71. Menuju Ketawadhuan #2

by - 8:00:00 PM

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ
Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.
(Q.S. Al An’am: 116)

Dalam sebuah teori peradaban dikemukakan bahwa dunia hanya dikuasai oleh minoritas. Sementara, mereka yang mayoritas cenderung menjadi objek. Maka, janganlah mudah terpengaruh dengan trend.  Sehingga, kita menjadi seperti kebanyakan orang. Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang Islam yang akan datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing dan beruntunglah orang-orang yang dikatakan asing.

Maka, kita wajib bersyukur kepada Allah ketika Dia memudahkan kita untuk menuntut ilmu di tengah prime time hiburan (akhir pekan). Bersyukurlah karena Allah telah memberikan kita hidayah di usia muda. Bersyukurlah karena Allah telah menyuguhkan kita kunci kesuksesan di usia muda, yakni (1) ilmu, (2) adab, (3) iffah (kehormatan), dan (4) amanah. Kunci ini dapat ditelaah dalam kitab Mu'jam Al Udaba.

Ingatlah kembali kunci sukses dalam dunia ilmu menurut Imam Asy Syafi’i: "Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang mengandalkan kekayaannya, kekuasaan, dan keangkuhannya lantas ia sukses, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menghinakan diri (menahan diri), merasakan kesempitan hidup, berkhidmat untuk ilmu (dan ahli ilmu), dan kerendahan hati, maka ia akan sukses." 

Oleh karena itu, seorang ulama mengatakan,“Barangsiapa yang tidak tahan untuk menghinakan dirinya (merendahkan hatinya) di dunia ilmu, walaupun sejenak, maka silahkan ia menikmati  pahitnya kebodohan selama-lamanya.”

Abdullah bin Mu’taz menasehatkan, "Orang yang tawadhu ketika belajar, merekalah orang yang paling banyak mendapatkan ilmu." Oleh karena itu, tawadhu itu merupakan suatu keharusan. 

Ingat pula perkataan Imam Ibnu Mubarak. Beliau menuturkan, "Induk ketawadhuan adalah engkau merendahkan hatimu di hadapan orang yang lebih rendah dunianya darimu. Sehingga engkau memberi pesan padanya bahwa duniamu tidaklah lebih utama jika dibandingkan dengannya. Dan engkau mengangkat dirimu di hadapan orang yang lebih tinggi dunianya darimu. Sehingga engkau memberi pesan bahwa dunia miliknya tidak lebih utama dari dirimu."

Bagaimana Mewujudkan Ketawadhuan (Lanjutan)?
(3) Tawadhu adalah karakter yang tak terpisahkan dari para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (para salafus shalih (ulama-ulama klasik) - generasi terbaik). Tawadhu merupakan karakter Rasulullah dan para sahabatnya. Ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”
(H.R. Bukhari dan Muslim)

Mereka, para sahabat, tabi'in, dan tabi'it tabi'in, adalah generasi terbaik di mana salah satu karakter yang melekat pada diri mereka adalah ketawadhuan. Di sisi lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan secara langsung di dalam Al Qur'an:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu.
(Q.S. Asy Syu'ara': 215)

Dari Abu Dzar dan Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Abu Daud tentang Rasulullah ketika sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya lalu datanglah orang asing yang tidak pernah bertemu beliau. Orang asing tersebut bahkan tidak mampu mengenali Nabinya yang sedang berkerumun dengan para sahabatnya. Sehingga, ia harus bertanya terlebih dahulu tentang Rasulullah.

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah memposisikan penampilan dan sikap beliau sama dengan para sahabat. Sehingga, para sahabat meminta kepada Rasulullah tempat duduk khusus agar jika orang asing datang, maka mereka langsung mengetahui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ingatlah pula bentuk kerendahan hati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar. Orang-orang Madinah pada awalnya tidak mengetahui siapa Nabi mereka. Mereka mengira Abu Bakarlah Nabi mereka. Sehingga, Abu Bakar memayungi Rasulullah yang dengannya para penduduk Madinah mengetahui Nabi mereka.

