75. Dijaga Oleh Ilmu?

by - 11:00:00 PM

Credit: Markus Spiske on Unsplash
Muqaddimah: Hikmah Perpindahan Jam Kajian
Di antara kaidah para ulama klasik (salaf) terdahulu: “Jika Anda melihat seseorang disukai oleh seluruh lingkungannya, maka ketahuilah bahwa ia adalah orang yang buruk.” Kenapa demikian? Karena tidak akan ada yang bisa memuaskan semua orang. Ini konsekuensi bagi orang-orang yang hidup dengan karakter. Semakin kita berkarakter, maka akan selalu hadir pihak-pihak yang pro dan kontra.

Lihatlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, manusia yang paling memiliki karakter, di satu sisi ada pihak yang sangat mengaguminya bahkan rela mati demi ajaran beliau. Tapi, di sisi lain ada pula pihak yang membenci beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan, sampai detik ini masih ada pihak yang mencela beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini salah satunya dikarenakan beliau memiliki karakter. Karakter yang mentauhidkan Allah lalu mengatakan tidak pada kesyirikan dan kemungkaran.

Perbandingan sederhananya bisa kita ambil dari buah durian dan pisang. Manakah di antara kedua buah ini yang paling berkarakter? Jawabannya tentu buah durian yang paling berkarakter. Lalu, perhatikanlah bagaimana buah ini sering dipersekusi di berbagai tempat, misalnya di bandara atau transportasi publik. Tapi apakah buah durian baper? 

Begitulah mahluk yang memiliki karakter. Kita tidak mungkin memuaskan semua orang. Walaupun demikian, bukan artinya kita tidak santun dan tidak hikmah kepada orang lain.

Oleh karena itu, sikap kita hendaknya berusaha mengikuti kebenaran semampu kita dan me-rajih-kan sesuai dengan dalil, data, juga argumentasi paling kuat yang kita miliki. Selanjutnya, tawakal kepada Allah lalu berjalanlah.

Perubahan jam kajian ini mengajarkan kita bahwa ternyata setiap episode kehidupan kita menyimpan banyak hikmah.  Sebagaimana Imam Asy Syafi'i pernah menuturkan, Tajamnya melihat adalah kunci keselamatan dari kegagalan dan kesesatan." 

Hidup itu adalah seni dalam melihat. Hal ini sengaja kita angkat sebab hikmah ini penting untuk kita semua. Ini tidaklah mudah, terutama bagi kita yang memutuskan untuk hijrah lalu menghadapi konsekuensi dari hijrah kita.

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?
(Q.S. Al Ankabut: 2)

Ketika kita memutuskan sebuah keputusan besar, yaitu berhijrah (mendekat kepada Allah), maka kita akan diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pada saat itulah kita harus menunjukan karakter kita sebagai seorang Muslim. Ketika kita mulai menunjukkan karakter kita, maka akan ada orang-orang yang tidak menyukai kita. Ini adalah hal yang wajar. Namun, selanjutnya bagaimana kita menyikapi hal tersebut.

Kalaupun kita hijrah di masa muda lalu mendapat kesulitan, maka itu adalah hal yang bagus. Karena ketika kesulitan itu mendera kemudian kita meminta pertolongan kepada Allah dan berada terus di jalan Allah, maka nantinya masa depan kita akan bersinar.

Kaidah ulama:
مَن كَانَت بِدَايَتُهُ مُحرِقَه كَانَت نِهَايَتُهُ مُشرِقَة
"Barangsiapa yang fase awalnya (muda) terbakar, maka fase akhir kehidupannya akan bersinar."

Orang-orang besar itu lahir dari keringat, air mata, dan perjuangan. Sebagaimana Ibnu Jauzi mengatakan, "Kenyamanan tidak lahir dari kenyamanan." Maka, bersyukurlah ketika Allah memberi kita hidayah ketika kita masih seperti ini (masih muda) atau ketika menikah muda dan belum punya apa-apa. Ahli hikmah mengatakan, "Menikahlah muda saat Anda belum memiliki apa-apa. Lalu milikilah anak agar anak-anak Anda mengerti apa arti sebuah perjuangan."

اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ
Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu. Dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.
(H.R. Muslim)

Saat kita memutuskan berhijrah, artinya kita membuat keputusan untuk lebih dekat kepada Allah (melangkah ke jenjang yang lebih tinggi dari sebelumnya). Pada semua bidang, level yang lebih tinggi sudah pasti lebih sulit dari level sebelumnya.

