74. Kesombongan Dari Masa Ke Masa

by - 11:30:00 PM

Credit: Maxine Yang on Unsplash
Muraja’ah Kajian Pekan Lalu
Sebagaimana telah disampaikan oleh Imam Al Kharsyi bahwa seseorang tidak akan mungkin tawadhu di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali ia lebih dulu tawadhu di hadapan ilmu dan ahli ilmu. Oleh karena itu, seorang murid hendaknya melayani dan berkhidmat kepada gurunya sehingga pada satu sisi ia seolah nampak seperti budak. Ini sebagaimana Yusya' bin Nun, seorang calon Nabi, yang belajar kepada Nabi Musa yang disebut Allah dalam Al Qur'an dengan kata فَتَاهُ (pelayan/ budak).

Jika kita coba rangkai dari beberapa sesi ini, kesimpulannya adalah kita harus kembali pada hal basic. Ilmu adalah hal termewah (perhiasan tertinggi) dalam kehidupan. Ini sebagaimana diungkapkan oleh sebagian para ulama. Maka, untuk dapat meraih sesuatu yang sangat mewah/ tinggi/ berkelas seperti ilmu, kita hanya dapat memperolehnya dengan adab yang tinggi. Imam Yusuf bin Husain menyampaikan,

بالأدب تفهم العلم
"Hanya dengan adab, Anda memahami hakikat ilmu."

Ungkapan yang serupa dengan perkataan di atas disampaikan pula oleh Syaikh Sa’ad Asy Syatsri dalam Syarah Hilyah Thalibil Ilmi. Beliau mengatakan bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan mungkin mendapatkan ilmu kecuali dengan adab yang tinggi. Dan salah satu adab yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu adalah tawadhu. Sebaliknya, kesombongan adalah kunci kegagalan dalam menuntut ilmu.

سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ وَاِنْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَاۚ
Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. ...
(Q.S. Al A'raf: 146)

Maka, tawadhu adalah adab yang paling mendasar. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas, Allah akan palingkan seseorang dari ilmu dengan cara: (1) Allah buat dirinya tidak paham-paham dengan ilmu; atau yang lebih halus lagi (2) Allah palingkan dari keberkahan dan manfaat dari ilmu tersebut walau dia hafal.


Kesombongan Dari Masa Ke Masa

Pada kesempatan ini kita akan membahas beberapa pihak yang dinyatakan sombong sehingga mereka tidak dapat mengambil manfaat dan keberkahan dari ilmu mereka. Kesombongan mereka ini terjadi dari zaman ke zaman (dari masa ke masa).

Berbicara tentang kesombongan, kita tentu tidak akan lupa dengan ikon kesombongan, yakni iblis. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang kesombongan iblis:

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.
(Q.S. Al Baqarah: 34)

Tetapi, malam ini kita tidak akan membicarakan contoh-contoh kesombongan secara umum melainkan akan kita fokuskan dalam konteks dunia ilmu.

Qarun
Ibnu Athiyah dalam kitab tafsirnya Al Muharrar Al Wajiz menerangkan bahwa Qarun, dengan ijma’, adalah seseorang dari Bani Israil. Pada awalnya, dia adalah di antara orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa. Dia hafal Taurat. Bahkan, dia adalah salah satu pembaca terbaik Taurat. Dia termasuk hamba-hamba yang beriman namun kemudian masuklah ujub dan kesombongan (ke dalam hatinya). Dia lantas mengucapkan perkataan sebagaimana yang diabadikan dalam surah berikut:

قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ اَوَلَمْ يَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهٖ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ اَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَّاَكْثَرُ جَمْعًا ۗوَلَا يُسْـَٔلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ
Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka.
(Q.S. Al Qassas: 78)

Maka, Qarun mulai melampaui batas dan menzalimi kaumnya dengan berbagai macam varian kezaliman. Kisah Qarun ini mengajarkan kepada kita betapapun ia hafal kitab suci dan mahir dalam membacanya, hal tersebut tidak menjadi garansi keistiqamahan hingga akhir hayatnya.

Oleh karena itu, janganlah kita berpikir dengan kita duduk di majelis ini, malam ini, kita akan khusnul khatimah. Ketika kita lengah, kita dapat terjerumus pada kesombongan dan hancurlah segalanya. Perhatikanlah Qarun, ia bagai paket komplit. Namun, karena kesombongannya ia akhirnya hancur. 

Kesombongan mungkin tidak akan menghinggapi kita pada saat awal hijrah karena kita tidak punya modal apapun untuk sombong. Bayangkan, adakah orang yang sombong ketika ia tidak bisa membaca Al Qur’an? Tapi, ketika dia belajar, belajar, dan belajar lalu mengikuti kelas tahsin, tajwid, dan menghafal Al Qur’an, maka dia memiliki modal kesombongan dari hafalannya.

