67. Wibawa dan Keanggunan

by - 8:00:00 PM

Credit: MF Evelyn on Unsplash
Di antara Nasehat yang Ditulisan Imam Malik kepada Ar Rasyid
.((إِذَا عَلِمتَ عِلماً؛ فَليُرَ عَليكَ اَثَرُهُ، وَسَكِنتُهُ وَسَمتُهُ وَوَقَارُهُ وَحِلمُهُ لِقَولِهِ صَلىَ الله عَليهِ وَ سَلم: ((اْلعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاء
Jika engkau mengetahui ilmu, maka hendaknya ilmu itu terlihat pada diri Anda, pada ketenangannya, perangainya, kewibawaannya, dan kesabarannya, dikarenakan sabdanya shallallahu 'alaihi wa sallam: "Ulama adalah pewaris para Nabi."

Perkataan Umar radhiyallahu 'anhu
.تَعَلَّمُوا العِلمَ، وَتَعَلَّمُوا لَهُ السَّكِينةَ وَالوَقَارَ
"Belajarlah kalian tentang ilmu (agama) dan pelajarilah darinya sikap tenang dan wibawa."

Karakter bagi orang-orang yang mengemban amanat ilmu ialah sakinah (ketenangan) dan waqaar (wibawa/ keanggunan). Ibnu Manzur di dalam kitab Lisan al Arab menjelaskan bahwa al waqaar adalah ketenangan (سكن), kedewasaan (حِلم), dan ketentraman/ ketenangan (رزانة). 

Ulama-ulama yang lainnya menjelaskan, misalnya pada kitab Tahdzib al Akhlaq wa Tathhir al 'A'raaq, bahwa al waqaar merupakan ketenangan dan kekokohan jiwa ketika beraktivitas. Kita dapat pula mengartikannya sebagai kewibawaan bagi laki-laki atau keanggunan bagi perempuan. 

Imam An Nawawi menjelaskan perbedaan antara sakinah dan waqaar. Beliau menuturkan bahwa banyak ulama tidak begitu membedakan makna di antara sakinah dan waqaar. Tetapi, menurut Imam An Nawawi kedua kata tersebut memiliki makna yang sedikit berbeda. Beliau menjelaskan dalam Syarah Muslim bahwa sakinah adalah kehati-hatian dalam bergerak, melangkah, dan beraktivitas serta menjauhi hal-hal yang tidak berguna. Adapun waqaar, kata ini merujuk pada gerak-gerik (sikap) yang tepat, misalnya ketika seseorang berbicara maka ia menggunakan intonasi yang proporsional.

Imam An Nawawi pada kitab Riyadhus Shalihin membawakan karakter Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Bab Al Waqaar wa Sakinah. Beliau menukilkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari yang menerangkan bahwa Nabi senantiasa tersenyum. Walaupun demikian, pada saat yang lain beliau pun juga tertawa. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah banyak tertawa sebab berlebihan dalam tertawa akan menyebabkan hilangnya waqaar (kewibawaan/ keanggunan). Ini sebagaimana pula terdapat dalam penjelasan Imam Ibnu Hajar.

Dengan demikian, kita sebagai penuntut ilmu seharusnya memiliki perubahan dalam diri kita. Kita hendaknya lebih tenang, bicara harus lebih tertata atau ketika berbicara intonasi yang kita gunakan tidak terlalu keras. Ini mengilustrasikan bahwa semua ada timing-nya dan ada porsinya. Sebagaimana para sahabat ketika ditanya apakah mereka pernah tertawa atau tidak. Mereka tentu pernah tertawa, tetapi bukan artinya 7 hari dan 24 jam mereka tertawa.

Wibawa/ Anggun Ketika Diprovokasi
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati (tenang dan wibawa) dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam” ... 
(Q.S. Al Furqan: 63)

Ayat di atas mengajarkan bagaimana para hamba-hamba Allah itu berjalan dengan tenang dan wibawa. Bahkan, ketika mereka diprovokasi oleh orang-orang yang bersikap bodoh, mereka tetap tenang dengan memberikan salam (tidak terprovokasi). 