Ini artinya ketika kita memutuskan untuk berhijrah, maka konsekuensinya ujian yang akan kita hadapi sudah pasti lebih berat dari sebelumnya. Inilah blind spot banyak orang. Mereka berpikir ketika mereka hijrah, maka mereka tidak akan terkena ujian lagi. Jikalau hidup tanpa ujian yang kita harapkan, maka itu bukanlah hijrah tapi mati.

Hijrah itu bukan menghilangkan ujian. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, dalam hadits Tirmidzi, bahwa hidup ini adalah perpindahan dari satu masalah ke masalah berikutnya.

Coba kita renungkan, manakah ujian yang lebih berat bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sebelum atau setelah mendapat wahyu? Bukankah setelah mendapat wahyu ujian beliau shallallahu 'alaihi sallam menjadi lebih sulit? 

Nah, pertanyaannya bagaimana agar kita tidak babak belur ketika naik level? Solusinya adalah belajar dengan rajin. Bencana akan hadir ketika kita tidak belajar. Bencana akan hadir jika kualitas belajar kita sama dengan level sebelumnya. Maka, kita harus menambah belajar kita dan mengasah skill yang kita miliki.

Begitu kita belajar, Insya Allah tidak akan ada masalah sama sekali. Dalam arti tidak akan ada masalah yang menghancurkan kita. Masalah pasti ada ada. Tapi, masalah itu tidak akan membuat kita drop, down, terpuruk, ataupun terhempas. Oleh karena itu, datang ke kajian (khususnya kajian rutin) adalah kebutuhan.

Ketika kita sepakat bahwa kuncinya adalah ilmu. Maka, ada hal-hal yang harus kita ketahui. Ada adab yang harus kita amalkan dalam dunia ilmu. Karena kita tidak akan mampu meraih ilmu kecuali dengan adab. Ini sebagaimana penuturan Imam Yusuf bin Husain:

بالأدب تفهم العلم
"Hanya dengan adab, Anda memahami hakikat ilmu."


Adab Kedua: Menjaga Ilmu Sebagaimana Para Ulama Salaf Menjaga Ilmu

Salah satu adab dalam dunia ilmu adalah kita berusaha untuk menjaga ilmu tersebut. Al Imam Asy Syafi’i sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Shalih Al Utsaimin dalam kitab Ta’dzimul Ilmi menyatakan, "Barangsiapa yang tidak menjaga ilmunya, maka ilmu tidak akan menjaganya."

Sebagai contoh, betapapun jatuh finansialnya, seseorang tetap mampu bersikap tenang. Ia tidak pernah menjual penderitaannya pada orang lain ataupun meminta-minta. Ia tetap menjaga penampilan (tetap rapi walaupun tidak mewah). Bahkan, teman yang biasa ia temui tidak mengetahui bahwa dirinya sedang kesulitan. Maka, orang ini pada hakikatnya mampu mengamalkan Q.S. Al Baqarah: 273:

لِلْفُقَرَاۤءِ الَّذِيْنَ اُحْصِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِى الْاَرْضِۖ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمٰهُمْۚ لَا يَسْـَٔلُوْنَ النَّاسَ اِلْحَافًا ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah, sehingga dia yang tidak dapat berusaha di bumi; (orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui.

Mengapa orang bisa salah duga, padahal orang tersebut sedang kesulitan? Karena orang tersebut menjaga kehormatannya (ilmunya menjaga dirinya).

Seseorang yang Dijaga Oleh Ilmu
Ada sebuah kisah tentang seseorang yang istri atau ibunya sedang sakit dan harus menjalani operasi. Namun, beliau tidak memiliki cukup biaya. Beliau sebenarnya memiliki beberapa jama'ah yang kaya yang jika beliau hubungi pasti akan membantunya. Tetapi, beliau enggan meminta bantuan pada mahluk karena beliau yakin bahwa Allahlah sebaik-baik penolong.

Namun demikian, beliau terus berpacu dengan waktu. Maka, beliau terus berusaha dengan menjual barang-barang yang bisa beliau jual. Sehingga pada last minute, ada orang lain, yang tidak beliau ketahui sama sekali, meng-cover biaya operasi yang beliau butuhkan.

