70. Menuju Ketawadhuan #1

by - 8:00:00 PM

Di antara para jama'ah ada seorang jama'ah yang rela berjalan kaki selama 1,5 jam dari Tanjung Priok menuju Blok M. Ada pula jama'ah yang berjalan dari daerah Kuningan. Mereka datang ke kajian pada pekan sebelumnya dengan berteman basah.

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
 ... لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق
 “Selalu akan ada sebagian dari umatku yang menampakan kebenaran ...”
(H.R. Muslim)

Mereka bukan tidak mampu untuk naik kendaraan umum. Mereka bukan pula tidak memiliki kendaraan. Mereka adalah di antara orang-orang yang berusaha meningkatkan value ilmu di dalam diri mereka. Jika kita mendapatkan ilmu ini dengan cara yang mudah, maka ilmu itu akan menjadi rendah di hati.

Itulah mengapa Ibnu Hajar pernah menjelaskan bahwa proses Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mendapatkan wahyu itu sulit. Proses yang sulit itu agar menyebabkan beliau ta'dzim (mengagungkan/ memuliakan) terhadap ilmu tersebut. Sebagai contoh, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam diriwayatkan dipeluk dengan sangat erat oleh Malaikat Jibril atau beliau yang senantiasa berkeringat ketika menerima wahyu.

Muraja'ah Kajian Pekan Lalu
Abdurrahman bin Mahdi pernah mengatakan, Apabila seseorang bertemu dengan orang yang lebih alim darinya, maka ia merasa bahwa hari itu adalah ghanimah (keberuntungan) baginya. Adapun jika ia bertemu dengan orang yang sama dengannya, maka ia saling bertukar ilmu. Dan jika ia bertemu dengan orang yang lebih rendah darinya, maka ia akan tawadhu dan mengajarinya.” 

Tetapi, di dalam dunia ilmu itu ada ego yang memicu kita menjadi tinggi jika kita tidak sadar. Ini seperti ucapan ulama, "Di dalam ilmu itu terdapat keangkuhan sebagaimana dalam harta. Sedangkan, ilmu dengan keangkuhan tidaklah memiliki manfaat sama sekali." Maka, janganlah kita berpikir ketika kita memasuki dunia ilmu akan langsung merubah kita menjadi pribadi yang lebih baik. Ada ego, ada banyak hal yang ditawarkan dalam dunia ilmu, misalnya dikagumi, dihormati, dan lain sebagainya.

Bagaimana ilmu menorehkan ego telah tercatat dalam sejarah. Imam ‘Athiyah di dalam kitab Al Muharrar Al Wajiz menjelaskan tentang Qarun. Berdasarkan ijma’ para ulama, Qarun adalah seseorang yang berasal dari Bani Israil. Ia dahulu termasuk orang yang beriman kepada Nabi Musa. Dahulu ia tinggal bersama Nabi Musa dan hamba-hamba lain yang beriman. Bahkan, ia adalah penghafal dan salah satu pembaca terbaik Taurat. Tetapi, di dalam diri Qarun tumbuh perasaan ujub. Maka, ia melampaui batas dan menzalimi kaumnya.

قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ
Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku ..."
(Q.S. Al Qasas: 78)

Bagaimana Mewujudkan Ketawadhuan?
(1) Kita hendaknya mengetahui bahwa salah satu kunci kesuksesan dalam dunia ilmu adalah dengan selalu berusaha untuk tetap tawadhu. Ini sebagaimana penuturan Imam Asy Syafi’i, "Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang mengandalkan kekayaannya, kekuasaan, dan keangkuhannya lantas ia sukses, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menghinakan diri (menahan diri), merasakan kesempitan hidup, berkhidmat untuk ilmu (dan ahli ilmu), dan kerendahan hati, maka ia akan sukses."

