73. Tawadhu Di Hadapan Ilmu

by - 8:00:00 PM

Marilah kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya mulai dari nikmat nyawa hingga nikmat yang paling besar, yaitu taufik dan hidayah. Semoga kita bisa bersyukur atas nikmat-nikmat tersebut. Sebagaimana Allah berfirman:

لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ...
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
(Q.S. Ibrahim: 7)

Kita hadir (ke majelis ini) berharap agar kita dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, yang lebih bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagaimana kaidah para ulama:
من ثبت نبت
"Barangsiapa yang menetap di sebuah titik, maka dia yang akan tumbuh."

Ini menunjukkan bahwa belajar tidaklah bisa dengan loncat dari satu majelis ke majelis yang lain. Agar dapat tumbuh, maka kita harus menetap di satu (atau beberapa majelis) kemudian kita tekuni dan kita jalankan dengan istiqamah. Sebagaimana ketika kita menanam sebuah bibit. Jika kita memindahkan bibit yang baru saja kita tanam dari satu pot ke pot yang lain, maka bibit tersebut tidaklah akan tumbuh. Bibit itu akan tumbuh jika ia tetap berada di mana ia ditanam lalu disiram dan  rawat.

Orang yang ingin menjadi pribadi yang lebih baik juga harus komit dengan ilmu. Sebagaimana perkataan Imam Ibnu Qayyim di dalam kitab Madarijus Salikin, "Orang yang memiliki ambisi-ambisi besar, maka mimpinya selalu seputar ilmu, iman, dan amal yang mendekatkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.”

Pasca hijrah tidaklah mudah, sehingga untuk menjawab seluruh problematika, setelah taufik dari Allah adalah ilmu. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ خُبْرًا
Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”
(Q.S. Al Kahfi: 68)

Sekali lagi, pasca hijrah tidaklah mudah dan setiap kita pasti akan diuji oleh Allah. Maka, hadirnya kita ke majelis ilmu merupakan kebutuhan (di samping sebagai kewajiban). Ingatlah kembali hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: 

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” 
(HR. Muslim)

Ingatlah pula dalil tentang seluruh penduduk langit dan bumi hingga ikan-ikan yang ada di lautan yang memintakan ampunan untuk kita. Kaidah ini harus terus kita ulang agar kita tidak futur. Coba kita renungkan berapa juta jumlah ikan yang ada di seluruh bumi ini. Oleh karena itu, keutamaan menuntut ilmu harus terus kita ulang-ulang. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang bagaimana orang-orang beriman yang tidak bosan terhadap pengulangan:

وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ
Dan tetaplah memberi peringatan (pengulangan), karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.
(Q.S. Adz Dzariyat: 55)


Tawadhu Di Hadapan Ilmu dan Ahli Ilmu

Tawadhu di hadapan ilmu dan ahli ilmu merupakan kunci meraih ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan. Bagaimanapun cerdasnya seseorang tetapi ia tidak merendahkan diri (hatinya) di hadapan ilmu dan ahli ilmu, maka ilmunya tidak akan bermanfaat. Inilah konsep para ulama.

"Sesungguhnya ilmu tidak akan didapat kecuali dengan tawadhu." Perkataan ini disampaikan oleh Imam Al Kharsyi (salah satu imam bermadzhab Maliki) dan Imam Abdul Hamid. Imam Al Kharsyi mengatakan pula, "Barangsiapa yang tidak tawadhu di antaranya kepada ahli ilmu, maka ia tidak akan mampu tawadhu kepada Allah."

Poinnya adalah bahwa orang yang tidak tawadhu kepada Allah, maka ia telah sombong. Sedangkan, orang yang sombong terancam tidak masuk ke dalam surga. Inilah mengapa kita harus menekankan secara khusus tentang tawadhu di hadapan ilmu dan ahli ilmu.

Mari kita ingat kembali ucapan Imam Asy Syafi'i: "Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang mengandalkan kekayaannya, kekuasaan, dan keangkuhannya lantas ia sukses, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menghinakan diri (menahan diri), merasakan kesempitan hidup, berkhidmat untuk ilmu (dan ahli ilmu), dan kerendahan hati, maka ia akan sukses."

Seorang Calon Nabi dan Ketawadhuannya di Hadapan Ilmu
Di antara dalil tentang pentingnya tawadhu terhadap ilmu adalah kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. Tetapi, kita akan mengambil angle yang berbeda pada kisah tersebut sebagaimana termaktub dalam ayat berikut: 

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pelayannya (Yusya' bin Nun), “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.”
(Q.S. Al Kahfi: 60)

Pada tafsir yang dibawakan oleh Imam Al Qurthubi, kata فَتَاهُ pada ayat di atas memiliki beberapa keterangan, diantaranya diartikan sebagai pelayan dan budak.  Lantas, mengapa Yusya' bin Nun, seorang calon nabi, dikatakan sebagai pelayan? Jawabanya karena beliau sedang belajar (mulazamah) kepada Nabi Musa dan karakter orang yang belajar adalah merendahkan hatinya di hadapan ilmu dan ahli ilmu. Sehingga, pada satu sisi ia nampak sebagai seorang budak. Ini adalah yang dikatakan oleh para ulama dan diantaranya Imam Syu'bah. Beliau mengatakan, "Jika aku belajar sebuah hadits dari seseorang, maka aku akan memposisikan diriku seperti budaknya selama ia hidup."