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
... dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya ...
(Q.S. At Thalaq: 3)

Bottom line dari kisah ini adalah hingga di saat genting sekalipun ia tetap terjaga. Ilmunya menjaga beliau. Ia tidak meminta-minta. Ia tetap tawakal kepada Allah. Ini bukanlah hal yang mudah. Tapi, inilah yang bisa membuat kita menyelesaikan berbagai macam masalah ke depan (jika Allah jadikan ilmu kita menjadi penjaga kehidupan kita). Dan untuk bisa bermain di level itu, tidak cukup dengan kecerdasan, hafalan, kerajinan, dan kepintaran. Tetapi, kita harus menjaga ilmu sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Asy Syafi'i.

Nabi Yusuf yang Dijaga Oleh Ilmu
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَآ اَنْ رَّاٰى بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ
Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.
(Q.S. Yusuf: 24)

Sebagian dari para ulama salah satunya Imam Ibnu Qayyim mengatakan bahwa sabarnya Nabi Yusuf adalah sabar yang paling berat/ tinggi. Ini karena sabarnya beliau diuji ketika seluruh akses maksiat terbuka di depannya. Bahkan, beliau tidak perlu melakukan usaha apapun.

Dalam tafsir Abdullah bin Abbas, petunjuk Allah dalam ayat di atas dijelaskan sebagai suara yang pada saat itu mengingatkan Nabi Yusuf untuk tidak berzina. Sementara, pada tafsir Abdullah bin Abbas yang lainnya dijelaskan bahwa Nabi Yusuf kala itu melihat wajah ayahnya (wajah ayahnya terngiang) sehingga hilanglah syahwat Nabi Yusuf.

Intinya: dijaga oleh Allah terutama di saat-saat genting. Inilah yang kita butuhkan khususnya pada hari-hari ini (ketika kenikmatan dunia dibuka di depan mata kita). Dan bagaimana ilmu itu menjaga kita? Jawabannya kita harus menjaga ilmu Allah, tidak cukup dengan cerdas dan tekun saja. Contoh-contoh pekan lalu seharusnya membuka mata kita bahwa kecerdasan kita tidak cukup untuk dapat menjaga kita.

Syaikh Shalih Al Utsaimin menyampaikan, "Sesungguhnya bagian seorang hamba dari ilmu itu tergantung dari seberapa dalam hatinya mengagungkan dan memuliakan ilmu. Dan barangsiapa yang hatinya penuh dengan pengagungan terhadap ilmu, maka barulah ia dinilai layak menjadi wadahnya ilmu. Dan sesuai dengan kadar turunya nilai ilmu di dalam hatinya, maka bagian ilmu dari seorang hamba pun akan turun."

Inilah yang keliru dari sebagian kita. Kita selama ini mempelajari ilmu agama berpatokan dengan saat kita belajar ilmu dunia: yang penting paham, mengerti, atau baca. Padahal, ilmu Allah adalah wahyu. Ilmu Allah itu pemberian. Maka, ketika Allah berbicara tentan para ulama, Allah selalu menggunakan kata اُوْتُوا الْعِلْمَ dalam sembilan ayat Al Qur'an. 

Usaha yang kita lakukan untuk meraih ilmu Allah tidak pernah sebanding dengan ilmu yang Allah berikan. Ilmu itu terlalu mahal jika dibandingkan dengan kerja keras kita. Maka, bukan hal yang mengherankan jika Allah hanya memberikan ilmu kepada orang-orang yang mau menjaganya.

Ibnu Ghanim, seorang imam bermadzhab Maliki (salah satu murid kesayangan Imam Malik) memiliki anak. Sang anak mengaji pada gurunya. Ketika anaknya pulang dari mengaji, Ibnu Ghanim mengetes bacaan anaknya dan anaknya membaca dengan sangat baik. Maka, Ibnu Ghanim memberikan 20 dinar kepada anaknya dan memerintahkannya untuk memberikan kepada gurunya.

Guru yang menerima pemberian itu pun terkejut dan mengira ada kesalahan. Gurunya pun mengembalikan pemberian itu. Tetapi, Ibnu Ghanim mengatakan, "Apakah ini terlalu sedikit?" Guru anaknya pun menjawab, "Tidak, saya pikir ada kesalahan." Ibnu Ghanim mengatakan, "Wahai guru anakku, satu huruf yang engkau ajarkan pada anakku itu harganya seperti kekayaan dunia dan seisinya."

Sungguh ilmu Allah itu mahal harganya dan usaha kita tidak akan pernah sebanding dengan ilmu yang Allah berikan pada kita.


 Referensi : 

You May Also Like

0 comments