63. Amanat Itu Bernama Ilmu

by - 8:00:00 PM

Credit: Nathan Fertig on Unsplash
Imam Ibnu Jama'ah mengingatkan bahwa kita mengemban sebuah amanat, yakni berupa ilmu. Ilmu yang diperoleh dari Allah. Oleh karenanya, ini yang harus kita camkan bersama-sama ketika belajar. Kita harus camkan bahwa ketika kajian usai dan kita pulang, maka sesungguhnya kita membawa amanah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang bernama ilmu. Mari kita ingat kembali firman Allah tentang hal ini:

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.
(Q.S. Al Ahzab: 72)

Sebagaimana penjelasan sebelumnya bahwa keputusan manusia untuk mengemban amanah tersebut adalah sebuah fitrah. Keputusan ini bukanlah suatu keputusan yang salah. Keputusan ini menjadi keliru manakala kita jalankan di atas kebodohan dan kedzaliman. 

Dalam konteks hari ini, keputusan untuk datang ke kajian demi belajar kemudian menyebabkan kita mengemban amanat berupa ilmu, ini bukanlah keputusan yang keliru. Keputusan ini justru sudah tepat. Jadi, janganlah menyesal. Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dalam riwayat Imam Ibnu Majah, telah bersabda bahwa menuntut ilmu agama adalah kewajiban bagi setiap muslim baik lelaki maupun perempuan?

Inilah konsep kehidupan. Kita membuat keputusan untuk belajar dan kemudian mengemban amanat. Jika kita menolak konsep ini, maka kita harus menolah di bidang-bidang lain dalam kehidupan kita. 

Sebuah paradoks yang menguar di antara kita manakala kita dihadapkan dengan keputusan yang bersifat duniawi. Kita cenderung lebih siap untuk mengemban amanat besar dunia dibandingkan dengan amanat ilmu. Bukankah setiap karier seseorang menanjak, maka amanat yang akan ditanggungnya juga akan semakin terjal?

Banyak orang bermain di wilayah ini. Seseorang berasumsi bahwa jika ia menuntut ilmu, maka ia menyadari akan amanat yang akan ia emban. Semakin besar amanat yang ia emban, maka semakin besar pertanggung jawaban yang harus dilakukannya. Maka, ia tidak akan mendapatkan rukhsakh (keringanan) di akhir Surat Al Baqarah:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.
(Q.S. Al Baqarah: 286)

Kesalahan yang kita lakukan dalam kondisi kita tidak mengetahuinya akan mendapat ampunan dari Allah. Sedangkan, kesalahan yang dilakukan dalam kondisi kita telah memiliki ilmunya, maka kita akan berhadapan dengan hukuman Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Kita kerap kali bermain di wilayah tersebut. Padahal, itu adalah talbis iblis (tipu daya iblis). Syaikh Utsaimin dalam Qaulul Mufid menjelaskan bahwa kita harus bedakan antara orang yang tidak tahu dan orang yang tidak mau tahu. 

Allah memaafkan orang yang tidak tahu (di mana dalam waktu yang sama ia punya semangat untuk terus belajar). Kita harus pahami bahwa orang yang belajar tidak mungkin menguasai ilmu agama dari A hingga Z dalam satu kali pertemuan. Maka pada praktiknya, seseorang niscaya akan jatuh pada kesalahan yang belum ia pelajari. Inilah kesalahan yang Allah maksudkan yang akan mendapat ampunan-Nya. Adapun orang yang tidak mau tahu dan istiqamah menjadi orang tidak mau tahu, tidak mau belajar, dan tidak mau mengkaji, ia dikategorikan sebagai orang yang berpaling.

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا 
قَالَ كَذٰلِكَ اَتَتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَاۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى
Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.”
(Q.S. Thaha: 124-126)

Dengan demikian, inilah isu (ilmu adalah amanat) yang seharusnya kita bangun dalam diri. Apabila isu ini berhasil kita bangun dan kita jaga, maka kita tidak akan tertipu dengan ilmu kita sendiri. Kita tidak akan sombong, ujub, dan mentazkiyah diri atas ilmu yang telah didapatkan. Kita tidak akan mengomentari orang lain dengan konotasi negatif karena kita telah sibuk dengan isu yang ada dalam diri.

Ilmu adalah amanat. Apa yang patut kita sombongkan? Kita hafal 30 juz Al Qur'an lalu kita sombongkan hafalan kita? Padahal, hafalan itu adalah amanat. Itu adalah sebuah kebodohan. Itu adalah kegagalan dalam berpikir.

Ketika kita menghafal Arba'in An Nawawiyah berarti kita mengemban amanat sejumlah 42 hadits. Apakah kita benar-benar bisa mengemban amanat tersebut? Ini bukanlah sesuatu yang harus kita banggakan secara duniawi. Ini justru adalah sebuah pertanyaan: bisakah kita mengamalkan dan menjaganya? Namun, faktanya, belajar justru membuat kita pongah. 