Imam Al Qatadah menyatakan, "Barangsiapa yang diberikan harta, ketampanan/ kecantikan, pakaian yang baik lalu ia diberikan ilmu, tetapi ia tidak tawadhu, maka yang ia miliki itu akan menjadi bumerang pada hari kiamat.”

Dengan demikian, jika kita ingin sukses dalam dunia ilmu, kita harus tawadhu. Kita harus menerima kebenaran dan menghargai manusia lainnya (tidak merendahkan/ merasa lebih baik dari manusia lainya). Ini sebagaimana keterangan Fudhail bin Iyadh dan Hasan Al Basri.

Bahkan, pada saat para ulama membantah akan sesuatu, yang mereka yakini sebagai kekeliruan, mereka syarat akan ketawadhuan. Sebagai contoh, Imam Syihabuddin Ar Ramli pernah membantah seorang ahli ilmu. Bantahan ini dapat dibaca pada kitab Faidhul Qadir. Dalam bantahan tersebut, beliau mengatakan, "Apa yang aku sampaikan ini bukan karena aku membenci beliau. Namun, aku membantahnya agar orang-orang awam tidak mengikuti pandangan beliau tersebut. Sehingga, pandangan beliau yang menyelisihi pandangan 4 imam madzhab tidak diikuti dan dijadikan madzhab oleh orang-orang yang tidak mengerti. Bersamaan dengan keyakinanku, kedudukan beliau justru semakin bertambah. Dan aku meyakini luasnya wawasan, kokohnya pondasi, serta keahlian beliau dalam ilmu syariat dan ilmu -ilmu alat." Oleh karena itu, jika kita perlu meluruskan kesalahan diri kita atau saudara kita, maka tidaklah mengapa, luruskan saja. Tetapi, hal tersebut tidak keluar dari koridor objektifitas dan penyampaian yang "cantik".

Hikmah yang dapat kita petik adalah bahwa para ulama memberikan "bantahan" dengan cara seobjektif mungkin dan dalam rangka memberi “pertolongan”. Pertolongan dalam hal ini artinya menolong agar saudaranya tidak dzalim dan terdzalimi. Ini sebagaimana pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa untuk menolong orang yang dzalim ialah dengan mencegahnya dari kedzalimannya. Sehingga, atmosfer yang dibangun bukanlahlah atmosfer kesombongan, tetapi pertolongan.

Analogi sederhana, dua orang siswa memperoleh hasil ujian mata pelajaran kimia yang berbeda. Siswa A mendapat nilai 9. Ia gagal mendapat nilai sempurna karena menuliskan jawaban yang salah di soal No. 3. Sedangkan, siswa B mendapat nilai 3. Tetapi, siswa B menjawab soal No. 3 dengan benar. Siswa B kemudian mengajari siswa A tentang soal No. 3. Dalam hal ini, kita ketahui bahwa siswa B tidaklah lebih cerdas secara umum jika dibandingkan dengan siswa A. Tetapi, siswa B yang menjawab dengan benar soal No. 3 mencoba membantu siswa A agar ia memahami jawaban yang benar pada soal No. 3.

Bahkan, para ulama tetap bersabar terhadap sikap guru mereka yang kurang tepat (misalnya marah). Mereka tetap menerima ilmu dari guru mereka tersebut. Sebagai contoh, Imam Asy Syafi'i pernah bercerita sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnu Muflih dalam kitab Adab Asy Syar'iyah. Beliau bercerita bahwa suatu hari Imam Al A'masy marah pada salah satu muridnya. Murid yang lain kemudian memprovokasi murid yang baru saja dimarahi itu agar meninggalkan majelis Imam Al A'masy. Maka, Imam Al A'masy yang mendengarnya mengatakan, "Dia dungu karena dia meninggalkan ilmu yang bermanfaat hanya karena buruknya akhlakku."