Ibnu Qattan dan Ketawadhuan Ayahnya di Hadapan Ilmu
Saudara dari Ibnu Qattan berkisah tentang Ibnu Qattan dan ayah mereka. Suatu saat mereka pernah duduk-duduk bersama. Lalu, di dalam benak sang ayah terbersit sebuah permasalahan ilmiah. Maka, sang ayah menghampiri puteranya, Ibnu Qattan, untuk bertanya.

Ketika Ibnu Qattan melihat ayahnya berdiri, maka beliau pun ikut berdiri. Ibnu Qattan lantas bertanya, "Mengapa ayah berdiri dan berpindah tempat ke sana kemari?" Ayahnya menjawab, "Ayah berpindah tempat karena ingin menanyakan sebuah ilmu." Maka, Ibnu Qattan mengatakan, "Wahai ayah, jika engkau membutuhkanku, panggil saja diriku biar aku yang menghampirimu." Sang ayah pun mengatakan, "Nak, ayahmu ini ingin menunaikan haknya ilmu."

Inilah mengapa ilmu kita tidak berkah sebab kita tidak memenuhi haknya ilmu. Maka, tawadhu di hadapan ahli ilmu bukanlah sebatas tawadhu terhadap individu beliau. Tetapi, ilmu yang ada pada diri beliau itu yang harus kita hormati, muliakan, dan rendahkan diri kita. Karena di dalam sosok tersebut ada firman-firman Allah, hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan ada kaidah-kaidah yang lahir dari wahyu Allah Azza wa Jalla.

Abdullah bin Abbas dan Ketawadhuannya di Hadapan Ilmu
Dalam sebuah riwayat yang diperselisihkan oleh para ulama, tapi maknanya benar dan dishahihkan oleh sebagian ulama seperti Syaikh Asy Syinqithi, Abdullah bin Abbas mengatakan, "Ketika aku belajar, aku hinakan diriku. Tetapi, ketika aku telah mendapatkan ilmu, Allah muliakan diriku." Inilah testimoni sepupu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi seorang penuntut ilmu, kita harus siap menjadi rendah.

Sebagai contoh ketawadhuan beliau, ingatlah kisah Abdullah bin Abbas yang memarkirkan kendaraan Zaid bin Tsabit. Padahal, Zaid bin Tsabit mengatakan pada Abdullah bin Abbas bahwa dirinya mampu memarkirkan kendaraannya sendiri. Tetapi, Abdullah bin Abbas berujar,  "Beginilah kami diperintahkan Nabi dalam bersikap terhadap ulama-ulama kami." Pada riwayat yang lain dikisahkan bagaimana Abdullah bin Abbas ketika hendak menemui seorang sahabat Rasulullah, beliau sampai tidur di depan pintu rumah sahabat tersebut.

Harun Ar Rasyid dan Ketawadhuannya di Hadapan Ilmu
Harun Ar Rasyid belajar dengan seorang ulama yang buta bernama Abu Muawiyah. Suatu hari Harun Ar Rasyid belajar dengan gurunya kemudian mereka makan. Usai makan, gurunya berdiri untuk mencuci tangan. Begitu melihat gurunya ingin cuci tangan, Harun Ar Rasyid dengan cekatan berdiri lalu mengambil air dan memasukkannya ke tangan gurunya.

Setelah kejadian itu, maka ada seseorang yang bertanya kepada Abu Muawiyah. Orang itu bertanya, "Apakah kau tahu siapa yang menuangkan air kepadamu?" Maka beliau menjawab, "Bagaimana mungkin aku tahu." Orang itu lantas mengatakan, "Dia adalah Harun Ar Rasyid."

Begitu Abu Muawiyah mendengarnya, maka beliau memanggil sang murid kemudian bertanya, "Apakah kau yang mencucikan tanganku? Harun Ar Rasyid yang datang menemui gurunya menjawab, "Yang aku inginkan hanyalah memuliakan ilmu."

"Ilmu itu tidak akan bisa diraih, kecuali dengan ketawadhuan."

Imam Abdullah bin Mu’taz menasehatkan, "Penuntut ilmu yang tawadhu adalah orang yang paling banyak ilmunya (ilmu yang bermanfaat)." Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Bukanlah bagian dari kami, orang yang tidak menghormati orang yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengerti hak ahli ilmu.”
(H.R. Al Bazzar)

Contoh tentang masalah ini sangatlah banyak. Salah satu contohnya ialah Imam Muslim ketika datang kepada Imam Bukhari kemudian beliau mengatakan, "Biarkan saya mencium kakimu wahai gurunya para guru."

Sebagian ulama salaf (klasik) menasehatkan, "Barangsiapa yang tidak sabar untuk tawadhu pada saat belajar, maka silahkan dia menghabiskan umurnya dengan kebodohan."

You May Also Like

0 comments