Ilmu itu adalah amanat. Ilmu bukanlah alat untuk berbangga, ujub, untuk pamer, atau untuk meningkatkan prestise kita. Setiap kita akan ditanya tentang ilmu kita. Tidak ada celah untuk menyombongkan diri. 

Salah seorang tabi'in, Said bin Musayyib, beliau senantiasa berdoa dalam majelis seperti ini. Beliau berdo'a, "Allahumma salim salim." Beliau berdo'a agar Allah menyelamatkannya. Abu Darda'  radhiallahu 'anhu mengatakan, "... yang aku khawatirkan bukan apa yang aku amalkan dalam keadaan aku tidak tahu, tapi yang paling aku khawatirkan adalah pertanyaan Allah tentang apa yang telah engkau kerjakan dari apa yang telah engkau ketahui."

Sudahkah kita memaksimalkan potensi kita? Pernahkah kita bertanya pada diri kita manakala Allah memberi kita potensi untuk menghafal 30 juz Al Qur'an, tapi kita tidak menghafal seluruhnya? Pernahkah kita bertanya mungkin saja kita tidak hanya mampu menghafal 30 juz Al Qur'an tetapi juga menghafal ilmu-ilmu yang lainnya? Namun, kita tidak juga mampu menghafalnya karena kelalaian kita.

Ilmu adalah amanat dan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Asy Syaikh Muhammad bin Muhammad Mukhtar Asy Syinqithi menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga hal besar yang harus kita miliki agar kita bisa menunaikan amanat.

Penjelasan Syaikh Asy Syinqithi tentang Tips untuk Menunaikan Amanat: 
(1) Hendaknya kita senantiasa berbicara dan bersikap dengan ilmu dan objektivitas 

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.
(Q.S. Al Isra': 36) 

Inilah mengapa para ulama kita tidak berani berbicara tanpa ilmu. Kita akan menemukan dimana mereka lebih sering mengatakan, "Saya tidak tahu, saya tidak tahu, saya tidak tahu..." 

Imam Asy Sya’bi pernah ditanya tentang sesuatu dan beliau menjawabnya dengan mengatakan, "Tidak tahu." Maka, murid-murid beliau berujar bahwa mereka malu terhadap tindakan gurunya. Imam Asy Sya'bi kemudian menjelaskan, "Wahai murid-muridku untuk apa kita malu ketika mengatakan kita tidak tahu? Bukankah malaikat yang lebih dekat dengan Allah tidak malu untuk mengatakan:
قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا
Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.
(Q.S. Al Baqarah: 32)

Abdurrahman bin Abi Laila, salah satu kibar tabi’in, mengisahkan, "Saya pernah bertemu dengan 120 kaum Anshar. Saya pernah saksikan sendiri ada 120 kaum Anshar ketika salah seorang dari mereka ditanya tentang sesuatu, maka yang pertama melimpahkan pertanyaan tersebut pada orang kedua, yang kedua melimpahkannya pada orang yang ketiga hingga yang terakhir dan yang terakhir melemparkan ke orang pertama. Sementara, 120 orang tersebut berharap agar saudaranya yang menjawab pertanyaan tersebut untuk menggugurkan fardhu kifayah." Mereka ini takut bicara. Ilmu itu bukan pamer dalil. Ilmu itu bukan untuk mencari panggung. Ilmu itu akan ditanya oleh Allah.

Hisan As Sadi pernah mengatakan bahwa apabila suatu permasalahan disampaikan kepada Umar, maka Umar tidak berani menjawabnya kecuali setelah bermusyawarah dengan para ahli Badar. Sedangkan, kita hari ini dengan begitu mudah melontarkan fatwa (berbicara tentang hukum Allah dalam sebuah masalah). Padahal, kita mungkin baru hijrah selama satu bulan lamanya atau baru belajar dengan satu dua guru.

Imam Sahnun, sebagaimana dinukilkan oleh Ibnu Abdil Barr, menyatakan, "Aku menguasai sebuah masalah. Di antara satu masalah tersebut terdapat delapan pendapat dari delapan imam. Bagaimana mungkin aku layak terburu-buru dalam menjawab sampai aku benar-benar harus memilih manakah pandangan yang paling kuat."

(2) Nasehat
Nasehat dalam hal ini maknanya adalah bahwa ilmu itu membawa kebaikan baik untuk diri kita maupun orang lain (lingkungan di sekitar kita). Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melarang sahabatnya untuk menyampaikan nasehat apabila hasilnya akan kontra-produktif.

(3) Niat karena Allah
Salah satu bentuk pengkhianatan di dunia ilmu itu adalah beramal dan berilmu bukan karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, tetapi karena kepentingan dunia. 

"Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya dilakukan karena mengharap wajah Allah, namun ia tidak mempelajarinya kecuali hendak menginginkan sesuatu dari kesenangan dunia, maka ia tidak akan mencium baunya surga."
(H.R. Abu Daud)

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, "Dahulu kami kesulitan untuk menghafal tetapi dimudahkan dalam mengamalkan. Lantas datang zaman setelah kami orang-orang yang mudah untuk menghafal namun sulit untuk mengamalkannya."


You May Also Like

0 comments