66. Sebuah Ketenangan

by - 8:00:00 PM

Credit: Revolt on Unsplash
Perkataan Imam Asy Syafi'i
.لَيسَ العلمُ مَا حُفِظَ، العلمُ مَا نَفَعَ. وَمِنَ ذَلِكَ دَوامُ السَّكِينةِ، وَالوقارِ والخُشوع والتَّواضُعِ للهِ والخُضوع
"Ilmu itu bukanlah apa yang dihafal, namun ilmu itu adalah apa yang bermanfaat. Dan di antara yang demikian adalah senantiasa bersikap tenang, berwibawa, khusyu' (wara'), tawadhu' (karena Allah) dan merendahkan diri (di hadapan Allah)."

Di antara Nasehat yang Ditulisan Imam Malik kepada Ar Rasyid
.((إِذَا عَلِمتَ عِلماً؛ فَليُرَ عَليكَ اَثَرُهُ، وَسَكِنتُهُ وَسَمتُهُ وَوَقَارُهُ وَحِلمُهُ لِقَولِهِ صَلىَ الله عَليهِ وَ سَلم: ((اْلعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاء
Jika engkau mengetahui ilmu, maka hendaknya ilmu itu terlihat pada diri Anda, pada ketenangannya, perangainya, kewibawaannya, dan kesabarannya, dikarenakan sabdanya shallallahu 'alaihi wa sallam: "Ulama adalah pewaris para Nabi."

Perkataan Umar radhiyallahu 'anhu
.تَعَلَّمُوا العِلمَ، وَتَعَلَّمُوا لَهُ السَّكِينةَ وَالوَقَارَ
"Belajarlah kalian tentang ilmu (agama) dan pelajarilah darinya sikap tenang dan wibawa."

Perkataan-perkataan di atas mengilustrasikan bahwa karakter dalam dunia ilmu adalah ketenangan. Para penuntut ilmu bukanlah orang yang mudah panik ataupun gelisah. Ini tidak berarti bahwa para penuntut ilmu tidak mampu berekspresi, tapi ketika mereka diterpa dengan ujian, mereka tenang dalam menghadapinya. Ini sebagaimana nasehat Imam Malik bahwa efek/ pengaruh dari ilmu itu harus terlihat pada diri kita dan di antara pengaruh yang harus menonjol ialah ketenangan

Majelis Ilmu dan Ketenangan
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” 
(H.R. Muslim)

Berdasarkan hadits di atas maka orang-orang yang mendengarkan ayat-ayat Allah pasti merasakan ketenangan. Maka, jika kita sedang kajian, tapi kita tidak tenang (berisik), maka sebenarnya kita sendiri yang membuka aib kita di hadapan Allah bahwa ilmu kita tidak memiliki pengaruh. Ketika di rumah Allah (masjid) saja kita tidak bisa tenang lalu bagaimana kita ketika menghadapi dunia luar yang jauh dari kenyamanan?

Orang yang mengemban ilmu, dia harus memiliki ketenangan. Itu yang menandakan pengaruh ilmu ada pada dirinya. Syaikh Shalih Al Utsaimin pernah mengatakan, "Ilmu itu bukan sekadar teori dan konten, tapi ilmu itu adalah hakikat (realita) yang syar’i." Di antara realita sebagaimana diucapkan oleh Syaikh Shalih Al Utsaimin tersebut ialah ketenangan kita dalam kehidupan sehari-hari.

Lantas, mengapa para penuntut ilmu harus memiliki ketenangan? Jawabannya karena merekalah orang-orang yang berada di shaf terdepan dalam keimanan. Bukankah Allah turunkan ketenangan hanya kepada orang-orang yang beriman?

ثُمَّ اَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ
Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman.
(Q.S. At Taubah: 26)

Hanya orang-orang yang memiliki ilmu tentang iman yang mampu beriman dan hanya orang-orang berimanlah yang diturunkan kepada mereka ketenangan. Maka, bukan hal yang mengherankan jika para Nabi dan Rasul adalah orang-orang yang paling tenang.

Ingatlah kembali kisah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar yang dikejar oleh orang-orang kafir hingga ke bukit Thur. Abu Bakar kala itu sangat khawatir apabila orang-orang kafir tersebut akan membunuh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tapi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menasehatkan pada Abu Bakar tentang ketenangan (dekatnya pertolongan Allah). Kisah ini termaktub dalam Surah At Taubah ayat 40:

...اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا
Ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad)...

Ingat pula bagaimana kisah Nabi Musa di tengah kegentingan (kejaran Fir'aun dan bala tentaranya). Kegentingan yang membuat sebagian sahabat Nabi Musa panik. Tapi, apa yang Nabi Musa katakan?

قَالَ كَلَّاۗ اِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
Dia (Musa) menjawab, “Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
(Q.S. Asy Syu'ara': 62) 

Meraih Ketenangan
Kenapa mereka mampu meraih ketenangan yang sedemikian rupa? Jawabannya karena mereka adalah orang-orang yang paling bertauhid. Itulah syarat mutlak untuk meraih ketenangan. Allah tidak akan menurunkan ketenangan pada kita sampai kita buktikan terlebih dahulu keimanan kita di dalam hati.

...فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ
Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu Dia memberikan ketenangan...
(Q.S. Al Fath: 18) 

Dalam tafsir Ibnu Katsir, maksud dari "yang ada di dalam hati" adalah kejujuran dan komitmen untuk senantiasa menunaikan hak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Setelah itu, barulah Allah beri ketenangan. Ini berlaku secara umum (bukan kekhususan untuk para Nabi dan Rasul).

Maka, kita ketahui bersama bagaimana orang-orang yang ketika diprovokasi oleh sebagian manusia bahwa mereka telah dikepung, tetapi provokasi itu justru menambah keimanan mereka.

اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”
(Q.S. Ali Imran: 173)

Apabila kita kulik lebih dalam ayat ini, misalnya di dalam Tafsir Imam Ibnu Katsir, maka kita diarahkan pada kisah Nabi Ibrahim yang akan dilemparkan ke dalam api. Pada detik-detik terakhir beliau hendak di lemparkan, datanglah Malaikat Jibril menawarkan bantuan. Tetapi, beliau justru menolak, "Adapun engkau, saya tidak memiliki urusan dengan engkau. Cukuplah Allah sebagai penolong dan sebaik-baik pemberi pertolongan."

Ada pula kisah tentang Imam Ibnu Abdil Hadi yang terlibat dalam diskusi sengit dengan seseorang. Beliau lantas diludahi oleh orang tersebut ya mana orang itu adalah penuntut ilmu yang lebih senior dari dirinya. Tetapi, beliau tetap menanggapinya dengan tenang. Beliau menyeka ludah yang membasahi wajahnya lalu berkata kepada orang tersebut, "Ludah ini suci dengan ijma' para ulama. Apakah Anda memiliki argumentasi lain?"

Selanjutnya, kita hendaknya tidak lepas dari dzikrullah agar dapat meraih ketenangan. Ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Surah Ar Ra'd ayat 28:

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

Ketenangan itu bukan bakat terpendam di dalam hati kita, tapi diturunkan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka, kita seharusnya selalu meminta kepada Allah dan berdzikir kepada-Nya.

Highlight :
Tiga Tips Memperoleh Ketenangan: Iman/ Tauhid, Jujur, dan Dzikrullah


 Referensi : 

You May Also Like

0 comments