68. Mengukir Harkat dan Martabat

by - 8:00:00 PM

Credit: Poppie Pack on Unsplash
Muqaddimah
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِۙ
Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen.
(Q.S. Qaf: 9)

Hujan mengingatkan kita bahwa pertama, keberkahan itu turun dan yang kedua, perjuangan untuk hadir di majelis ini menjadi lebih berat. Perjalanan kita menuju majelis ini mungkin menjadi semakin macet, jalanan tergenang air, kita harus berteduh, dan sebagainya.

Ketika upaya untuk datang ke kajian menjadi lebih berat dari sebelumnya, maka orang-orang beriman punya caranya sendiri untuk melihat ujian. Mereka senantiasa melihat dengan kacamata sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, misalnya sebagaimana hadits berikut:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya
(H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Adapun jika kita salah dalam menggunakan “kacamata”, maka hal tersebut akan membuat kita salah dalam memberikan respon pada ujian. Ketika kita salah merespon, maka akan membuat kondisi yang tidak kondusif (mencela/ keluhan/ ngedumel).

Padahal, Allah telah berfirman bahwa air hujan adalah air yang penuh dengan keberkahan. Maka, apa yang terjadi ketika kita mengeluh? Yang terjadi fatal. Padahal, keberkahan itu seharusnya disyukuri. Ketika kita bersyukur, maka Allah akan tambah nikmat tersebut. Tapi, jika nikmat itu dikufuri, maka akan Allah datangkan adzab bagi kita.

Ingat pula nasehat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
الخير عادة
"...kebaikan itu rutinitas..."
(H.R. Ibnu Majah)


Mengukir Harkat dan Martabat

Pada kajian pekan lalu kita telah membahas tentang al waqaar. Karakter ini bukanlah sandiwara dan tidaklah lahir begitu saja. Tapi, karakter ini lahir dengan upaya. Lantas, bagaimana kita dapat meraih al waqaar?

(1) Mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Ketika kita hendak meraih kewibawaan/ keanggunan, maka syarat pertama yang harus kita lakukan adalah mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Imam Ibnu Qayyim di dalam Madarijus Salikin membawakan dalil berikut dalam menjelaskan antara pengagungan kepada Allah dan kewibawaan:

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ لِلّٰهِ وَقَارًاۚ
Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah (tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan)?
(Q.S. Nuh: 13)

Dengan demikian, orang-orang yang mengagungkan Allah akan Allah angkat derajat (kewibawaan/ keanggunan) mereka. Oleh karenanya, ketika kita bicara tentang adab sebelum ilmu, hal tersebut tidaklah kontradiksi dengan tauhid

Maka, ingatlah pula nasehat para ulama, "Janganlah melihat pada kemaksiatan yang Anda lakukan, tetapi lihatlah Siapa yang Anda maksiati." Maksiat sekecil apapun tetapi kita lakukan di depan Pencipta kita, maka maksiat tersebut menjadi besar. Nasehat ini adalah salah satu bentuk pengagungan para ulama kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Selain itu, para ulama senantiasa mengaitkan antara al waqaar dengan ketenangan. Para ulama menjelaskan bahwa salah satu sebab untuk memperoleh al waqaar adalah dengan as sakinah (ketenangan). Ibnu Qayyim dalam kitab Madarijus Salikin menuturkan, "Apabila ketenangan itu turun ke dalam hati, maka hati itu akan menjadi tenang. Apabila hati tenang, maka anggota tubuh akan tenang dan khusyu'  sehingga anggota tubuh pun mencapai kewibawaan."

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ
Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin ...
(Q.S. Al Fath: 4)

Maka, as sakinah yang menjadi bahan bakar utama dari kewibawaan/ keanggunan merupakan pemberian dari Allah yang Allah turunkan untuk hati orang-orang beriman. Ayat ini menarik. Allah berfirman, "diturunkan..." Ke mana? "ke hati" Hati siapa? "ke hati orang-orang beriman." Beriman kepada siapa? "beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala" Inilah pola yang seharusnya kita bangun: membangun hubungan yang baik kepada Allah karena Allah yang menurunkan ketenangan dan kewibawaan.