(2) Kita hendaknya meyakini bahwa kemuliaan itu ada pada ketawadhuan, bukan pada kesombongan dan keangkuhan. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ ...
"... Dan tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya (mengangkat derajatnya).” 
(H.R. Muslim)

Kita seringkali keliru dalam meraih kemuliaan. Kita tak jarang justru melalui jalan kesombongan agar dipandang, diakui, atau memiliki kedudukan yang tinggi di antara manusia. Jika kita ingin meraih kemuliaan, maka raihlah dengan cara yang elegan dan tidak ada cara yang lebih elegan kecuali tawadhu hanya karena Allah. 

Ibunda kita, 'Aisyah radhiyallahu 'anha mengatakan, "Sesungguhnya kalian sering lalai tentang sebaik-baik ibadah yaitu tawadhu." Imam Ibrahim bin Syaiban, sebagaimana dikutip dari kitab Madarijus Salikin, menyatakan, "Kemuliaan itu ada pada ketawadhuan." Namun, lihatlah bagaimana syaithan membangun ilusi di dalam diri kita, "Jika kamu ingin diakui/ tinggi/ mulia, maka sombonglah."

Perhatikanlah kisah Imam Al Anbari yang menerima koreksi dari muridnya, Imam Daruquthni, yang masih kecil. Pada suatu ketika Imam Al Anbari menyebutkan nama seorang perawi (Ibnu Hibban) di dalam majelisnya. Imam Daruquthni kemudian mendatangi asisten Imam Al Anbari untuk menyampaikan koreksi atas nama perawi yang disebutkan gurunya. Imam Daruquthni menyampaikan  dengan santun bahwa nama perawi tersebut bukanlah Ibnu Hibban tetapi Ibnu Hayyan. Sekilas info bahwa tulisan Arab di zaman itu tidak seperti sekarang (tidak berharakat dan titik). Maka, tulisan antara Ibnu Hibban dan Ibnu Hayyan tanpa titik terlihat sama.

Imam Al Anbari yang mendengar koreksi dari seorang anak kecil itu tidak lantas menafikannya. Beliau juga tidak langsung membenarkannya. Beliau sampaikan melalui asistennya kepada murid kecilnya bahwa beliau akan memeriksa kembali nama perawi tersebut. Imam Al Anbari bersungguh-sungguh dalam memeriksa dan ternyata beliau menemukan bahwa dirinya telah keliru. Maka, Imam Al Anbari menyampaikan kekeliruan beliau di dalam majelis beliau dan menunjuk anak kecil yang telah mengoreksi beliau kemudian mengucapkan padanya, "Jazahullah khaira."

Abdullah bin Mubarak menyampaikan, "Induk ketawadhuan adalah engkau merendahkan hatimu di hadapan orang yang lebih rendah dunianya darimu. Sehingga engkau memberi pesan padanya bahwa duniamu tidaklah lebih utama jika dibandingkan dengannya. Dan engkau mengangkat dirimu di hadapan orang yang lebih tinggi dunianya darimu. Sehingga engkau memberi pesan bahwa dunia miliknya tidak lebih utama dari dirimu." Adapun jika kita tertarik dengan orang yang lebih tinggi dunianya dari diri kita, maka itu disebabkan oleh kebaikan akhlak, ibadah, dan imannya, bukan karena dunianya semata.

Ibnu Mubarak memberi kita angle lain dari ketawadhuan, tetapi beliau memiliki goal yang sama. Pesannya adalah bahwa yang membuat kita mulia bukanlah harta, popularitas, nama besar, penampilan, ataupun jabatan. Tetapi, ketawadhuan (sikap menerima kebenaran dan tidak meremehkan orang) itulah yang memuliakan kita.

Ibnu Mubarak dalam hal ini membawa kita pada angle di mana kita cukup bersikap "biasa saja" terhadap orang yang dunianya lebih tinggi dari kita. Adapun ketika kita merasa minder saat berhadapan dengan mereka, maka kalahlah kita. Artinya, kita menjadikan kekayaan mereka sebagai parameter kemuliaan dan kita tidaklah tawadhu.

You May Also Like

0 comments