Pada riwayat yang lain:
"Kalian harus bertaqwa kepada Allah dan janganlah sampai syaithan menggoda kalian dan saya adalah Muhammad anak Abdullah. Saya adalah hamba Allah dan Rasulullah. Dan aku tidak menyukai jika kalian mengangkat kedudukanku di atas kedudukan yang Allah berikan kepadaku." Artinya, Rasulullah tidak menyukai jika kita memperlakukan beliau sebagaimana raja atau ahli dunia lainnya.

Perhatikanlah pula bagaimana Allah mengabadikan koreksi terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada surah 'Abasa (bermuka masam) dan At Tahrim (mengharamkan yang Allah halalkan - madu). Namun, Rasulullah tidak mengeluh kepada Allah akan koreksi yang diabadikan dan terus-menerus kita baca hingga Al Qur'an nanti diangkat. Rasulullah pun tidak mencari-cari alasan kepada Allah. Padahal, beliau memiliki alasan kuat pada surah At Tahrim karena 'Aisyah cemburu.

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ ...
"... Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya (mengangkat derajatnya)."
(H.R. Muslim)

Bahkan, ketika kita mengetahui alur cerita dari dua surah di atas, maka kita justru akan semakin kagum dengan kerendahan hati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Contoh ini kemudian menjadi pelajaran bahwa ketika kita merasa “dikalahkan” oleh pihak lain lalu menggunakan kuasa kita terhadap mereka, maka sejatinya itu hanya talbis iblis.

Demikianlah, tawadhu adalah salah satu pondasi dalam sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya (mengedepankan pihak lain selain Allah dan Rasul-Nya) dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
(Q.S. Al Hujurat: 1)

Gambaran Ketawadhuan Para Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
Tawadhu nampak gamblang dan diakui oleh kawan dan lawan para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini dapat kita telaah misalnya pada kisah Abu Sufyan yang berbicara dengan Heraclius. Kala itu Abu Sufyan belum masuk ke dalam Islam.

Heraclius memiliki beberapa pertanyaan kepada Abu Sufyan. Salah satu pertanyaan Heraclius: "Saya ingin bertanya pada engkau wahai Abu Sufyan, pengikut Muhammad adalah orang-orang besar atau orang-orang lemah?" Maka, Abu Suyan pun menjawab, “Pengikutnya adalah orang-orang lemah." Heraclius pun menimpali, "Memang mereka (orang-orang yang lemah) itulah pengikut para Nabi." Kisah ini secara lengkap termaktub dalam kitab Shahih Al Bukhari.

Pada substansinya, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "orang-orang besar/ terpandang" dalam hadits di atas bermakna orang-orang yang sombong. Sementara, "orang-orang yang lemah/ rendah" bermakna orang-orang yang tawadhu.

Kembali pada hadits di atas, Abu Sufyan sebagai salah seorang pemimpin kaum musyrik Quraisy di Perang Uhud (musuh Rasulullah) mengakui jika para sahabat Rasulullah adalah orang-orang yang tawadhu. Lalu, pertanyaan sederhana bagi kita: "Apakah kita bisa menampilkan kerendahan hati pada orang-orang yang tidak menyukai kita/ tidak menyukai kajian kita?"

Ketawadhuan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu
Imam Ibnul Jauzi pernah membawakan riwayat tentang Abu Bakar yang suka membantu memerah susu kambing sebelum beliau menjadi seorang khalifah. Lalu ketika beliau dibaiat, ada seorang wanita yang mengatakan, "Sekarang Abu Bakar tidak akan mau lagi memerah susu di kampung kita.” Maka, Abu Bakar yang mendengarnya pun mengatakan, "Engkau keliru, aku akan tetap memerah susu dan semoga Allah tidak merubah apa yang telah aku lakukan selama ini.”

Ketawadhuan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu
Urwah bin Zubair mengisahkan, "Aku melihat Umar bin Khattab sedang memanggul air." Lalu, Urwah bin Zubair mengatakan, "Wahai amirul mukminin engkau tidak cocok untuk memanggul-manggul air." Maka, Umar pun berujar, “Baru saja datang para utusan. Ketika mereka datang, mereka mendengar perintahku dengan begitu patuh. Maka, masuklah penyakit kesombongan ke dalam diriku. Oleh karena itu, aku ingin memecahkan dan menghilangkan kesombonganku. 

