64. Sudah Bermanfaatkah Ilmu Anda?

by - 8:00:00 PM

Perkataan Imam Asy Syafi'i tentang Ilmu

لَيسَ العلمُ مَا حُفِظَ، العلمُ مَا نَفَعَ
"Ilmu itu bukanlah apa yang dihafal, namun ilmu itu adalah apa yang bermanfaat."
(Perkataan Imam Asy Syafi'i)

Ilmu itu adalah apa yang bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagai contoh, hakikat ilmu bukanlah bagaimana fasihnya kita mengucapkan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
لاَ تَغضب ولك الجنَّةُ
"Janganlah engkau marah, maka bagimu surga."
(H.R. Thabrani)

Tetapi, ilmu itu adalah ketika kita mampu memanfaatkan hadits ini saat berhadapan dengan orang lain. Apakah kita marah-marah dengan keluarga kita? Apakah kita marah-marah dengan bawahan kita yang melakukan kesalahan? Jika iya, maka ilmu ini tidak bermanfaat bagi diri kita.

Ilmu itu bukanlah sekadar menghafal ayat:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ
Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.
(Q.S. Al Ma'un: 4-5)

Walaupun kita menghafal ayat ini "di dalam" kepala. Tetapi, kita shalat Dzuhur mendekati waktu Ashar atau yang semakna dengannya, mak aini bukanlah ilmu. Ayat ini adalah ketika masuk waktu Dzuhur, maka kita berusaha untuk shalat di awal waktu Dzuhur.  Inilah yang dinamakan ilmu.

Ilmu tentang nama-nama Allah, As Saami' dan Al Bashir, bukanlah ketika kita mampu menghafalnya. Tetapi, ilmu itu adalah ketika kita mampu merasa diawasi selama 24 jam 7 hari. Inilah yang dinamakan ilmu.

Hal ini menandakan bahwa antara kotak menghafal ilmu dan ilmu yang bermanfaat adalah kotak yang berbeda. Tetapi, ini tidak bermakna kedua kotak tersebut bersifat kontradiktif. Ilmu itu bukan yang sekadar kita hafal, namun ilmu itu adalah apa yang dapat kita manfaatkan dalam diri kita.

Ilmu itu harusnya dapat kita manfaatkan, baik ketika kita berbicara maupun ketika kita diam. Ini sebagaimana perkataan ulama salaf (klasik):
تعلموا الصمت كما تعلمون الكلام
Mereka mempelajari diam (yang benar) sebagaimana mereka mempelajari berbicara (yang benar).

Kita selama ini cenderung berpikir bahwa dengan sebatas menghafal dan memahami, maka semua berakhir. Padahal, kotak menghafal dan memahami ilmu dengan kotak memanfaatkan ilmu itu berbeda. Ini sama halnya dengan perbandingan antara tua dan dewasa (matang). Tua itu adalah keniscayaan. Sementara, dewasa atau kematangan merupakan pilihan.

Bagaimana untuk dapat Memanfaatkan Ilmu dalam Kehidupan Sehari-hari?
Pertama, kita harus menjalani kehidupan. Janganlah kita lari dari kenyataan. Kita memang berusaha untuk menghindari masalah. Tetapi, jika sudah tidak ada jalan, artinya harus kita hadapi. 

Kedua, kita harus mempraktikkan teori yang telah didapatkan. Ingatlah, ilmu itu untuk diamalkan barulah ia bermanfaat. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Ilmu itu dipelajari agar kita bertakwa kepada Allah. Karena itulah ia menjadi utama. Jika tidak digunakan untuk bertakwa, maka ilmu agama tak ada bedanya dengan ilmu-ilmu yang lain.”

Ketiga, kita harus ber-mujahadah (berjuang dengan sungguh-sungguh). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.
(Q.S. Al Ankabut: 69)

Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa jihad dalam ayat ini bukanlah tentang perang karena ayat ini turun sebelum perintah berperang. Jihad di dalam ayat ini maknanya adalah bersungguh-sungguh. Maka, kita diperintahkan untuk bersungguh-sungguh/ berjuang selayaknya orang berperang barulah nanti Allah beri hidayah.

You May Also Like

0 comments