Kita hendaknya tidak meremehkan hal ini. Semakin seseorang berilmu, maka semakin besar ujiannya untuk tidak sombong. Karena semakin berilmu seseorang, semakin besar potensi kesombongannya. Semakin berilmu seseorang, semakin banyak modal kesombongannya. Maka, kita harus berhati-hati sebab yang menjadi korbannya bukanlah orang-orang sembarangan.

Ibnu Kamil Al Baghdadi
Imam Daruquthni menyampaikan bahwa sosok ini mampu meriwayatkan hafalannya tanpa open book. Tetapi, dirinya telah dihancurkan oleh ujub. Padahal, ujub adalah anak tangga menuju kesombongan.

Sementara itu, Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa sosok ini merupakan samudera ilmu (secara teori). Namun, dirinya terpedaya dengan ilmunya sendiri.

Imam Daruquthni kemudian membawakan catatan para ulama yang menerangkan bahwa sosok ini tidak menganggap ulama-ulama yang lain. Artinya, sosok ini meremehkan ulama-ulama yang lainnya.

Bisyir Abu Sahal Al Kufi
Imam Adz Dzahabi berkomentar tentang orang ini bahwa ia sangatlah cerdas. Tetapi, Allah tidak memberinya hidayah. Ia tertipu dengan kesombongan/ kecerdasannya sendiri.

Pelajarannya, kita mungkin selama ini berpikir bahwa dengan rajin ke kajian lalu mendapat ilmu, maka otomatis kita dapat memperoleh hidayah. Tunggu dulu... sejarah membuktikan. Banyak tercatat dalam sejarah contoh-contoh seperti itu (terperdaya dengan kecerdasannya sendiri).

Ibrahim bin Yasar
Orang ini adalah salah satu orang yang penuh dengan kecerdasan (memiliki banyak hafalan dan tajam pemahamannya). Namun, Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa orang ini termasuk orang yang ilmunya tidak bermanfaat. Ia meninggal di kamarnya terjatuh dalam kondisi mabuk. Padahal, Allah jelas mengharamkan khamar:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.
(Q.S. Al Maidah: 90)

Oleh karena itu, bukanlah hal yang mengherankan jika Allah menegur Nabi Musa. Allah menegur Nabi Musa yang kala itu mengatakan bahwa dirinyalah orang yang paling alim (walaupun Nabi Musa tidak bermaksud untuk sombong) saat Allah bertanya tentang siapa orang yang paling alim.  Teguran Allah kepada Nabi Musa ini membuktikan bahwa sombong adalah penyakit.

Amar bin Bahar
Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa sosok ini merupakan samudera ilmu dan gila baca. Sosok ini termasuk orang yang miskin. Para ulama menerangkan bahwa jikalau ia memiliki kekayaan, ia pasti akan membeli semua buku di dunia. Karena tidaklah satu buku yang mampir ke tangannya, kecuali akan dia baca dari awal hingga akhir.

Semangat belajarnya sangatlah luar biasa. Diriwayatkan bahwa suatu hari ia kelaparan sehingga ia mengadu pada ibunya untuk kemudian meminta makanan. Tetapi, karena miskinnya keadaan mereka, sang ibu berkata bahwa dirinya tidak lagi mempunyai makanan kecuali buku-buku. Maka, Amar bin Bahar keluar rumah dengan perasaan sedih. Ia akhirnya memutuskan untuk kembali belajar dan datang ke majelis ilmu.

Namun, Imam Adz Dzahabi menerangkan bahwa sosok ini agamanya sedikit. Karena kecerdasannya yang cemerlang menyebabkan ia mengukur segala hal dengan akal (bukan dengan dalil). Maka, PR bagi orang-orang cerdas adalah apakah mereka mau menahan ego untuk menomorduakan kecerdasan dan akalnya lalu menomorsatukan firman Allah dan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?

 ... يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ 
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya ...
(Q.S. Al Hujurat: 1)

Coba kita ingat kembali definisi kesombongan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Salah satu bentuk menolak kebenaran ialah dengan menolak dalil menggunakan akal. Padahal, kaidah ahlus sunnah wa al jama'ah menjelaskan bahwa kebenaran tidak akan mungkin bertentangan dengan akal sehat. Tapi, kita sepakat bahwa akal setiap kita ada batasnya dan akal seharusnya digunakan untuk memahami dalil menggunakan kaidah yang benar (kaidah yang sesuai dengan Rasulullah dan para sahabatnya). Sehingga, akal seharusnya tidak digunakan untuk menabrak dalil dan dijadikan rujukan utama.