Wibawa/ Anggun dalam Berjalan
وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ
Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
(Q.S. Luqman: 19)

Luqman dalam ayat di atas menyampaikan nasehat kepada anaknya agar berjalan dengan sederhana. Sederhana dalam berjalan artinya tidak tergesa-gesa tetapi juga tidak lambat. Imam Atho’ bin Abi Rabah menyampaikan bahwa maksud Luqman dalam ayat ini adalah berjalan dengan penuh wibawa (pada kecepatan yang tidak terburu-buru atau tidak terlalu lambat).

Ayat di atas sekali lagi menunjukkan kepada kita betapa Al Qur'an itu sungguh petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa dan tidak ada keraguan sama sekali padanya. Bayangkan, Allah di dalam Al Qur'an telah mengajarkan kita berbagai macam kebaikan sampai cara berjalan dan kecepatannya.

Kitab mana lagi yang dapat menyaingi Al Qur'an ini?! Kalaulah kita benar-benar mendalami Al Qur’an, maka kita tidak akan memerlukan sekolah kepribadian. Tapi, kita tidak belajar dan mengkaji. Bahkan, kita terlanjur terpukau dengan pihak lain dan melupakan khasanah yang Allah ajarkan dalam Al Qur'an.

Imam Al Ghazali pernah menyampaikan pula dalam kitab Bidayatul Hidayah tentang adab-adab seorang ahli ilmu, di antaranya: bertahan (احتمل) dalam cobaan atau ketika dizalimi; bersikap matang dan dewasa; duduknya berwibawa (kepala menunduk ke arah dada); dan tidak menyombong diri kecuali pada orang-orang zalim. Sombong dalam hal ini bukanlah sombong secara terminologi, tetapi sebagai bentuk untuk menunjukan rasa tidak gentar pada orang-orang zalim.

Inilah yang seharusnya ada pada karakter pengemban amanat ilmu. Mereka tidak bermain di level: "Yah inilah karakter saya..." Pengemban ilmu itulah yang menyesuaikan dengan standar ideal. Mereka bukanlah orang-orang yang menyebabkan orang lain harus menyesuaikan dengan standar yang ada pada dirinya. 

Kewibawaan/ Keanggunan sebagai Pakaian Takwa
وَلِبَاسُ التَّقْوٰى
...pakaian takwa...
(Q.S. Al A’raf: 26.)

Imam Ibnu Muflih (salah satu imam bermazhab Hanabilah) menjelaskan,  "Pakaian ketakwaan adalah rasa malu dan kewibawaan yang berasal dari Allah. Barangsiapa yang Allah anugerahi kewibawaan, maka Allah telah memakaikan pakaian dan perhiasaan kebaikan. Dan barangsiapa yang berbicara dengan hikmah, maka tidaklah mata-mata manusia akan memandangnya kecuali dengan penuh kewibawaan."

Sementara, blind spot kita selama ini ialah menganggap bahwa untuk meraih kewibawaan, maka kita harus memiliki atau mengenakan barang-barang tertentu. Sebagai contoh, laki-laki biasanya akan merasa berwibawa dengan jam mahal dan bermereknya. Sedangkan, para perempuan akan merasa lebih berkelas ketika mereka mampu menenteng tas berbalut kulit buaya albino

Padahal, kunci kewibawaan/ keanggunan bukanlah pada aksesoris. Kunci kewibawaan/ keanggunan adalah manakala kita mampu mengisi setiap ucapan dan sikap kita dengan hikmah. Maka, orang yang bermain di level wibawa yang sejati tidak membutuhkan dukungan dari barang apapun karena tanpa barang tersebut dia sudah berkelas. Orang yang memerlukan sokongan dari barang/ atribut / perhiasaan tertentu justru ia baru saja mengakui bahwa dia penuh kekurangan.

Adapun ketika ia mengenakan pakaian yang baik/ bagus, maka sesungguhnya ia semata-mata ingin mengamalkan hadits: Allah itu Dzat Yang Maha Indah dan menyukai keindahan. Oleh karena itu, para salafus shalih kita dahulu senantiasa mengenakan pakaian terbaik untuk tampil prima di hadapan Allah. Semenatra kita? Kita melakukannya demi tampil di depan manusia.


 Referensi : 

You May Also Like

0 comments