Book Review: Grit

by - 5:24:00 PM


Sebagian besar orang gemar menyebut bakat dan kejeniusan sebagai kunci sukses dalam kehidupan. Bahkan, sebagian di antara mereka adalah orang tua kita sendiri.  Masih lekat dalam ingatan, nenek awesome writer sering meluncurkan petuah yang mengisyaratkan bahwa genius/ menjadi pintar merupakan titik sentral keberhasilan hidup dalam bidang apapun. 

Bahkan lebih dari itu, entah sadar ataukah tidak, kita kerap men-simplifikasi keberhasilan orang-orang dengan menandai mereka sebagai orang yang berbakat atau jenius. Padahal, apakah benar hanya sekadar berbakat dan jenius lantas seseorang bergaransi sukses? Memangnya kita tahu sudah berapa banyak hitungan jam yang telah dan terus mereka curahkan demi menyempurnakan keahlian mereka? 


Lalu coba kita renungkan, apakah benar orang yang tidak berbakat dan tidak jenius hanya akan terbuang?  Apakah mereka tidak berhak untuk menjadi orang yang sukses? Apakah benar mereka hanya akan ada di barisan paling burit di antara jajaran orang-orang "besar"? Angela Duckworth dalam bukunya ini berupaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Duckworth mendekonstruksi pemahaman kita yang selama ini terdistraksi oleh pandangan bahwa bakat dan kejeniusan merupakan pencetus kesuksesan. Ia kemudian mengajak kita untuk berpikir ulang bagaimana sebenarnya untuk meraih sukses dan kualitas apa yang seharusnya kita miliki.


Berdasarkan penelitian yang dinarasikan secara apik ini, Duckworth meyakinkan bahwa grit-lah yang justru menjadi tumpuan utama dalam meraih sukses. Mengapa demikian? Jawabannya karena di dalam grit (ketabahan) terkandung passion (gairah) dan persistence atau perseverance (kegigihan).

... passion is a compas ...
(Halaman 71)

Enthusiasm is common. Endurance is rare.
(Halaman 68)

Duckworth kemudian membagi bukunya dalam tiga babak besar. Babak besar pertama ia elaborasi menjadi lima bab. Babak besar kedua ia kembangkan menjadi empat bab. Selanjutnya, babak besar ketiga mirip seperti babak kedua diperinci dalam empat bab. 

Babak besar pertama bukunya banyak membahas tentang apa itu grit (ketabahan) dan mengapa hal itu begitu bernilai. Duckworth lantas menawarkan tabel perhitungan agar pembacanya bisa memperkirakan seberapa besar tingkat grit (ketabahan) mereka selama ini. Besaran ini pada dasarnya hanya sebagai sebuah gambaran. Gambaran yang pada ujung cerita bisa membuat kita bersyukur atau justru terus bersemangat agar tak lelah dalam "membangun" diri. 

Sementara itu, pada babak besar kedua dan ketiga, pembaca disuguhi pembahasan tentang bagaimana menumbuh kembangkan grit (ketabahan). Ketabahan menurutnya dapat dikembangkan dari inside out dan outside in. 

Menurut Duckwort menyemai ketabahan dari inside out terdiri dari empat hal, yakni interest (ketertarikan), practice (latihan), purpose (tujuan), dan hope (harapan). Pada pembasan ini, Duckworth banyak memberi penekanan pada deliberate practice (berlatih dengan sengaja) setiap hari. Hal ini sebagai bentuk konfigurasi nyata dari grit (ketabahan). Latihan yang dilakukan secara sengaja inilah yang kemudian memainkan peran besar dalam tumbuh kembang ketabahan.

... deliberate practice as significantly more effortful, and significantly less enjoyable ...
(Halaman 153)

"Dancing appears glamorous, easy delightful. But the path to the paradise of that achievement is not easier than any other. There is fatigue so great that the body cries even in its sleep."
(Martha Graham dalam Duckworth, 2019: 153)

Latihan yang dilakukan dengan sengaja setiap hari ini sungguh jauh dari kata mudah, kecuali mereka yang dirahmati dan ditolong oleh Allah. Apalagi jika apa yang kita perjuangkan adalah perkara yang mendekatkan diri kita pada Allah Subhanahu wa Ta'ala

Tetapi kabar baiknya, semakin besar ujian yang kita hadapi saat latihan, maka besaran kontribusi positif pada ketahanan kita dalam menghadapi ujian kehidupan yang lain juga akan semakin besar. Otak kita yang plastis cenderung lebih responsif pada hantaman ujian yang keras. Hantaman keras ini kemudian menyediakan pola bagi otak dan diri kita  sehingga kita menjadi orang yang lebih tegar, tabah, dan gigih di kemudian hari (Duckworth, 2019: 228-232).

Lebih dari itu, ketika kita akhirnya mampu mencapai tangga kemahiran setelah puluhan ribu jam melakukan deliberate practice yang menyakitkan, setelah berjuang mengenyampingkan hawa nafsu kita, maka di sanalah kita akan menemukan utter delight/ kebahagiaan penuh (Sadary dalam Attaining Excellence). 

Perenang berbahagia sebagaimana ketika ia berenang, pelari berbahagia sebagaimana ketika ia berlari, atau penghafal Al Qur'an yang berbahagia sebagaimana ketika mereka semakin dekat dengan ayat-ayat Rabbnya. Mereka mencintai apa yang mereka lakukan (perjuangkan). Perbaikan yang kita peroleh dari hari ke hari, walaupun sedikit, pada gilirannya menorehkan rahmat/ keberkahan. 

Sementara itu, menurut Duckworth untuk menyemai grit (ketabahan) dari outside in sangat dipengaruhi oleh faktor orang tua, teman, dan lingkungan kita. Walaupun, akan selalu ada pengecualian dalam setiap kasus. Ini karena tidak setiap teladan grit (ketabahan) selalu memiliki, misalnya, orang tua yang bijaksana yang mendorong mereka agar bermental juara. Tetapi, menurut awesome writer di sinilah bentuk rahmat Allah karena ini menandakan bahwa sebenarnya setiap orang berpotensi menjadi teladan grit (ketabahan).

Duckworth akhirnya memungkas bukunya dengan menawarkan diskusi menarik mengenai apakah hanya ketabahan saja yang menjadi pondasi kunci dalam kesuksesan? Apakah ada faktor lain yang bisa kita pertimbangkan?  Ia juga mendiskusikan tentang beberapa hal lain yang sering sekali ditanyakan padanya terkait Grit. 

Nature matters and so does nurture.
(Halaman 95)

Buku ini pada dasarnya awesome writer temukan, atau yang lebih tepat, Allah mempertemukan buku ini dengan awesome writer di kala diri ini sangat membutuhkan asupan motivasi intrinsik. Sehingga, awesome writer harus banyak bersyukur kepada Allah karena telah mempertemukan awesome writer dengan buku "yang baik". Semoga Allah memudahkan awesome writer untuk mengamalkan hal-hal baik di dalamnya terutama agar semakin bertakwa kepada Allah.

(Doa yang sama untuk kalian, awesome readers, 
dan seluruh kaum Muslimin. 
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala 
memudahkan kita untuk bertakwa kepada-Nya)

You May Also Like

0 comments