65. Tanda Ilmu yang Bermanfaat

by - 8:00:00 PM

Credit: Daiga Ellaby on Unsplash
Perkataan Imam Asy Syafi'i tentang Ilmu

لَيسَ العلمُ مَا حُفِظَ، العلمُ مَا نَفَعَ
"Ilmu itu bukanlah apa yang dihafal, namun ilmu itu adalah apa yang bermanfaat."
(Perkataan Imam Asy Syafi'i)

Ilmu yang bermanfaat sebagaimana dijelaskan oleh Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi'i adalah ilmu yang tidak sekadar dihafal, tetapi ilmu yang dapat bermanfaat bagi kita baik di dunia maupun di akhirat.

Imam Ibnu Rajab Al Hanbali, dalam kitab Fadhlu Ilmi Salaf 'ala Ilmi Khalaf, menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah sesuatu (jembatan) antara hamba dan Rabb-nya. Ilmu yang bermanfaat dapat dipahami pula sebagai sesuatu yang menuntun seorang hamba kepada Rabb-nya. Sehingga, seorang hamba mengenal, merasa nyaman, dan menimbulkan rasa malu kepada Rabb-nya karena rasa dekat dengan Rabb-nya serta membuatnya beribadah seakan-akan ia melihat Rabb-nya.

Itulah ilmu. Ilmu yang bermanfaat seharusnya mengarahkan kita pada Rabb kita. Ilmu yang bermanfaat bukanlah ilmu yang sebatas mengarahkan kita pada keuntungan dunia. Ini sebagaimana pernah disampaikan pula oleh Syaikh Utsaimin dalam kalimat yang lebih sederhana, "Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah."

Dengan demikian, ilmu yang bermanfaat bukanlah ilmu yang sebatas membuat kita dekat dengan mahluk. Ilmu itu bukanlah yang membuat kita dekat dengan ustadz, tetapi justru jauh dengan Rabb kitaIni dapat dibuktikan ketika kita memiliki masalah. Siapakah yang kita hubungi pertama kali? Allah atau ustadz kita (mahluk)? 

Oleh karenanya, Syaikh Utsaimin menasehatkan, "Seorang guru yang baik dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat adalah seorang sosok yang memperkenalkan murid-muridnya sehingga dekat dengan Rabb murid-muridnya. Ia bukanlah sosok yang sebatas mengajarkan murid-muridnya pada kitab-kitab atau literasi-literasi induk semata."

Nasehat Syaikh Utsaimin ini tidak berarti bahwa literasi-literasi tersebut tidak bermanfaat. Bukan demikian. Tetapi, apalah gunanya ketika kita menghafal kitab A, kitab B, dan seterusnya hanya untuk kita gunakan sebagai kebanggan saja?

Lantas, bagaimana tanda-tanda ilmu yang bermanfaat?
Tanda-tanda ilmu yang bermanfaat tentu tidak terlepas dari makna ilmu yang bermanfaat itu sendiri. Pemahaman terbalik dari ilmu yang bermanfaat: sebanyak apapun ilmu yang kita miliki, tetapi apabila ayat-ayat atau hadist-hadist tersebut tidak membuat kita lebih dekat kepada Allah, maka ilmu itu tidaklah bermanfaat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kita suatu do'a agar terhindar dari ilmu yang tidak bermanfaat:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat."
(H.R. Ibnu Hibban)

Ibnu Rajab dalam kitab Fadhlu Ilmi Salaf 'ala Ilmi Khalaf menjelaskan tentang tanda-tanda ilmu yang bermanfaat dan orang-orang yang memilikinya. Berikut penjelasan beliau:

Pertama, orang yang memiliki ilmu bermanfaat tidaklah melihat dirinya sebagai orang yang "tinggi" (angkuh). Mereka bukanlah orang yang merasa pemikirannya paling baik di antara orang lainnya. Mereka tidak pernah men-tazkiyah diri mereka. Mereka tidak pernah merasa diri mereka lebih istimewa dari orang lain. 

فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى
Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.
(Q.S. An Najm: 32)


Mereka tidak pernah mengklaim bahwa mereka hebat. Mereka tidak pernah mengklaim bahwa pendapat mereka harus didengar atau harus disimak. Maka, Umar bin Khattab menyampaikan, "Barangsiapa yang menyatakan bahwa dirinya ahli ilmu, maka dialah orang bodoh."

Inilah "cara bermain" orang-orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat. Mereka tidak suka dengan konsep merekomendasi diri sendiri. Mereka tidak suka pujian dan ketidak sukaan itu lahir dari hati mereka, bukan hanya di lisan.

Tanda bermanfaatnya ilmu seseorang akan menyebabkan dirinya merasa bahwa dirinya tidak memiliki nilai tawar. Ia merasa bahwa pandangannya tidak istimewa. Ia merasa bahwa madzhab-nya (pandangan yang dipilihnya dalam masalah ijtihadiyah) bisa jadi salah. 

Oleh karena itu, ada salah satu kalimat paling populer yang disandarkan pada Imam Asy Syafi'i. Beliau menyatakan, "Pendapat saya, saya yakini paling benar, tetapi bisa jadi keliru dan pendapat orang lain saya yakini keliru, tapi bisa jadi itu benar." Ucapan semisal ini telah dinyatakan oleh lebih dari satu ulama kita. Ucapan ini mengilustrasikan bahwa mereka masuk melalui "pintu" tidak berani untuk mengklaim diri mereka paling hebat.