Ingatlah kembali kisah Rasulullah dan Abu Bakar saat diburu oleh orang-orang kafir hingga ke bukit Thur. Abu Bakar khawatir orang-orang kafir akan menyakiti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tetapi, Allah turunkan ketenangan kepada Rasulullah sebagaimana termaktub dalam surah At Taubah ayat ke 40:


فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا
Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu ...

(2) Berusaha menjalankan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan semaksimal mungkin. Imam Ibnu Muflih memberikan penjelasan terhadap surah Al A'raf ayat ke 26:

وَلِبَاسُ التَّقْوٰى
... pakaian takwa...

Beliau menyatakan,  "Pakaian ketakwaan adalah rasa malu dan kewibawaan yang berasal dari Allah. Barangsiapa yang Allah anugerahi kewibawaan, maka Allah telah memakaikan pakaian dan perhiasaan kebaikan. Dan barangsiapa yang berbicara dengan hikmah (sunnah), maka tidaklah mata-mata manusia akan memandangnya kecuali dengan penuh kewibawaan."

(3) Menuntut ilmu. Ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” 
(H.R. Muslim)

Hasan Al Basri mengatakan, "TIdaklah seseorang menuntut ilmu (agama) kecuali dalam waktu yang singkat akan nampak perubahan pada kekhusyu'annya, kewibawaannya, lisannya, pandangannya, dan kebaikannya." Inilah atmosfer penuntut ilmu di era Hasan Al Basri. Poin ini berkaitan dengan poin sebelumnya, bagaimana kita mengetahui sunnah Rasulullah jika kita tidak belajar? Maka, belajar itu menjadi kewajiban.

(4) Bergaul dengan orang-orang yang berwibawa (karena Allah). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Kesombongan dan keangkuhan terdapat pada orang-orang yang meninggikan suara di kalangan pengembala unta dan ketenangan terdapat pada pengembala kambing.” 
(H.R. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Mulla Qory menjelaskan hadits tersebut bahwa berinteraksi dengan hewan dapat mempengaruhi jiwa dan karakter seseorang. Interaksi kita dengan hewan tertentu dapat membentuk akhlak dan sikap kita sesuai dengan tabiat dan kondisi dari hewan tersebut. Pada poinnya, jika kita berinteraksi dengan hewan saja dapat mempengaruhi karakter kita, bagaimana pula jika kita berinteraksi dengan manusia? Maka, berhati-hatilah dalam bergaul.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.
(Q.S. At Taubah: 119)

(5) Jauhi amarah. Ibnu Thahir dalam kitab Majanil Adab menyatakan, "Kendalikan diri Anda dari amarah dan kedepankanlah wibawa serta kedewasaan." Maka, amarah merupakan sifat yang mampu menghancurkan kewibawaan. Walaupun demikian, larangan untuk marah tidaklah mutlak. Marah diperbolehkan ketika dilakukan secara objektif (marah karena Allah) bukan subjektif (marah yang lahir dari hawa nafsu).

(6) Proporsional dalam bercanda. Umar bin Khattab menuturkan, "Barangsiapa yang sering bercanda, maka kewibawanya akan turun dan menjadi bahan ejekan."

(7) Banyak diam dan sedikit bicara (menjaga dosis bicara). Para ulama mengatakan, “Diam itu perhiasannya kedewasaan dan ilmu. Diam akan membawa pada keselamatan dan mengantarkanmu untuk mendapatkan karamah. Dan diam tidak membuatmu tidak banyak minta maaf serta akan menyelimutimu dengan pakaian kewibawaan.”

(8) Kejujuran. Syaikh Abu Bakar Zaid mengatakan, "Jujur dan benarnya ucapan itu cerminan dari al waqaar (kewibawaan/ keanggunan)." Perkataan ini menunjukan bahwa kewibawaan yang dibangun di dunia ilmu itu bukan sandiwara. Kewibawaan bukanlah alat untuk menutupi kerapuhan yang ada pada diri kita.


You May Also Like

0 comments