Allah. Sehingga, amanat ini bukanlah suatu celaan. Hal yang tercela adalah ketika kita menjalankan amanat dengan kezaliman dan kebodohan. Dengan demikian, tidak ada yang salah dengan keputusan Nabi Adam. Keputusan beliau ini justru menunjukkan bagaimana seharusnya orang-orang besar bermain. Inilah fitrah Nabi Adam dan anak cucunya.

Dalam konteks kita hari ini, maka kita tidak akan mundur dari hijrah. Kita akan tetap tegar di atas hijrah. Walaupun, kita harus berhadapan dengan konsekuensi besar sebagaimana yang dihadapi Nabi Adam.

Jika kita berlaku baik, maka Allah akan menganugerahi kita pahala. Sedangkan, ketika kita melakukan perbuatan buruk, maka Allah akan menghukum kita. Keputusan kita justru menjadi bagian dari upaya dalam mengamalkan nasehat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

Bersemangatlah kamu terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi kamu, dan mohonlah pertolongan pada Allah dan jangan merasa lemah....
(H.R. Muslim)

Ibnu Qayyim menuturkan, "Hidup adalah perpaduan antara ibadah dan meminta pertolongan kepada Allah." Sementara itu, blind spot banyak pihak hari ini adalah lalai dari meminta pertolongan kepada Allah.

Kita merasa bahwa dengan melakukan ketaatan, maka kita tidak perlu lagi meminta pertolongan kepada Allah. Padahal, kita seharusnya memintanya di setiap waktu, walaupun untuk hal-hal yang kecil, apalagi saat kita mengemban amanat ilmu. 


 Referensi : 

You May Also Like

0 comments