Kisah ini menjadi pelajaran bagi kita bagaimana Umar melakukan terapi terhadap kesombongannya dengan memanggul air. Pada poinnya, bukanlah kita lantas memanggul-manggul air, tetapi bagaimana kita mampu menemukan terapi yang dapat memecahkan kesombongan kita. 

Sebagai permisalan, kita adalah orang yang mampu. Ketika bepergian, kita terbiasa menggunakan jalur fast track. Jalur ini (terbiasa dilayani) dapat menimbulkan bahaya (kesombongan) bagi diri kita. Maka, sebagai terapi ketawadhuan, cobalah untuk sesekali menggunakan jalur yang biasa dilewati oleh orang lain (ikut mengantri saat akan boarding). Di sini kita akan merasapi bahwa diri kita ini tak ada bedanya dengan manusia yang lainnya. Kita bukan siapa-siapa.

Ketawadhuan Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu
Dalam riwayat yang dibawakan oleh Imam Ahmad dalam kitab Az Zuhud, dikisahkan bahwa Abdullah bin Salam jika pergi ke pasar, ia gemar memikul kayu bakar. Sehingga, seseorang bertanya  kepada beliau, "Wahai Abdullah bin Salam mengapa engkau memikul kayu? Bukankah Allah telah memberikan berbagai kenikmatan yang membuatmu tidak perlu melakukannya.?"

Abdullah bin Salam pun menjawab, "Benar, tetapi aku melakukannya untuk menghilangkan kesombongan sebab aku mendengar Rasulullah bersabda bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar dzarrah (partikel terkecil)."

Ketawadhuan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu
Dari Sa’id bin Mansur di dalam Sunan, dikisahkan tentang seorang pemuda yang menikah dengan wanita di daerah Kufah. Ketika akad nikah telah usai, pemuda itu justru jatuh hati pada ibu mertuanya. Maka, ia mendatangi Abdullah bin Mas’ud untuk mengkonsultasikan masalahnya. Pemuda tersebut menceritakan bahwa dirinya belum berhubungan dengan istrinya. Ia berujar bahwa ibu mertuanya lebih jelita dibandingkan istrinya.

Pemuda itu pun bertanya pada Abdullah bin Mas'ud, "Bolehkah aku ceraikan anaknya dan menikah dengan ibunya?" Abdullah bin Mas'ud menjawab, "Iya..." Maka, pemuda itu ceraikan istrinya dan menikah dengan ibu mertuanya.

Setelah kejadian itu, Abdullah bin Mas'ud pergi ke Madinah. Ketika beliau ada di Madinah, Abdullah bin Mas'ud bertanya kepada para sahabat  yang lain tentang masalah pemuda tersebut. Abdullah bin Mas'ud kemudian menemukan Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Umar dan Ali kemudian menyatakan bahwa pemuda itu tidak diperbolehkan menikahi ibu mertuanya.

Maka, Abdullah bin Mas'ud kembali ke Kufah dan mencari sang pemuda. Abdullah bin Mas’ud kemudian ditunjukkan di mana pemuda itu tinggal lantas memerintahkan pemuda itu untuk berpisah dengan ibu mertuanya. Abdullah bin Mas'ud mengatakan, "Apapun yang terjadi pisahkan karena hukumnya haram di sisi Allah."

Pelajaran yang dapat kita petik, Abdullah bin Mas'ud berfatwa sesuai dengan ilmu beliau. Tetapi, ketika beliau mendapati fatwanya telah salah, maka beliau langsung mengklarifikasinya. Beliau tidak peduli jika ada orang-orang yang tidak menyukai beliau atau semisalnya.

Kita dapat belajar pula bagaimana Abdullah bin Mas'ud menerima masukan dari orang lain. Padahal, bisa saja beliau berkilah bahwa kesalahannya dapat dikategorikan sebagai khilaf ijtihadiyyah. Tetapi, beliau takut kepada Allah dan kemudian meluruskan kekeliruannya.


 Referensi : 
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. (2019). Menuju Ketawadhuan #2. Dalam kajian kitab "Tadzkiratus Saami' wal Mutakallim Fii Adabil 'Alim wal Muta'alim (Adab Para Penuntut Ilmu dan Adab Para Ahli Ilmu)".

You May Also Like

0 comments