Hamdan bin Hudhail
Dia adalah salah satu orang yang cerdas. Ia mengetahui ayat dan hadits. Tetapi, para ulama mengatakan bahwa orang ini bukanlah orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan, pada suatu hari diriwayatkan bahwa dirinya pernah mabuk di tempat temannya lalu ia ingin menggauli budak laki-laki yg ada di tempat tersebut.

Contoh ini lagi-lagi menekankan pada kita bahwa tawadhu itu penting. Janganlah kita mengandalkan kecerdasan, ketekunan atau rajin datang ke kajian. Kita bisa dibuat Allah terlempar jauh dari keberkahan kalau kita tidak perjuangkan ketawadhuan.

... سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ
Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri ...
(Q.S. Al A'raf: 146)

Itulah kenapa para ulama menulis buku-buku tentang adab. Itulah mengapa Syaikh Sa'ad Asy Syatsri dalam Syarah Thalibil Ilmi mengatakan, "Anda tidak akan mendapatkan ilmu kecuali Anda menggunakan metode para ulama pada saat belajar. Dan para ulama mempelajari adab sebelum ilmu." 

Kalau kita tidak belajar basic-basic seperti ini, maka kita rentan sombong saat mendapat banyak maklumat. Begitu kita sombong, maka "selesailah" kita.

Ini juga menunjukan bahwa inti dari ilmu bukan sebatas maklumat (informasi/ konten). Walaupun, konten itu penting dan tidak boleh kita remehkan. Tapi, ingatlah bahwa hidayah dan kebermanfaatan dari ilmu itu yang harus kita kejar. Oleh karenanya, Rasulullah senantiasa berdo'a meminta ilmu yang bermanfaat setiap hari.

Abdullah Al Qasimi
Sosok ini memiliki buku-buku yang sangat bermanfaat. Dia adalah pembela akidah, iman, dan tauhid yang benar. Bahkan, sebagian ulama mengatakan bahwa salah satu bukunya yang terkenal diibaratkan sebagai sebuah mahar untuk surga. Tapi, dia berbalik arah dan akhirnya keluar dari Islam. Maka, sejarah kehidupan sosok ini menjadi perhatian banyak pihak.

Di antara kesimpulan ulama yang meneliti orang ini, salah satu penyebab keluarnya ia dari Islam ialah karena ujub dan sombong. Orang ini suka memuji dirinya sendiri. Ia pernah mengatakan, "Kalau manusia itu objektif, aku lah orang yang terdepan dalam masalah ini. Dan tidak ada yang manusia harapkan kecuali diriku jika mereka menginginkan petunjuk dan kekokohan."

Dalam sebuah cover bukunya ia pernah pula mengungkapkan, "Para ahli sejarah pemikiran akan mengatakan bahwa dengan bukuku ini orang Arab akan melihat jalan akal sehat. Dan setiap Muslim tidak akan tidak butuh terhadap pemikiran-pemikiranku jika dia menginginkan pemikiran yang benar."

Highlight
Demikianlah, atmosfer dunia ilmu adalah atmosfer kerendahan (ketawadhuan). Begitu kita khilaf, istighfar dan bangkit lagi. Karena jika tidak begitu, kita akan gagal, kita tidak akan berhasil. Dan inilah yang dibangun oleh para ulama.

Al 'Allamah Al Mu'allimi pernah mewanti-wanti kepada semua orang agar jangan pernah ada yang mengkategorikan beliau sebagai seorang ulama. Padahal, beliau termasuk salah satu pakar hadits di era ini.

Ingatlah kembali bagaimana Syaikh Al Albani yang menangis ketika disebut sebagai pakar hadits abad ini. Bahkan, beliau mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang penuntut ilmu junior. 

Begitu kita merendah, maka secara otomatis kepatuhan dan ketaatan kita kepada Allah semakin kuat. Karena konsep ketaatan dan kepatuhan secara simple adalah nurut dan patuh.

Untuk nurut dan patuh, kita butuh sebuah rasa: rasa rendah.

Hal yang membuat kita sulit untuk nurut dan patuh adalah ketika kita merasa tinggi, ketika kita merasa besar, ketika kita merasa pintar. Analogi sederhananya, mengapa kita nurut dengan dokter kita? Karena kita merasa bodoh di hadapan dokter tersebut. Sehingga, ketika kita belajar yang pada hakikatnya untuk nurut dan taat pada Allah, unsur ketawadhuan itu harus ada.

Semakin kita belajar, semakin besar ujian kesombongan. Semakin banyak ilmu kita, semakin terselubung syaithan bermain dengan kesombongan. Oleh karena itu, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
(Q.S. Al Fatihah: 5)

You May Also Like

0 comments