Sufyan Ats Tsauri, sebagaimana dibawakan oleh Imam Ibnu Abi Hatim dalam Jarh wa At Ta'dil, menyampaikan, "Apabila dalam sebuah masalah terdapat fatwa (keterangan dan penjelasan) dari ahli ilmu yang lain,  maka jadikanlah itu sebagai ghanimah. Dan janganlah sekali-kali Anda merasa bersaing dengan mereka (dalam konteks negatif). Dan jangan sampai Anda termasuk ke dalam orang-orang yang senang apabila ucapannya diamalkan (disebarkan/ didengarkan) oleh manusia. Dan janganlah sekali-kali menyombongkan diri di hadapan siapapun juga."

Imam Asy Syafi'i, imam yang pandangannya diikuti oleh ratusan juta orang, pernah pula mengatakan, "Saya berharap seseorang mengamalkan ucapanku, tetapi tidak dinasabkan kepadaku." 

Penuturan-penuturan ini mengajarkan pada kita sekali lagi bagaimana orang-orang yang bermanfaat ilmunya sadar bahwa pandangannya pasti memiliki kekurangan. Ia sadar bahwa kesimpulannya mustahil sempurna. Maka, ia tidak tertarik untuk mem-blow up itu. Ia hanya bertugas untuk menyampaikan, menjaga ilmu, belajar, dan mengamalkan. Apakah pendapatnya diterima atau tidak,  apakah ia dibenci atau tidak, itu bukan urusannya (selama cara yang ia gunakan dalam menyampaikan pendapatnya telah hikmah).

Hasan Al Basri menyatakan, "Orang-orang yang ilmunya bermanfaat tidaklah hasad dengan orang yang ada di atasnya (lebih pandai atau semisalnya). Dan dia tidak akan merendahkan orang yang ada di bawahnya."

Oleh karena itu, Ibnu Rajab mengutarakan bahwa ahli ilmu yang semakin tinggi ilmunya adalah orang yang semakin tawadhu. Ia persembahkan ilmunya hanya untuk Allah dan rasa takutnya semakin besar kepada Allah. Ia juga merasa semakin tidak berharga (hina) di hadapan Allah. Ini sebagaimana ucapan sebagian ulama, "Seorang ahli ilmu hendaknya meletakkan tanah di atas kepalanya sebagai simbol ketawadhuan kepada Rabbul 'alamin." Artinya, kita hendaknya bertindak di atas kesadaran bahwa kita yang berasal dari tanah ini adalah pendosa.

Kedua, ilmu itu mengarahkan pemiliknya untuk melarikan diri dari dunia dan yang paling berbahaya dari dunia adalah kekuasaan, popularitas serta pujian. Berusaha menghindar dari itu semua adalah tanda ilmu yang bermanfaat. 

Tetapi, jika dunia itu diraih tanpa ada ambisi dan meyakini bahwa ini adalah ujian baginya. Ketika ia mendapat kenikmatan dunia ia merasa takut terhadap hisab. Dia takut ini adalah makar dan istidraj, sebagaimana Imam Ahmad takut jika dirinya terkenal, maka ini tidaklah masalah.

Poin kedua ini pada dasarnya tidaklah mudah untuk diamalkan sebab manusia senang untuk dipuji. Ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Mukhtasar Minhajul Qashidin bahwa tabiat manusia itu suka dipuji. Inilah yang harus kita lawan dan inilah yang diperjuangkan oleh para ulama kita.

Dalam hal ini, kita bisa belajar dari Imam An Nawawi yang digelari Muhidin (Penghidup Agama).  Gelar ini beliau dapatkan dari sebagian ulama. Ketika beliau mendengarnya, maka Imam An Nawawi menanggapi, “Saya tidak pernah menghalalkan orang yang memberi gelar Muhidin kepada saya.” Beliau menyatakan demikian sebab beliau sadar betapa sulitnya menjaga keikhlasan di atas gelar tersebut. Semakin tinggi gelar seseorang, semakin sulit untuk menjaga hati. 

Ketiga, pemilik ilmu yang bermanfaat tidak pernah mengklaim dirinya sebagai ahli ilmu. Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, "Barangsiapa yang menyatakan bahwa dirinya ahli ilmu, maka dialah orang bodoh."

Kita hendaknya tidak mengklaim bahwa kita telah lama mengaji atau lebih senior. Oleh karenanya, orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat tidak pernah merendahkan siapapun. Walaupun, orang yang ada di hadapan kita belum mengaji. Pada saat kita merendahkannya, maka di situlah ilmu kita tidak bermanfaat. Dia mungkin lebih rendah dari kita hari ini, tapi bagaiamana dengan satu atau dua bulan ke depan?

Coba kita banding apple to apple antara Umar dan Bilal. Siapa yang lebih dahulu masuk Islam? Umar atau Bilal? Tapi, siapakah yang posisinya lebih tinggi (tanpa mendiskreditkan Bilal karena Bilal juga termasuk sahabat yang mulia, beliau dijamin masuk surga)?

Ibnu Rajab kemudian menasehatkan bahwa kita janganlah sekali-kali mencap orang lain bodoh kecuali orang yang menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sunnah dalam hal ini bukan dalam perspektif fikih, tetapi dalam sudut pandang ushul (pondasi/ prinsip-prinsip beragama yang apabila seseorang menyelisihinya ia bisa tersesat). Sehingga, apabila kita berhadapan dengan orang semisal ini, kita diperbolehkan untuk menasehatinya. Tetapi, ketika kita membicarakannya, kita harus bicara semata-mata marah karena Allah bukan karena motif personal.  Kita hendaknya tidak memiliki motif untuk mengangkat namanya di tengah manusia (tidak berniat untuk berdiri di atas kesalahan orang lain).


 Referensi : 

You May Also Like

0 comments