72. Memecahkan Kesombongan

by - 8:00:00 PM

Credit: Jachan DeVol on Unsplash
Muqaddimah
Alhamdulillah hari ini hujan turun dan mengguyur beberapa titik di Kota Jakarta. Ketika sebagian pihak berpikir bahwa hujan adalah kendala. Maka, para penuntut ilmu berpikir bahwa hujan adalah sebagai tanda turunnya keberkahan dan peluang untuk mendapatkan pahala demi pahala. Ini sebagaimana firman Allah bahwa air hujan adalah air yang diberkahi. Jangan lupa untuk berdo'a ketika hujan turun. Ini menunjukkan bahwa apapun yang terjadi, maka harus kita kaitkan kepada Allah. 

Ingatlah hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang besarnya pahala yang tergantung dari besarnya ujian. Apa hikmah hujan hari ini? Hikmahnya adalah hujan melatih daya juang kita. Majelis ilmu itu bagai pilot project dalam hidup kita. Setelah taufik dari Allah, salah satu kunci sukses orang-orang besar adalah mental. Ini bukan tentang kita sebatas hujan-hujanan ke masjid atau ke kajian. Ini tentang sebuah mental yang jika kita berhasil di kotak ini, mental ini akan kita bawa ke kotak-kotak kehidupan yang lain dan semua akan berubah secara positif.

... اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri ...
(Q.S. Al Isra’: 7)

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
(Q.S. An Nahl: 97)


Memecahkan Kesombongan

Kita masih bersama adab bagi orang-orang yang mengemban amanat ilmu, yaitu ketawadhuan. Sebagaimana penjelasan pekan lalu, tawadhu adalah menerima kebenaran dan tidak merendahkan manusia. Kita juga telah membahas tentang kiat-kiat dalam meraih ketawadhuan, di antaranya kita yakin bahwa tawadhu adalah karakter para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, Imam Al Biqa'i, salah satu ulama mazhab Syafi’i, mengatakan, "Barangsiapa yang menemukan kesalahanku, tolong segera beritahukan aku sehingga aku bisa memperbaikinya. Demi Allah yang kekuasaan-Nya begitu besar dan kemuliaan-Nya begitu tinggi. Demi Allah, jika aku memiliki harta yang banyak, aku akan memberikannya kepada setiap orang yang mengingatkanku. Setiap orang yang memberitahukanku satu kesalahanku, maka akan aku berikan satu dinar (senilai 4,25 gram emas). Dan sudah terjadi lebih dari satu orang yang memberitahukan tentang kesalahan-kesalahanku dan aku sudah berusaha untuk memperbaikinya. Dan aku pun mendoakan juga memuji-muji mereka. Dan aku menyampaikan perkataan ini sebagai motivasi agar kita ruju' (kembali) pada kebenaran dan ketaatan." Beliau ini merupakan salah satu murid Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani.

Tetapi, kita tentu saja harus menyeleksi kembali kritik yang masuk. Artinya, tidaklah semua kritik kita tampung begitu saja. Adapun kritik yang memang benar-benar merupakan kesalahan kita, maka kita patut menerimanya.

Ini yang hilang dari kita. Ini adalah basic. Kita hari ini tidak menguasai basic tapi masuk dunia ilmu, maka tak heran ada orang-orang yang saling nyinyir.

Maka, bukan hal yang mengherankan ketika para ulama menasehatkan bahwa seharusnya kita mempelajari adab terlebih dahulu sebelum ilmu. Bukan hal yang mengherankan pula ketika Umar bin Khattab menuturkan,
تأدب ثم تعلم
"Beradablah baru kemudian menuntut ilmu"

Ingatlah kisah Umar bin Khattab yang dikritik lalu mengatakan, "Semoga Allah merahmati orang-orang yang menghadiahiku aib-aibku." Adapun ketika kita marah saat dikoreksi, maka artinya yang kita cari bukan ketaatan dan kebenaran melainkan pembenaran. 

Imam Ibnu Jauzi menyampaikan bahwa sebagian ulama salaf (klasik) ketika menyadari dirinya telah keliru dalam berfatwa, maka mereka tidak akan merasa tenang sampai mereka umumkan kesalahan mereka kepada pihak yang telah bertanya kepada mereka. Mengapa demikian? Karena mereka tidak ingin murid atau orang lain mengikuti kesalahan mereka. Walaupun, orang lain akan mengetahui kekhilafan mereka, sehingga kekaguman orang-orang tidak sama lagi seperti sebelumnya.

Para ulama tidak peduli jika orang lain tahu mereka bisa melakukan kesalahan sebab ilmu ini bukan tentang branding. Tetapi, ilmu ini adalah tentang ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tujuan kita belajar itu bukan untuk pintar tapi agar kita taat. Kalau sekadar pintar, maka iblis juga cerdas.

Bagaimana Mewujudkan Ketawadhuan (Lanjutan)?
(4) Kita hendaknya mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari. Malik bin Dinar menasehatkan, "Jika seorang ahli ilmu belajar untuk mengamalkan ilmunya, maka ilmunya akan memecahkan kesombongan, ego, dan arogansinya. Dan apabila ia mempelajari ilmu bukan untuk diamalkan, maka ilmunya itu hanya akan membuat dirinya semakin sombong."

