69. Kerendahan Hati

by - 8:30:00 PM


Credit: Cherry Laithang on Unsplash
 Muqaddimah 
Pertama, kita patut bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan kita pada kesempatan ini. Pertemuan yang mungkin bagi sebagian pihak merupakan pertemuan biasa (rutinitas).  Tetapi, orang-orang yang beriman sadar bahwa ia tidak akan mungkin mampu melangkah dan bertahan dari pekan ke pekan kecuali melalui kekuatan juga taufik dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Para ulama mengatakan,  "Orang yang menyerahkan seluruh bagian dari hidupnya, maka ia hanya akan mendapatkan sebagian dari ilmu." Sebagai contoh, Ibnu Qayyim yang mengalami kebutaan di masa tuanya karena memaksakan membaca di saat penerangan tidak sebaik seperti hari ini. Karya-karya beliau seperti Miftah Daris Sa'adah, Madarijus Salikin, Zadul Ma'ad, dan Adda' wa Ad Dawaa' adalah beberapa karya di antara banyak karya beliau yang menyebabkan beliau mempertaruhkan mata beliau. 

Menuntut ilmu adalah tentang kejujuran. Ini tentang proses yang menuntut kita untuk terus berjuang. Perjuangan yang tidak membuat kita mundur hanya karena basah, macet, ribet, atau berkeringat. Karena Allah tidak akan memberikan kita hidayah sampai kita bermujahadah (bersungguh-sungguh sebagaimana orang yang berperang). 

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.
(Q.S. Al Ankabut: 69)


 Nasehat Para Salaf tentang Ketawadhuan 

حقٌّ علَى العَالِمِ أَن يَتواضَعَ للهِ فِي سِرِّهِ وَعَلا نِيتِهِ، وَيحترسَ مِن نَفسِهِ وَيقِفَ عَمَّا أَشكَلَ عَلَيهِ
"Seseorang yang berilmu wajib bersikap tawadhu karena Allah dalam keadaan sendirian atau di tengah-tengah manusia, senantiasa mawas diri, dan tawaqquf (tidak ambil sikap) dalam masalah yang sulit baginya."

Tawadhu secara bahasa atau etimologi ialah kerendahan atau kehinaan. Sedangkan, secara istilah, kata ini banyak dijelaskan oleh para ulama baik ulama klasik maupun ulama kontemporer. Tawadhu secara istilah pada substansinya harus memiliki dua unsur, yakni:
  1. tawadhu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya serta
  2. tawadhu dengan sesama manusia. 
Adapun tawadhu’ kepada Allah dijelaskan oleh Imam Fudhail bin Iyadh. Beliau menyatakan, "Tawadhu' adalah tunduk dan taat pada kebenaran (al haq) serta menerima kebenaran dari siapapun yang menyampaikannya." Penjelasan ini dapat ditelaah pada kitab Madarijus Salikin karya Imam Ibnu Qayyim.

Sementara, tawadhu dengan sesama menurut Imam Hasan Al Basri adalah "Saat engkau keluar dari rumahmu dan tidaklah engkau berjumpa dengan seorang Muslim kecuali engkau melihat mereka memiliki keutamaan di atasmu." Perkataan ini dapat ditelaah dalam kitab karya Imam Ibnu Abid Dunya.

 Dalil dan Metode Pendalilan tentang Ketawadhuan 

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji dzarrah.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.“ 
(HR. Muslim)

Metode pendalilan hadits di atas dapat menggunakan metode pemahaman terbalik. Artinya, jika sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia, maka tawadhu adalah menerima kebenaran serta menghargai dan memuliakan manusia.

Jadi, ketika imam Ibnu Jama’ah menjelaskan kepada kita bahwa seorang ulama dan penuntut ilmu (seorang yang mengemban amanat ilmu) harus memiliki sifat tawadhu, artinya ia harus memiliki mental selalu menerima kebenaran dan menghargai manusia. Dunia ilmu itu mencetak orang-orang yang menghargai manusia.

Pada poinnya, jika kita tidak tawadhu, maka Allah tidak akan memberikan kita ilmu yang bermanfaat. Allah mungkin memberi kita konten ilmu, tetapi tidak dengan keberkahannya. Ini sebagaimana firman Allah:

سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ وَاِنْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَاۚ وَاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًاۚ وَاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًاۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَكَانُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ
Aku akan palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya.
(Q.S. Al A'raf: 126)

Di dalam buku tafsir, terdapat dua makna dari kata "Allah palingkan" sebagaimana yang tertera pada ayat di atas. Pertama, Allah palingkan pemahamannya. Kedua, Allah palingkan keberkahannya.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang sudah menuntut ilmu bertahun-tahun tetapi selama itu pula ia hanya mengandalkan logika dan perasaannya ketika belajar, maka ia akan sulit untuk menerima kebenaran.

Ada pula orang-orang yang cerdas tapi Allah palingkan keberkahan atas diri mereka, misalnya orang-orang kafir pada Perang Uhud. Bukankan orang-orang kafir pada Perang Uhud tak terbesit untuk memasuki Kota Madinah? Padahal, Rasulullah dan para sahabat telah tersudut.

Sebagian ulama mengatakan karena Allah tidak membuat mereka berpikir untuk melakukannya. Padahal, di dalam pasukan orang-orang kafir terdapat Abu Sufyan dan pakar militer Khalid bin Walid.

Lihatlah, bagaimana jika Allah berkehendak untuk memalingkan orang-orang cerdas. Urusan hidup akhirnya bagaikan benang kusut. Padahal, solusi yang diperlukan mungkin sederhana. Maka, jika ingin ilmu yang bermanfaat, tawadhu-lah.


 Referensi : 

You May Also Like

0 comments