Imam Adz Dzahabi menyatakan hal yang semisal, "Barangsiapa yang mempelajari ilmu untuk diamalkan, maka ilmunya akan memecahkan kesombongan, keangkuhan, dan arogansinya. Dan ia akan sering menangisi dirinya. Barangsiapa mempelajari ilmu untuk memperoleh posisi di suatu majelis agar bisa menjadi mufti, kesombongan, riya', maka ia akan menjadi orang dungu lalu ia akan menyimpang."

Adapun ketika kita membicarakan orang lain, maka kita melakukannya dalam rangka kasih sayang (berbicara dengan cara yang benar untuk meluruskan kesalahannya). Ini pun kita lakukan setelah kita sibuk mengoreksi aib kita sendiri. 

Orang yang menuntut ilmu kemudian mengamalkan ilmunya adalah orang-orang yang lebih suka mengaudit dirinya sendiri. Sehingga, pada satu titik dia menangisi dirinya karena tersadar akan dosanya yang menggunung. Inilah yang senantiasa dilakukan oleh para ulama. Maka dari itu, belajarlah kemudian amalkanlah dan belajarlah secara bertahap. Belajar secara bertahap berguna untuk menyemibangkan antara ilmu dan amal.

Berkaitan dengan ilmu dan amal, perhatikan ucapan Abu Darda' pada seseorang yang sering sekali bertanya padanya. Abu Darda' berkata, "Bukankah engkau sering bertanya kepadaku? Apakah yang engkau tanyakan telah kau amalkan?" Orang itu pun menjawab, "Belum... karena aku banyak bertanya, sehingga aku belum mampu mengamalkan semua yang aku tanyakan." Maka, Abu Darda' pun berujar, "Mengapa engkau gemar menambah hujjah Allah atas dirimu di hari kiamat?"

Ketawadhuan Imam Ahmad bin Hanbal
Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah satu murid Imam Asy Syafi'i. Yahya bin Ma'in pernah menyampaikan tentang Imam Ahmad bahwa selama 50 tahun dirinya bersahabat dengan Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ahmad tidak pernah menyombongkan satu pun kelebihan diri beliau sendiri. Padahal, Imam Ahmad bin Hanbal memiliki 1 juta hafalan hadits.

Pada suatu hari, Ismail bin Ishak Ats Tsaqafi berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal) ketika pertama kali dirinya bertemu dengan beliau, “Wahai Abu Abdillah, izinkan saya mencium kepalamu.” Maka Imam Ahmad membalas, "Jangan, aku belum sampai ke derajat untuk mendapat perlakukan seperti itu.”

Imam Abu bakar Al Maruzy berkata kepada Imam Ahmad, "Betapa banyak orang yang mendoakan engkau Imam Ahmad." Perkataan ini artinya bahwa Imam Ahmad bin Hanbal memiliki banyak jama'ah. Imam Ahmad pun menangis mendengar ucapan itu lantas berkata, “Aku khawatir banyaknya orang yang mendengar majelisku itu sebagai bentuk istidraj dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Beliau kemudian berdoa kepada Allah untuk mengampuninya dan memohon agar dijadikan pribadi yang lebih baik dari yang dipersangkakan manusia.

Imam Adz Dzahabi menyatakan bahwa jama'ah yang biasanya hadir di majelis Imam Ahmad mencapai 5000 orang jama'ah. Namun, mengapa Imam Ahmad bisa begitu rendah hati? Salah satu rahasianya ialah karena beliau komitmen dengan ilmu yang telah beliau dapatkan.

Imam Ahmad menuturkan, "Tidaklah aku menulis sebuah hadits kecuali aku amalkan hadits tersebut sampai ketika aku menemukan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallah bahwa beliau berbekam. Lalu setelah berbekam, beliau memberikan upah sebesar 1 dinar. Maka, aku pun berbekam dan aku berikan 1 dinar kepada tukang bekam."

Sebagai contoh, Imam As Suyuthi berkata bahwa di dalam Musnad Imam Ahmad terdapat sekitar 4000 hadits dan semua hadits tersebut telah diamalkan oleh Imam Ahmad.

Dari Imam Ahmad kita belajar bahawa beliau tidaklah tertipu dengan banyaknya orang yang menyukai beliau. Beliau juga takut kepada Allah ketika ada orang yang ingin mencium kepala beliau. Beliau meneladankan pada kita bahwa selama ilmu itu tidak kita amalkan, maka Allah tidak mungkin memberi kita taufik.

Oleh karena itu, ketika kita ingin memecahkan kesombongan, maka hendaknya setelah mendapatkan ilmu, kita mengamalkannya. Ketika kita mengamalkan ilmu kita, maka secara otomatis kesombongan itu akan turun, turun, dan turun lalu sebaliknya ketawadhuan itu akan naik, naik, dan naik.

You May Also Like

0 comments